Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Akar Pertama Kebencian Kita

Redaksi
×

Akar Pertama Kebencian Kita

Sebarkan artikel ini

“If people can learn to hate, they can be taught to love”—Nelson Mandela.

ENTAH mengapa kebencian itu hadir. Dan entah mengapa ia begitu mudah lahir, memasuki relung-relung jiwa yang kosong.

Ia mengalir begitu saja bagai air mencari tempatnya. Lalu mengendap dalam jiwa-jiwa individu, kelompok sosial dan sosietal. Semakin lama, endapan kebencian itu semakin tebal dan berpotensi merusak jiwa-jiwa yang kosong.

Padahal yang dibenci itu adalah manusia, bukan hewan, bukan juga tumbuhan. Kebencian mematikan rasionalitas dan menutupi kebenaran yang datang dari luar.

Kebencian tidak sama dengan sikap kritis, karena sikap kritis bersumber pada pemikiran kritis (critical thinking) yang berbasis pada rasionalitas dan ilmu pengetahuan.

Kebencian sesama manusia bukanlah fenomena baru. Ia sudah ada sejak komunitas manusia pertama datang ke muka bumi, lalu berkembang dan melekat dalam berbagai peradaban manusia.

Jatuh bangun peradaban-peradaban besar manusia tak bisa dilepaskan dari kebencian yang lahir dari dalam diri individu, dalam kelompok sosial, dan dalam masyarakat. Sebagai fenomena yang melekat dalam sejarah, kebencian melahirkan berbagai konflik, perebutan sumber daya, perang, dan pertumpahan darah.

Kebencian itu bisa tumbuh dan mengakar dalam ideologi politik, dalam tafsir religiusitas, dan dalam praktik kultural etnosentrisme. Kebencian juga bisa muncul dari tatanan sosial yang timpang dan tidak adil, serta penguasaan sumber daya yang melahirkan dominasi, eksploitasi, dan marjinalisasi dalam masyarakat.

Jika demikian kondisinya, maka kebencian itu perlu dicari akar tumbuh kembangnya dalam individu, dalam kelompok-kelompok sosial, dan di tingkat sosietal.

Jika akar kebencian itu sudah diperoleh, maka upaya untuk menghambat pertumbuhannya dan membasmi secara mendasar, akan bisa dilakukan dengan lebih baik.

Jika akar kebencian itu adalah perbedaan ideologi politik, maka aktor-aktor politik powerful dalam arena politik perlu membangun konsensus bersama tentang bagaimana kekuasaan itu dikelola secara benar, tanpa saling menyakiti antar kekuatan politik yang berbeda, dalam koridor demokrasi liberal yang kita jalankan.

Jika akar kebencian itu bersumber dari tafsir religiusitas, apapun agamanya, maka dibutuhkan upaya untuk memperkuat tafsir religiusitas yang benar, yang mengarah pada visi kemanusiaan, pada pola relasional inklusif, yang memandang manusia itu sama dari sisi kemanusiaan.

Jika akar kebencian itu lahir dari praktik kultural etnosentrisme, maka dibutuhkan konsensus bersama untuk membangun dan memperkuat praktik kultural inklusif dalam masyarakat kita yang majemuk. Perlu ada upaya untuk mengikis stigma dan prasangka yang berkembang dalam masyarakat.

Di sisi lain, jika kebencian itu hadir karena tatanan sosial yang timpang dan tidak adil, serta dipenuhi oleh dominasi, eksploitasi dan marjinalisasi, maka yang perlu dilakukan adalah memperbaiki tatanan sosial tersebut sesuai dengan konsensus bersama untuk melahirkan masyarakat inklusif.

Tentu tidak mudah menghentikan aliran kebencian yang sedang mengalir deras. Juga tidak mudah mengeruk endapan kebencian yang sudah lama menumpuk, apalagi dalam masyarakat yang terbelah karena perbedaan ideologi politik dan tafsir religiusitas ekstrem.

Namun demikian, seperti kata Nelson Mandela, jika orang atau kelompok sosial dapat belajar untuk membenci, maka sesungguhnya mereka juga dapat diajarkan untuk saling mencintai. Mungkinkah? [dmr]