Manusia terlahir merdeka, tetapi sering menjadi budak nafsunya sendiri, Ramadhan mengajarkan kita kembali menjadi tuan.
Oleh: Imam Trikarsohadi
SECARA fisik dan martabat, tidak ada manusia yang sudi diperbudak, karena itu bertentangan dengan sifat dasar manusia yang merdeka. Namun, manusia seringkali tanpa sadar menjadi “budak” dari keinginan atau nafsunya sendiri.
Terkait hal ini, Imam Ghazali pernah berpesan bahwa nafsu bisa membuat seorang raja menjadi budak, sementara sabar bisa membuat budak menjadi raja.
Agar tidak menjadi budak nafsu, ambisi atau syahwat, diperlukan kemampuan jurus pamungkas berupa pengendalian diri.
Lantas dengan cara apa agar kemampun pengendalian diri terlatih dan teruji? Jawabnya; puasa ramadhan. Apa sebab? karena puasa mengajarkan kontrol atas keinginan jasmani dan nafsu duniawi.
Ini melatih manusia menjadi “tuan” atas nafsunya sendiri maupun nafsu akibat pengaruh eksternal, sehingga tidak jadi budak keinginan.
Pengendalian adalah seni mengelola emosi dan reaksi terhadap situasi eksternal, berfokus hanya pada hal-hal yang berada di bawah kendali penuh diri sendiri dalam bentuk pikiran dan tindakan.
Ini menciptakan ataraxia (ketenangan batin) dengan menerima hal-hal di luar kendali dan bertindak rasional berdasarkan kebajikan.
Prinsip utama pengendalian diri antara lain adalah dikotomi kendali berupa membedakan antara hal yang bisa dikendalikan seperti pikiran, persepsi, dan tindakan sendiri dengan yang tidak bisa dikendalikan berupa opini orang lain, cuaca, masa lalu, dan hasil akhir.
Prinsip berikutnya adalah fokus pada respons, bukan situasi: bahwa bukan peristiwa eksternal yang merusak, melainkan penilaian kita terhadap peristiwa tersebut. Maka, kita harus berkuasa untuk mengubah penilaian tersebut.
Pengendalian diri juga dapat dioptimalkan jika kita hidup rasional dan berbudi luhur. Sebab itu penggunaan akal budi mesti dikedepakan untuk mengatasi emosi negatif seperti;kemarahan, rasa takut, serta keinginan berlebih.
Pengendalian diri juga memerlukan “amor fati”, yakni ; menerima segala kejadian dengan lapang dada dan menjadikannya sebagai kesempatan untuk belajar.
Adapun cara menerapkan pengendalian diri dapat melalui refleksi diri, yakni menyadari pemicu emosi dan tidak langsung bereaksi (pause sejenak).
Selanjutnya adalah dengan mempersiapkan mental untuk skenario terburuk guna mengurangi rasa takut.
Yang tak kalah penting adalah melakukan evaluasi objektif, dimana melihat masalah apa adanya, bukan dari sudut pandang emosional.
Lantas dengan cara apa agar diri terlatih dalam pengendalian? Jawabnya; puasa ramadhan dengan penuh kesadaran dan kesungguhan.
Dengan demikian akan diperoleh hikmah ihwal menguasai diri agar tidak lagi diperbudak oleh emosi internal maupun situasi eksternal, yang berujung pada kehidupan yang lebih damai dan bijaksana.
Dengan demikian, Ramadhan adalah ajang recharging spiritual dan perubahan karakter menuju manusia yang lebih baik. []









