Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa Bashirah itu bukan untuk melihat hal-hal di luar diri. Namun untuk melihat kebenaran hakikat
BARISAN.CO – Manusia dianugerahi tiga bagian penting dalam kajian filsafat yakni akal, indera dan hati. Ketiganya saling mempengaruhi, namun dalam konteks spiritual hati menjadi titik yang menentukan. Hati dalam konteks ini diterjemahkan dengan kata bashirah atau mata hati.
Jadi cara manusia atau seorang hamba memandang bukan sekadar indera berupa mata akan tetapi juga pada mata hatinya. Sebab banyak dari para hamba gagal melakukan pendekatan diri kepada Allah Swt karena mata hatinya tertutup.
Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam surah Al-Isra ayat 72:
وَمَن كَانَ فِى هَٰذِهِۦٓ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Isra: 72).
Ayat diatas menjelaskan makna dari mata hati atau bashirah, bahwanya ketika seorang hamba hatinya buta di dunia, maka ia akan mengalami ketersesatan.
Sebab di dunia ia hanya memandang isi tanpa mentafakuri, mensyukuri dan tidak tahu bahwa apa yang ada di dunia merupakan karunia Allah Swt.
Dari penjelasan di atas arti kata bashirah adalah mata hati. Begitu juga Syekh Abdul Qodir Jaelani mengartikan bashirah sebagai mata hati atau ruh, sebagaimana yang diterangkan dalam kitabnya Sirr Al-Azhar Fi Mayahtaj Ilayah Al-Abrar.
Menurut Syekh Abdul Qodir Jaelani seorang hamba yang terbuka mata hatinya ia akan dekat dengan penghambaan kepada Allah Swt. sehingga ia kuat bertaqarub kepada Allah Swt.
Pembahasan tentang mata hati juga dikaji Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam tentang tanda butanya mata hati. Sebagaimana ia menyebutkan dalam maqolahnya yang berbunyi:
اِجْتِهادُكَ فيمَا ضُمنَ لكَ وتقـْصِيرُكَ فيماَ طُلبَ منكَ دَلِيلٌ على انطِماسِ البَصِيْرَةِ منكَ
“Kesungguhanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijamin pasti akan sampai kepadamu, di samping kelalaianmu terhadap kewajiban yang di amanatkan kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu (bashirah).”
Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa Bashirah itu bukan untuk melihat hal-hal di luar diri. Namun untuk melihat kebenaran hakikat. Bashirah adalah untuk melihat al-Haqq yakni Allah Swt. Allah Swt berfirman:
سَنُرِيهِمْ ءَايَٰتِنَا فِى ٱلْءَافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tidakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat: 53).
Sementara itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Kitab Daar as-Sa’adah membagi bashirah manusia menjadi tiga bagian yakni, Pertama orang yang tidak memiliki bashirah iman sama sekali. Dia hanya melihat kegelapan, guntur, dan kilat.
Dia meletakkan dua jarinya di telinganya karena takut kepada suara petir, dan meletakkan tangan di matanya karena takut melihat kilat, khawatir akan membutakan mata. Pandangannya tidak menjangkau apa yang ada di balik itu semua, seperti rahmat dan sebab-sebab kehidupan yang abadi.
Orang seperti kelompok pertama ini adalah orang yang menutup mata terhadap agama. Dia tidak menerima agama Allah Swt yang diturunkan untuk hamba-hamba-Nya meskipun dia telah menyaksikan semua ayat-Nya. Itu karena ia termasuk orang yang telah diputuskan agar sengsara dan celaka.
Faedah peringatan (indzaar) bagi orang seperti ini adalah mendirikan hujah atas dirinya, agar dia disiksa dengan dosanya sendiri, bukan semata[1]mata dengan pengetahuan Allah Swt bahwa dia memang harus menerima siksa.
Kedua, para pemilik bashirah yang lemah, yang pandangan mereka kepada cahaya ini seperti pandangan kelelawar ke bola matahari. Mereka mengikuti nenek moyang mereka. Agamanya adalah agama adat dan lingkungan tempat mereka berada.
Mereka inilah yang dimaksud oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dengan ucapannya, “Atau orang yang tunduk kepada kebenaran, tapi tidak punya bashirah untuk memilih kebenaran itu.”
Jika mereka ini tunduk kepada para pemilik bashirah tanpa ragu sama sekali, maka mereka ada di jalan keselamatan.
Ketiga, intisari alam, manusia istimewa. Mereka adalah para pemilik bashirah tajam yang menyaksikan nur (cahaya) yang terang ini. Mereka punya keyakinan dan bashirah terhadap keindahan dan kesempurnaan nur ini.
Seandainya lawan dari nur ini dipaparkan ke akal mereka, pasti mereka melihatnya seperti malam yang gelap gulita, hitam. Inilah inti perbedaan antara mereka dengan kelompok sebelumnya. Orang-orang (dari golongan kedua) itu mengikuti orang yang memimpin dan menemani mereka saja.
Seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Mereka mengikuti setiap suara panggilan, menuruti semua teriakan orang. Mereka tidak bersuluh dengan cahaya ilmu, dan tidak bersandar ke tiang yang kokoh.”
Ini tanda orang yang tidak punya bashirah. Adapun orang dari kelompok ketiga ini, amal mereka berlandaskan bashirah.
Dengan perbedaan bashirah itulah kemuliaan mereka bertingkat-tingkat, seperti kata seorang salaf ketika menyinggung generasi silam, “Itu hanya karena mereka beramal dengan dasar bashirah.”
Seseorang tidak pernah mendapat karunia lebih afdhal dari bashirah (pengetahuan yang dalam) tentang agama Allah Swt, meski dia beramal sekedarnya.
Orang yang paling alim (berilmu) adalah yang paling tahu tentang kebenaran ketika orang-orang lain berbeda pendapat, meski amalannya sederhana saja.
Masing[-masing dari ketiga kelompok ini punya bagian-bagian lagi yang hanya Allah Swt yang dapat menghitung kadar derajat perbedaannya. [Lukni]








