Kecintaanmu kepada sesuatu akan membuatmu buta dan tuli. (Syekh Abdul Qodir Jaelani)
BARISAN.CO – Nasehat Syekh Abdul Qodir Jaelani adalah kata-kata bijak yang berisi pesan yang penuh hikmah dan makna.
Salah satu kitab yang berisi nasehat Syekh Abdul Qodir Jaelani yang dapat dijadikan pedoman para murid dan guru adalah kitab Al-Tashawwuf dalam Al-Gunyah Lithalibi Thariq Al-Haqq. Namun untuk mempelajari kitab ini perlu bimbingan kepada ahlinya yang benar-benar memahami ilmu tasawuf.
Sebab dalam kitab ini tidak hanya berisi ajaran ilmu tasawuf saja melainkan juga, ilmu akidah dan fikih.
Namun berikut ini merupakan pesan, kata mutiara atau nasehat Syekh Abdul Qodir Jaelani yang diambil dari kitab Al-Gunyah tersebut agar menjadi motivasi untuk menjalani hidup menjadi lebih baik. Berikut ini kata-kata Syekh Abdul Qodir Jaelani:
1. Jika aku sudah mencintainya, aku akan menjadi pendengarnya, penglihatannya, lisannya, tangannya, kakikinya, dan hati atau pikiran-Nya. Sehingga dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku ia berbicara, dengan-Ku ia berpikir, dan dengan-Ku ia memukul. (Hadis Qudsi).
2. Kecintaanmu kepada sesuatu akan membuatmu buta dan tuli.
3. Seorang murid harus memegang teguh kitab Allah dan Sunnah, menjalankan secara utuh yang pokok maupun cabang, menjadikan keduannya sebagai dua sayap untuk terbang menuju Allah Swt.
4. Seorang murid mesti rida dengan kehinaan, kepapaan, kelaparan, bahkan rela dicaci oleh manusia. Bersikap mendahulukan orang lain di atas kepentingan sendiri. Selain itu, seorang murid harus mendekati para Syekh dan mengikuti majelis pengajian para ulama.
5. Murid tidak boleh menentang guru secara lahir atau memprotesnya dalam batin. Barangsiapa yang membangkang secara lahir, berarti ia kurang ajar.
6. Seorang murid harus bertekad untuk mengikuti dan menyetujui seorang Syekh, menjadikannya sebagai wasilan untuk sampai kepada Allah Swt. Sebagaimana halnya seorang yang ingin menghadap Raja yang tidak mengenalnya sama sekali, mau tidak mau ia harus menemui pengawalnya atau orang-orang terdekat raja.
7. Seorang murid pencari Allah Swt tidak seyogianya memisahkan diri dari seorang Syekh sampai ia benar-benar mampu mencapai Tuhan tanpa bimbingan lagi.
8. Kewajiban pertama guru adalah menerima murid karena Allah Swt, bukan untuk kepentingan sendiri.
9. Pantang bagi seorang guru mengambil keuntungan materiil maupun jasa pelayanan dari muridnya dalam kondisi apapun.
10. Seorang guru jika melihat muridnya melakukan tindakan yang tidak disukai bahkan dilarang syariat maka harus menasihatinya secara personal (rahasia) dan mendidiknya, sembari mengingatkan agar tidak menulangi perbuatan tersebut.
11. Seorang murid seyigianya bersikap mendahulukan kepentingan teman di atas kepentingan dirinya Futuwwah (kesatria), toleran (memaafkan kesalahan mereka) dna menjalankan prinsip pelayanan bersama mereka tanpa melihat ada hak bagi dirinya atas seorangpun sehingga tidak menuntuk hak kepadanya.
12. Di hadapan orang-orang kaya, seorang murid mesti menjadi harga diri dan tidak tamak terhadap mereka.
13. Terhadap fakir miskin, seorang murid mesti bersikap mementingkan orang lain di atas kepentingan diri sendiri dalam hal makanan, minuman, pakaian, kenikmatan duniawai, dan segala hal yang berharga sembari memandang dirimu di bawah mereka dan tidak memandang diri lebih utama sedikitpun di atas meraka.
14. Siksaan terberat seseorang sesungguhnya adalah mengejar sesuatu yang bukan bagiannya.
15. Tidak bersedih memikirkan rezeki untuk esok hari.
16. Seorang murid seyogianya bergaul secara baik dengan sesamanya dengan menampilkan wajah ceria.
17. Ketika tertimpa ujian dan kesulitan ekonomi, ia seyogianya menutupi kodisi dirinya dari rekan-rekannya sebisa mungkin agar tidak mengusik hati mereka hingga terbebani karenanya.
18. Tidak makan dengan rakus dan lalai hati, tetapi harus mengingat Allah Swt di dalam hati dan tidak melupakan-Nya ketika sedang melahap makanan.
19. Pantang bagi seorang murid menyimpan dan menimbun makanan atau barang apapun untuk dirinya sendiri.
20. Terhadap anak dan istri, seorang murid mesti berlaku baik, dan menafkahi mereka secara baik dengan kemampuan yang dimilikinya.
21. Seorang murid hendaknya memiliki kekuatan untuk bertawakal dan bersabar menahan derita kesusahan, kekurangan, lapar dan kesengsaraan.
22. Jika ia ingin keluarganya rajin beribadah, berkelakuan baik dan taat kepada Allah Swt. Maka ia harus berkerja secara halal dan memberi makan mereka dengan yang halal dan mubar agar membuahkan ketaatan dan kesalehan.
23. Ketika berpergian seorang mukmin pada hakikatnya adalah meninggalkan sifat-sifatnya yang tercela menuju sifat-sifat yang terpuji.
24. Laku sufistik dibangun di atas tiga prinsip: tiak makan kecuali saat lapar,tidak tidur kecuali saat mengantuk, dan tidak berbicara kecuali saat diperlukan. (Al-Hasan al-Qazzaz).
25. Syukur adalah tidak bermaksiat kepada Allah Swt dengan segala nikmat yang telah dia berikan.
26. Nabi Dawud as bermunajat, “Tuhanku, bagaimana aku bisa bersyukur kepada-Mu sementara syukurku kepada-Mu adalah satu di antara nikmat-nikmat-Mu?” Allah pun mewahyukan kepadanya, “Sekarang, kau telah benar-benar bersyukur kepada-Ku.” []









