Scroll untuk baca artikel
Kolom

Succsessful Aging

Redaksi
×

Succsessful Aging

Sebarkan artikel ini
Succsessful Aging

Successful aging tercermin dari lansia yang tetap aktif, sehat, dan hangat dalam silaturahmi yang memperkaya kebahagiaan hidup

Oleh : Imam Trikarsohadi

SUCCESSFUL aging bukan sekadar umur panjang, melainkan umur panjang yang dijalani dengan sehat, aktif, dan bahagia.

Pekan lalu, sebab janjian bertemu tokoh nasional Dr. H. Ahmad Syaikhu, saya tanpa rencana — akhirnya ikut pengajian di Islamic Center Kota Bekasi. Saat memasuki ruangan masjid, pengajian sudah berlangsung, dan suasananya sontak bikin “kaget”, karena para jama’ah banyak diisi sosok senior yang punya nama moncer di level nasional maupun level Bekasi dengan latar belakang dan bahkan haluan politik yang beragam.

Usai mengaji, saya pikir akan bubar begitu saja, ternyata ditempat ini ada kebiasaan ngopi pagi bersama. Dengan lesehan di teras masjid, para jama’ah terlibat obrolan pelbagai topik dari yang ringan hingga yang cukup pelik sambil menikmati cemilan sehat yang cocok bagi para senior.

Aneka macam percakapan mengalir tanpa tendensi, padahal dalam keseharian bisa jadi mereka punya pilihan jalan politik dan kepentingan yang berbeda. Inilah salah satu potret kecil ihwal kematangan. Bisa jadi yang terjal diluaran sana menjadi begitu ringkas dan mencair lewat jalan religi ini.

Akan halnya pergaulan para senior di Islamic Center ini, saya menangkapnya sebagai perilaku terbaik di masa lansia yang menerapkan pola hidup aktif, menjaga hubungan sosial yang hangat, dan memupuk pikiran positif.

Sebab selain ihwal asupan rohani, ada pula ikhtiar menjaga kesehatan fisik dan mencegah isolasi sosial atau depresi.

Pola demikian lazimnya akan memantik successful aging (penuaan sukses), dimana lanjut usia mencapai kesejahteraan fisik, kognitif, dan sosial yang tinggi, ditandai dengan minimalnya penurunan fungsi tubuh, rendahnya risiko penyakit, serta tetap aktif dan mandiri. Ini berfokus pada kualitas hidup, kepuasan, dan kebahagiaan di usia lanjut.

Motor penggerak dari semua itu adalah silaturahmi. Apa sebab? karena silaturahmi di usia senja memiliki esensi yang sangat dalam, bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan menyambung ikatan hati dan kasih sayang (rahim) untuk mendapatkan keberkahan hidup. Pada fase lanjut usia, silaturahmi menjadi sumber kebahagiaan sosial dan mental yang krusial.

Kata KH. Dr. Ahmad Syaikhu, silaturahmi adalah sebab syar’i untuk memperpanjang usia dan memberikan keberkahan dalam setiap detik kehidupan. Ia juga merupakan bentuk koneksi sosial yang meningkatkan kesehatan mental dan mendukung penuaan yang sehat (healthy aging).

“Bertemu dengan kerabat atau teman lama dapat membawa kebahagiaan, mengurangi kesepian, dan memberikan dukungan emosional. Silaturahmi, termasuk dengan memberikan kebaikan atau salam, diyakini membuka pintu rezeki.”

Silaturahmi di usia senja adalah cara merawat hati, mempererat persaudaraan, dan mencari keberkahan, terutama saat waktu yang tersisa ingin diisi dengan hal-hal yang bermanfaat.

Dengan demikian, menjaga hubungan baik di masa tua merupakan bentuk ketaatan dan upaya menutup usia dengan kebaikan. []