Scroll untuk baca artikel
Berita

ASKLIGI Soroti Krisis Kesehatan Gigi Indonesia, 56,9 Persen Warga Keluhkan Sakit Gigi

×

ASKLIGI Soroti Krisis Kesehatan Gigi Indonesia, 56,9 Persen Warga Keluhkan Sakit Gigi

Sebarkan artikel ini
ASKLIGI Soroti Krisis Kesehatan Gigi Indonesia
Asosiasi Klinik dan Laboratorium Gigi Indonesia (ASKLIGI)

ASKLIGI menyoroti tingginya masalah kesehatan gigi di Indonesia dan menyiapkan program nasional berbasis pencegahan serta promosi kesehatan.

BARISAN.CO – Asosiasi Klinik dan Laboratorium Gigi Indonesia (ASKLIGI) menyoroti kondisi kesehatan gigi masyarakat Indonesia yang masih memprihatinkan.

Dalam siaran pers usai Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada Sabtu (2/5/2026), organisasi tersebut menegaskan komitmennya untuk ikut mengatasi persoalan kesehatan gigi nasional melalui langkah promotif dan preventif.

Berdasarkan data Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan tahun 2025, dari sekitar 36 juta orang yang diperiksa, masalah terbanyak yang ditemukan adalah penyakit gigi.

Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sebanyak 56,9 persen penduduk mengeluhkan sakit gigi, namun hanya 11,2 persen yang mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan gigi.

Selain itu, masih terdapat 2.667 puskesmas atau sekitar 26,2 persen dari total puskesmas di Indonesia yang belum memiliki dokter gigi.

Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius dalam pemerataan pelayanan kesehatan gigi dan mulut.

Ketua Umum ASKLIGI, Dr drg Hananto Seno SpBM(K), mengatakan penanganan masalah kesehatan gigi tidak cukup hanya melalui pengobatan, tetapi harus dimulai dari perubahan pola pikir masyarakat.

“Upaya mengatasi permasalahan kesehatan gigi pada masyarakat Indonesia harus dilakukan secara mendasar, bukan hanya kuratif, namun orientasi promosi kesehatan serta pencegahan penyakit gigi akan kami kedepankan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, orientasi tersebut diharapkan dijalankan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan gigi, baik dalam kegiatan operasional sehari-hari maupun ketika turun langsung ke masyarakat melalui program bakti sosial.

Dalam Rakernas itu, ASKLIGI juga menyatakan kesiapan bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sebagai asosiasi fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Direktur Utama BPJS Kesehatan yang diwakili Bayu Yudanto menyampaikan, hingga Maret 2026 jumlah peserta BPJS Kesehatan telah mencapai 284.690.797 orang atau 99,03 persen penduduk Indonesia. Menurut dia, BPJS Kesehatan juga terus menanggung pelayanan kesehatan gigi masyarakat.

“Pada tahun 2025, pelayanan kesehatan gigi telah menghabiskan biaya sebesar Rp2,8 triliun. Karena itu promosi kesehatan dan pencegahan penyakit gigi perlu diperkuat untuk menekan beban pembiayaan,” kata Bayu.

ASKLIGI menetapkan sejumlah program unggulan hasil Rakernas, antara lain pengembangan profesionalisme fasilitas pelayanan kesehatan gigi melalui seminar, pelatihan, kelompok studi, serta peningkatan keterampilan manajerial.

Organisasi itu juga menyiapkan pendampingan akreditasi, pengelolaan limbah medis gigi, hingga bantuan hukum bagi fasilitas pelayanan kesehatan gigi.

Selain itu, ASKLIGI akan memperkuat sinergi dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Persatuan Terapis Gigi dan Mulut Indonesia (PTGMI), serta Persatuan Teknisi Gigi Indonesia (PTGI).

Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperkuat sistem kesehatan nasional, khususnya layanan kesehatan gigi dan mulut.

Dalam aspek kelembagaan, ASKLIGI yang baru berusia satu tahun juga akan melakukan konsolidasi organisasi dan pembentukan kepengurusan tingkat wilayah.

Langkah itu dilakukan agar organisasi dapat berperan lebih luas dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan gigi di Indonesia. []