Polemik pernyataan JK yang dinilai dipelintir, kritik keras praktik framing dan pembentukan opini di ruang publik.
Oleh: Geisz Chalifah
PAK JK berbicara tentang pengalamannya menyelesaikan konflik Poso dan Maluku, pengalaman yang lahir dari keterlibatan nyata ketika negeri ini terbakar oleh pertikaian.
Namun bagi mereka yang hidup dari gaduh dan framing, pengalaman bukanlah pelajaran, melainkan bahan baku untuk dipelintir.
Potongan video itu dicomot, dipisahkan dari konteksnya, lalu diolah menjadi senjata propaganda oleh Ade Armando, Abu Janda, dan sejenisnya. Bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk membentuk persepsi.
Ketika Pak JK berkata bahwa polemik ijazah Jokowi semestinya cukup diakhiri dengan menunjukkan dokumennya kepada publik, ucapan sesederhana itu pun kembali dipelintir seolah sebuah kejahatan. Dari sana narasi dibangun, kemarahan dipancing, dan pelaporan hukum didorong.
Inilah tabiat paling rendah dalam politik: ketika argumen tak lagi dipakai untuk menjawab argumen, fitnah dijadikan alat, potongan video dijadikan senjata, dan hukum dijadikan pentungan.
Cara-cara seperti ini bukan barang baru. Ia adalah metode lama para laron kekuasaan, makhluk-makhluk kecil yang terbang mengitari cahaya kuasa, mabuk oleh panasnya, lalu merasa dirinya matahari.
Mereka tidak pernah hidup dari kehormatan. Mereka hidup dari manipulasi. Dari framing. Dari upaya sistematis membunuh nama baik siapa pun yang tidak bersedia tunduk.
Untuk saya pribadi, Ade Armando telah berulang kali menyerang saya lewat monolog-monolog murahan setiap kali kader-kader PSI tumbang dalam debat terbuka di televisi.
Ketika argumen mereka rontok di ruang diskusi, Ade muncul sebagai tukang cuci piring politik, membersihkan kekalahan dengan fitnah dan serangan personal.
Ironinya, orang seperti itu pernah menyandang status tersangka, tetapi proses hukumnya lenyap entah ke mana. Seolah hukum di negeri ini hanya tajam kepada lawan, namun tumpul terhadap mereka yang berada di lingkar kuasa.
Karena itulah orang seperti Ade Armando tetap merasa aman. Ia tahu ada kekuasaan yang melindunginya, ada jaringan yang menopangnya, dan ada kepentingan yang membuatnya terus dipelihara.
Tetapi satu hal tak pernah berubah:
seekor bajingan tetaplah bajingan, sekalipun dibungkus jabatan, dilindungi penguasa, dan diberi panggung oleh media. []








