Scroll untuk baca artikel
Kolom

Menelisik Langit

Redaksi
×

Menelisik Langit

Sebarkan artikel ini
Hidup Sonder Validasi

Di keheningan malam Ramadhan, menatap langit bukan sekadar melihat bintang, tetapi merenungi kebesaran Allah dan kerendahan manusia di hadapan-Nya.

Oleh: Imam Trikarsohadi

DI malam – malam ramadhan, ada sebagian orang yang mempersingkat waktu tidur dan mempergunakan nya untuk pelbagai ibadah sesuai sabda.

Jika cuacanya bagus dan cerah, tentu ada pula yang menikmati gelapnya malam sambil menatap langit dengan mulut komat – kamit ; berdzikir.

Saya termasuk yang gemar menatap langit di malam hari dengan segala tanya, ketakjuban, dan isi kepala yang tak mau diam.

Suatu kali, saat menatap langit, terjadi dialog dengan diri sendiri ihwal langit dalam persepsi kehidupan manusia di bumi.

Sebab, pada realitasnya, ada begitu banyak orang yang ingin hidupnya setinggi langit, padahal langit tak bersertifikat atau hak guna bangunan atas nama makhluk manapun.

Langit hanya bisa dilewati. Manusia boleh naik dan terbang sejauh yang bisa ia lakukan. Tetapi langit tak akan berubah menjadi milik manusia. Karena itu, orang yang benar-benar tinggi, tak sibuk dan heboh meninggikan diri.

Ia hanya memperluas pandangan. Ia menyadari bahwa setiap langkah yang naik, bukan sebab dirinya kuat dan hebat, tapi ada Gusti Allah yang mengijinkannya naik.

Orang yang demikian, ketika mimpinya menjulang, hatinya justru kian tenang, tidak sombong dan tidak merasa paling tinggi.

Karena ia memahami bahwa langit adalah tempat kita menggantungkan mimpi, dan bumi merupakan tempat belajar kita menjadi manusia sesuai sabda.

Dan diantara keduanya, ada Gusti Allah yang menentukan dan menetapkan ; sejauhmana kita boleh terbang.

Pada akhirnya, yang benar – benar mulia bukanlah yang terbang paling tinggi, melainkan yang tetap rendah hati, meski telah melihat dunia dari ketinggian.

Apa sebab? karena langit adalah simbol keagungan Allah SWT, bukti keesaan-Nya, serta pengingat akan kerendahan manusia di hadapan Pencipta.

Langit, yang diciptakan tujuh lapis, melambangkan keteraturan, perlindungan, dan keluasan kekuasaan-Nya, sekaligus mengajak manusia untuk bertafakkur agar mendekatkan diri kepada-Nya.

Langit adalah makhluk ciptaan Allah yang paling menakjubkan, menunjukkan keindahan, keserasian, dan kekokohan tanpa tiang.Ia juga melambangkan perjalanan ruhani menuju tingkat kesadaran tertinggi, kesucian hati, dan kerendahan diri, terutama melalui peristiwa Isra’ Mi’raj.

Jika diresapi dalam – dalam, langit adalah sumber hikmah dan ketenangan. Memandang langit dapat menenangkan jiwa, mengurangi sedih, menghilangkan prasangka buruk, serta memancarkan pengagungan kepada Allah di dalam hati.

Dan seperti yang kita yakini bersama, langit adalah arah datangnya rahmat dan tempat tinggal malaikat, menjadi simbol tempat permohonan manusia dipanjatkan.

Langit tidak untuk dipuja, melainkan sebagai tanda (ayat) yang harus direnungkan agar manusia menyadari posisinya sebagai hamba.

Syaikh Ibn Atha’illah dalam Al-Hikam berkata dan Ibnu ‘Ajibah dengan Iqazhul Himam syarah Hikam berkata: “Hati tidak akan bercahaya kecuali jika kegelapan dunia (keinginan, syahwat, dan nafsu) telah sirna darinya. Ketika hati diterangi oleh cahaya, ia akan terbebas dari dunia dan naik ke maqam-maqam kedekatan. Setiap maqam ibarat langit dibandingkan dengan maqam sebelumnya, hingga ia mencapai ‘langit makrifat,’ yang merupakan langit ketujuh. Ketika sampai di sana, Allah akan menampakkan diri-Nya dengan sifat keindahan dan keagungan. Maka hati akan tenang, rahasia jiwa akan tenteram, dan ia akan merasakan manisnya kedekatan (dengan Allah).”

Teks ini menunjukkan bagaimana Ibn Ajibah memetaforakan perjalanan spiritual sebagai pendakian ke “langit-langit” maqam, hingga mencapai makrifat, yang merupakan puncak dari perjalanan spiritual seseorang.

Dengan demikian, langit tujuh lapis bukan hanya tentang struktur kosmis, tetapi juga perjalanan spiritual yang menghubungkan manusia dengan Sang Ilahi.

Oleh karena itu, ketika menatap langit, kita tidak hanya melihat bintang-bintang yang jauh, tetapi juga mendengar panggilan Allah yang mengingatkan bahwa kebesaran-Nya melampaui apa pun yang dapat kita pahami.

Langit, baik dalam makna saintifik maupun spiritual, adalah refleksi kebesaran Allah. Di balik cakrawala tak berbatas itu, ada rahasia Ilahi yang menunggu untuk ditemukan. []

Hidup Sonder Validasi
Kolom

Runtuhnya gunung sampah di Bantargebang menewaskan warga. Apakah…