Jika di tahun 1996, hanya mendaur ulang 2,6% sisa makanannya, kini Korea Selatan justru mendaur ulang hampir 100% setiap tahun.
BARISAN.CO – Limbah makanan biodegradasi menyumbang 6% dari emisi gas rumah kaca global karena memancarkan metana, gas dengan efek pemanasan 20 kali lebih tinggi daripada karbon dioksida.
Mengatasi limbah makanan bukan hal mudah bagi para pembuat kebijakan. Diperkirakan, 1,3 miliar ton makanan terbuang sia-siap setiap tahun.
Menurut studi yang diterbitkan di Plos One, rata-rata orang membuang 527 kalori makanan setiap hari. Disebutkan, konsumen mulai membuang makanan ketika pengeluarannya mencapai US$6,70 per hari, yang menunjukkan bahwa orang di negara kaya cenderung membuang lebih banyak makanan.
Sementara, tradisi kuliner Korea Selatan mencakup berbagai jenis lauk yang disebut “banchan”, seperti kimchi, perkedel ikan, dan lain-lain. Ekspektasi budaya ini menyebabkan restoran membuat lebih banyak banchan dan berkontribusi terhadap 130kg limbah makanan per orang tiap tahunnya.
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, Korea Selatan merupakan negara yang sangat miskin, sehingga sangat sedikit makanan yang terbuang sia-sia. Namun, banyak hal berubah ketika urbanisasi meningkat dalam beberapa dekade berikutnya, membawa serta sistem pangan industri dan skala limbah baru.
Dimulai pada akhir 1990-an, ketika tempat pembuangan akhir di ibu kota yang padat mendekati batasnya, Korea Selatan menerapkan serangkaian kebijakan untuk meringankan apa yang dilihat sebagai krisis sampah.
Dilansir dari Earth.org, pemerintah Korea Selatan melarang penguburan sampah organik di tempat pembuangan akhir pada tahun 2005, diikuti oleh larangan lain terhadap pembuangan lindi – cairan busuk yang diperas dari limbah makanan padat – ke laut pada tahun 2013. Pengomposan tepi jalan universal dilaksanakan pada tahun yang sama, mengharuskan setiap orang untuk memisahkan makanan mereka dari limbah umum.
Kantong kuning Hwang akan dibawa ke pabrik pengolahan bersama ribuan lainnya, di mana plastik akan dikupas dan isinya didaur ulang menjadi biogas, pakan ternak atau pupuk.
Beberapa kotamadya telah memperkenalkan pengumpul limbah makanan otomatis di kompleks apartemen, yang memungkinkan penghuni melupakan tas dan menggesek kartu untuk membayar biaya berdasarkan berat di mesin secara langsung.
Jika pada tahun 1996, hanya mendaur ulang 2,6% sisa makanannya, kini Korea Selatan justru mendaur ulang hampir 100% setiap tahun.
Manfaatkan Limbah Makanan Jadi Kompos
Negara ini juga memanfaatkan teknologi untuk membantu daur ulang makanan. Di Seoul, ibu kota negara, terdapat 6.000 tempat sampah yang dilengkapi dengan timbangan dan Radio Frequency Identification (RFID), yang menimbang sampah makanan saat disimpan dan menagih penduduk menggunakan kartu identitas.
Menurut pejabat kota, mesin tersebut telah mengurangi limbah makanan di kota sebesar 47.000 ton dalam enam tahun. Limbah yang dikumpulkan melalui skema diperas di pabrik pengolahan untuk menghilangkan kelembapan, yang digunakan untuk membuat biogas dan bio oil. Limbah kering diubah menjadi pupuk yang membantu menumbuhkan industri pertanian perkotaan di negara ini.
Pemerintah pusat dan kota di Korea Selatan juga secara aktif berinvestasi dalam program pertanian perkotaan, yang meliputi kursus pengomposan dan hibah proyek.
“Saya rasa warga yang peduli membuat kompos limbah makanan mereka sendiri dapat menjadi kontribusi penting untuk resirkulasi sumber daya,” kata Kwon Jung-won, seorang pensiunan berusia 63 tahun yang baru-baru ini dipekerjakan paruh waktu oleh pemerintah kota Seoul sebagai konsultan pupuk setelah menyelesaikan kursus akreditasi pengomposan.
Didanai sebagian oleh hibah, Kwon saat ini mengajar anggota jaringan pertanian perkotaan Geumcheon-gu cara membuat kompos limbah makanan sehari-hari menjadi pupuk.
“Melakukan ini di pertanian skala besar akan membuat perbedaan besar secara lingkungan, dan saya melihat proyek ini sebagai percontohan untuk itu,” katanya.
Jumlah pertanian perkotaan atau kebun masyarakat di ibu kota telah meningkat enam kali lipat dalam tujuh tahun terakhir, sekarang berjumlah lebih dari 170 hektar (meskipun ini adalah angka tahun 2019, angka saat ini mungkin jauh lebih tinggi). Pemerintah kota menyediakan antara 80% dan 100% dari biaya awal, dan sekarang memiliki rencana untuk memasang komposter limbah makanan untuk mendukung pertanian perkotaan.
Walaupun perkembangan ini sangat positif, beberapa orang menyebut, Korea Selatan perlu mengatasi akar masalahnya dan mengubah kebiasaan makannya untuk mengurangi jumlah limbah makanan yang dihasilkannya.
Kim Mi-hwa, ketua Jaringan Gerakan Tanpa Sampah Korea, mengatakan, “Ada batasan berapa banyak pupuk sisa makanan yang dapat digunakan. Artinya harus ada perubahan kebiasaan makan kita, seperti beralih ke budaya kuliner satu piring seperti negara lain, atau setidaknya mengurangi jumlah banchan yang kita keluarkan.”
