Scroll untuk baca artikel
Sastra

Bukan Dongeng Si Cantik dan Si Buruk Rupa – Puisi Said Kusuma

Redaksi
×

Bukan Dongeng Si Cantik dan Si Buruk Rupa – Puisi Said Kusuma

Sebarkan artikel ini
bukan dongeng si cantik
Ilustrasi

BUKAN DONGENG SI CANTIK DAN SI BURUH RUPA

|1|
di tepian kali yang airnya segelap pupil mata para kandidat raja negeri ini saat menuang janji, aroma kekumuhan ibukota kuisap dalam-dalam bersama lintingan tembakau. nenek berbaju lusuh yang sedang mengorek hasil memulung seharian itu menatap kalung emas dan bibir berlipstikmu dengan tatapan seorang proletar kepada borjuis di zaman Louis IV. sebaiknya kautinggalkan tempat yang tak mengenali keanggunanmu ini. biarkan aku sendiri bersemadi merawat lelah sebelum matahari esok mendentangkan lonceng untuk kembali membanting tulang sepanjang hari.

semakin kutolak, semakin gigih pula kaujelaskan bahwa cinta adalah makhluk tanpa penglihatan, dan betapa pintu modernisasi telah membuka hak seorang wanita sepertimu untuk memilih sendiri suaminya. entah dengan cara apa membujuk matamu, untuk memandang lebih tajam ke masa yang masih jauh. bahkan tanpa teleskop pun seharusnya akan mudah kautemukan bahwa di ujung sana, bentuk nasibku tak berkarib dengan estetika.

tubuhmu yang harum oleh Baccarat Les Larmes Sacree de Thebes, sudah mulai tercemar oleh wangi keringatku yang diramu dari partikel debu mesin pabrik, asap knalpot motor cicilan, dan bau mulut yang melantangkan tuntutan kesejahteraan saat berdemo. ah, ditambah juga aroma kesengsaraan.

jembatan usang yang dimurali oleh stiker dan poster partai yang (katanya) mendukung kaum buruh itu, masih kokoh jadi anjungan tempat orang-orang meludah dan pipis di kali. menurut undang-undang yang kusahkan sendiri sejak hari pertama bekerja, jembatan itu bernama UMR. dan yang mengalir tersendat di bawahnya adalah gajiku.

setiap kali kautegaskan tak peduli meski kita berdua punya kesenjangan angka penghasilan profesi sejauh saturnus dan bumi, seketika itu pula sesosok monster bernama Kenyataan menghunus belati dan menghunjami harga diri ini … berkali-kali, hingga jadi cacahan renik yang kutaburkan sebagai konfeti pada pesta tahunan setiap tanggal 1 Mei.

|2|
kecemasan berdering seperti jeritan alarm korslet. mengingatkan segera tiba waktunya hukuman rutin dari aparat untuk ditimpakan kepada makhluk sepertiku. kau bergegas memasuki kobaran kepalaku, menyederhanakan pemadaman di sana serupa menuang isi secangkir kopi ke atas granat usai tuas detonatornya tercabut.

hanya karena aku seorang lelaki, lantas kaubilang aku tak mungkin di-Marsinah-kan. cuma tersebab tak mampu membeli tiket pesawat, kaujamin aku takkan diracun di udara. dan gara-gara penaku tak cukup tajam untuk menorehkan puisi-puisi rebellion, sangkamu aku bebas dari resiko disirnakan.

padahal kautahu nasib orang-orang yang menyalakan sila padi dan kapas, kerap ditemukan tubuhnya dalam sunyi nadi dan henti napas (itupun jika beruntung menemukan tubuhnya).

sudah tiba malam. air kali kian anyir dan kelam. cinta lelahmu butuh istirahat, tak perlu dilanjutkan. tak mampu juga kujawab, apakah menolakmu karena enggan berbagi masa depan, atau karena memang aku anti terhadap hak kepemilikan atas individu. mungkin juga paranoidku mengira rumah tangga seorang buruh kelak diatur pula oleh pasal-pasal omnibus law.

kutuliskan tamat dengan cetakan paling tebal pada halaman akhir kisah, di mana kaukira kutukan bisa patah oleh bait-bait cinta belaka.

–Jakarta 23052025

SUARA 1998

pagi-pagi
angka 14 di bulan Mei mengabari
; nanti kita pesta

siangnya
matahari naik untuk menyimak
bunyi kaca-kaca etalase toko
dipecahkan makhluk-makhluk klepto

petang berapi-api
orang berebut jatah
berebut menjarah
: barang dagangan
juga tubuh
dan jiwa

senja
mencurahkan tangis langit
memadamkan bara
akankah sucikan dosa?

–Jakarta 25052025


HARI NASIONAL

kalender mengajariku
2 Mei terlebih dulu
baru 20 Mei

sejarah memaparkan
lahir Suwardi Suryaningrat
sebelum berdiri Boedi Oetomo

hardiknas sebelum harkitnas
terdidik dahulu sebelum menggeliat bangkit

di negeri emas
anak bangsa enggan terdidik, lebih
memilih bertanah-tanah mengeruk bumi
alih-alih berlangit-langit bangkit

mungkin perlu ditambahkan harditnas
untuk mengaudit bandit-bandit nasional

atau diwajibkan hartiknas
lomba memenggal para tikus nasional dalam sehari
lalu mengirimkannya ke kantor juru warta
sepaket dengan kepala babi

–Jakarta 25052025

MENDIDIK BELAKA SEBELUM MENDADAK CELAKA

seorang pendidik yang tercebur ke dalam sumur pengetahuan. timbul tenggelam meneriaki sang murid yang selama ini dititahnya untuk menimba ilmu, tapi lupa diajari ilmu menimba.
–Jakarta 27052025


RAPOR

bulan kelima di tahun 2025
masih kuhitung rapor anakku
mana yang terbanyak di antara
nilai mengesankan dan
nilai mengenaskan

banyak PR belum dikerjakan
belum lulus pula mata pelajaran HAM
cuma ada prakarya makan siang gratis
yang gizinya tragis

gurunya menegurku
: anak anda perlu peningkatan
kubela bahwa anakku sudah meningkatkan
nilai PPN dari 11% ke 12%

realisasikan segera hilirisasi! bentaknya
kutertawakan sang guru yang mungkin lupa
anak yang rajin bermimpi
tak diwajibkan bangun terlalu pagi

–Jakarta 28052025

Said Kusuma, seorang pecinta sekaligus praktisi seni. Dapat dijumpai karya-karyanya di beberapa media online, juga di akun instagram @said_serigalla dan @gelometris. Bergabung di Competer Indonesia, AIS, Kelas Puisi Bekasi, HUMA & Ruang Kata.Email: kusumasuryow@gmail.com, WA : 081586400166.