Scroll untuk baca artikel
Ragam

Rahasia Huruf Ba menurut Ibnu Arabi, Antara Titik Awal Wujud, Ubudiyah, dan Kosmologi Huruf

×

Rahasia Huruf Ba menurut Ibnu Arabi, Antara Titik Awal Wujud, Ubudiyah, dan Kosmologi Huruf

Sebarkan artikel ini
rahasia huruf ba
Ilustrasi

Satu huruf mengandung seluruh wujud. Dalam pandangan Ibnu ‘Arabi, rahasia huruf Ba adalah pintu awal tajalli dan alam semesta.

BARISAN.CO – Khazanah tasawuf falsafi, huruf-huruf hijaiyah tidak dipahami sekadar sebagai alat bunyi atau sarana bahasa, melainkan sebagai peta kosmik yang menyimpan rahasia penciptaan. Setiap huruf memiliki posisi, fungsi, dan makna metafisiknya masing-masing.

Di antara seluruh huruf itu, huruf Ba (ب) menempati kedudukan yang sangat istimewa. Bagi Muhyiddin Ibnu Arabi, Ba adalah gerbang pertama turunnya makna Ilahi ke alam wujud, titik awal ketika rahasia Tuhan mulai menampakkan diri dalam bentuk yang dapat diterima oleh makhluk.

Para arif sering mengungkapkan bahwa seluruh Al-Qur’an terhimpun dalam Basmalah, dan seluruh Basmalah itu sendiri seakan terkonsentrasi dalam satu huruf: Ba.

Ungkapan ini bukan sekadar pujian simbolik, melainkan kesimpulan dari cara pandang kosmologis Ibnu ‘Arabi terhadap bahasa wahyu. Huruf Ba menjadi permulaan, bukan hanya dalam bacaan, tetapi dalam struktur keberadaan.

Dalam karya monumentalnya, Al-Futūḥāt al-Makkiyyah, Ibnu ‘Arabi menjelaskan bahwa huruf Ba adalah huruf pertama yang menampakkan diri dalam wujud.

Bukan pertama secara urutan alfabet, melainkan pertama secara ontologis, yakni dalam tatanan keberadaan. Ba adalah bentuk awal yang sanggup menerima makna. Ia menulis:

الباءُ أوّلُ حرفٍ ظهرَ في الوجود، وهو محلُّ القبول، بهِ ظهرَ التفصيل بعدَ الإجمال

Huruf Ba adalah huruf pertama yang menampakkan diri dalam wujud. Ia adalah tempat penerimaan, dengannya terjadilah perincian setelah sebelumnya bersifat global.”

Penjelasan ini mengisyaratkan bahwa sebelum Ba, makna masih berada dalam keadaan ijmāl, menyeluruh, padat, dan belum terurai.

Kehadiran Ba memungkinkan makna itu turun ke tingkat yang lebih terperinci, dapat dikenali, dan akhirnya dapat dipahami oleh makhluk.

Namun rahasia terbesar huruf Ba, menurut Ibnu Arabi, justru terletak pada titik (nuqṭah) di bawahnya. Titik ini bukan hiasan atau tanda teknis, melainkan asal-usul seluruh huruf. Ia menegaskan hal ini dengan sangat jelas:

النقطةُ أصلُ الحروف، ومنها تفرّعت، وهي حقيقةٌ واحدةٌ قبلَ الكثرة

Titik adalah asal seluruh huruf. Darinya huruf-huruf bercabang, dan ia adalah satu hakikat sebelum adanya keragaman.”

Dalam kerangka pemikiran Ibnu Arabi, titik ini sering dipahami sebagai realitas tunggal sebelum diferensiasi, hakikat pertama sebelum segala bentuk dan nama.

Dari titik itulah huruf-huruf lahir, dan dari huruf-huruf itulah seluruh makna tersusun. Di sinilah ungkapan terkenal Imam Ali ra., “Aku adalah titik di bawah huruf Ba,” memperoleh kedalaman makna metafisiknya.

Bagi Ibnu ‘Arabi, ungkapan tersebut bukan klaim personal, melainkan isyarat tentang maqam insan kamil, manusia sempurna yang menjaga rahasia asal-usul wujud.

Selain sebagai simbol kosmologi, huruf Ba juga mengandung pesan etis dan spiritual yang mendalam. Secara bentuk, Ba terbuka ke bawah, seolah menunduk dan menerima.

Ibnu ‘Arabi membaca bentuk ini sebagai simbol ubūdiyyah, penghambaan murni. Ba tidak berdiri tegak seperti Alif, tidak menghadap ke atas, melainkan membuka diri untuk menerima. Ia menjelaskan:

الباءُ خُلِقَتْ للعبودية، لأنها قابلةٌ لا فاعلة، ومحلٌّ لا مصدر

Huruf Ba diciptakan untuk melambangkan penghambaan, karena ia bersifat menerima, bukan memberi; ia wadah, bukan sumber.

Dari sini, Ibnu Arabi seakan mengajarkan bahwa perjalanan spiritual manusia harus dimulai dari Ba. Dari sikap tunduk, kosong dari klaim, dan kesiapan menerima limpahan makna Ilahi.

Tanpa kerendahan Ba, makna setinggi apa pun tidak akan pernah menetap. Dalam huruf kecil ini, Ibnu ‘Arabi memperlihatkan bahwa awal segala rahasia bukanlah keagungan lahir, melainkan kepasrahan yang sunyi.

Huruf Ba sebagai Gerbang Tajalli Wujud dan Rahasia Basmalah

Dikutip dari Kitab Khansha’ish wa Asrar wa Tafsir Bismillahir Rahmanir Rahim karya Dr. Asy-Syaikh Muhammad Huwaidi.

Menurut Muhyiddin Ibnu Arabî, wujud muncul dari bâ’ bismillâhirrahmânirrahîm, dan dengan titik di bawah huruf bâ’ hamba terbedakan dari yang disembah.

Al-‘ârif billâh as-Sayyid Mushthafâ al-Khumainî mengomentari ungkapan Ibn al-‘Arabî, “Bisa jadi bâ’ mengarahkan pandangan pada pemahaman bahwa cara turun wujud tidak seperti cara turunnya segala sesuatu, melainkan seperti turunnya cahaya dari matahari dalam bayangan.

Tempat pertama dari cahaya yang memancar adalah sempurnanya cahaya yang awal dan yang terakhir memancar. Jika muncul cahaya yang pertama, sah untuk dikatakan, ‘dengan cahaya pertama tampaklah semua wujud dan cahaya, secara keseluruhan, karena terkandungnya segala yang selain cahaya di dalam cahaya.’”

Jika al-Haqq berfirman di dalam penciptaan langit, bumi, alam rendah maupun alam luhur, mestilah Dia berfirman dengan nama-Nya yang mulia, sebagaimana yang Dia perintahkan kepada hamba-hamba-Nya.

Maka, dengan hanya berfirman saja, tiada tersisa wujud yang muncul belakangan. Bahkan semua yang datang belakangan itu sudah wujud dengan awal kemunculan dan awal tajallî.

Yaitu tajallî yang pada firman-Nya—yang terdengar dan terbaca itu muncul bâ’. Maka huruf bâ’, di dalam kalam nafsî, dzihnî, dan ‘aqlî—sesuai keragaman ufuk maujud yang pertengahan, seperti Jibril dan lainnya adalah bâ’ di dalam Dzat yang ber-tajallî.

Dengan komentar ini Sayyid Mushthafâ al-Khumainî hendak menjelaskan kepada pembaca tentang keabsahan ungkapan, “Dengan bâ’ wujud muncul.”

Dan beliau telah menjelaskan masalah ini dengan ungkapan irfânî dan filosofis yang bisa dipahami oleh orang-orang khusus.

Komentar beliau berkisar tentang ungkapan Ibnu Arabi. Simpulannya, semua wujud, termasuk manusia, terhimpun di bawah huruf bâ’ basmalah.

Inilah yang telah kami coba uraikan di awal paragraf, ketika kami mengemukakan bahwa bâ’ basmalah merupakan ikhtisar semua maujud yang telah diciptakan Allah Ta‘âlâ dengan nama-Nya yang paling agung.

Dari sini kita memahami ungkapan al-Imam Ali a.s., “Akulah titik di bawah huruf bâ’ itu.”

Uraian tersebut juga membuat kita bisa memahami kata-kata ahli makrifat seputar huruf bâ’ dan ungkapan istimewa mereka yang mengatakan bahwa mereka menyaksikan wujud di bawah huruf bâ’ basmalah.

Setelah semua uraian di atas, kita sampai pada pemahaman bahwa di dalam bâ’ basmalah ada kuasa Allah, kreasi dan rahasia-rahasia Allah, ada keabadian dan kekekalan-Nya, ada rahmat-Nya yang tidak terbatas bagi hamba-hamba-Nya.

Di dalam bâ’ basmalah tersimpul kenyataan bahwa segala sesuatu bermula dan berakhir pada-Nya. Inilah yang bisa kita pahami dari kata-kata al-Imâm ‘Alî a.s., “Semua yang ada di dalam bismillâhirrahmânirrahîm terhimpun di dalam huruf bâ’.” Wallâhu a‘lam. []