Scroll untuk baca artikel
Berita

Klinik Pratama NU Al Itqon Bugen Resmi Hadir di Semarang, Ketua LKNU: Kesehatan Bukan Komoditas

×

Klinik Pratama NU Al Itqon Bugen Resmi Hadir di Semarang, Ketua LKNU: Kesehatan Bukan Komoditas

Sebarkan artikel ini
klinik pratama nu al-itqon
KH A. Haris Shodaqoh membubuhkan tanda tangan prasastra peresmian Klinik Pratama NU Al-Itqon

Klinik Pratama NU Al Itqon Bugen resmi hadir di Semarang sebagai layanan kesehatan berbasis komunitas untuk santri dan warga.

BARISAN.CO – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah melalui Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) meresmikan Klinik Pratama Nahdlatul Ulama Al Itqon di Bugen, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Minggu (3/5/2026).

Kehadiran fasilitas kesehatan tersebut ditujukan untuk memperluas akses layanan kesehatan dasar bagi santri dan masyarakat sekitar.

Peresmian dilaksanakan di kantor Klinik Pratama NU Al Itqon, kemudian dilanjutkan dialog kesehatan di Joglo Pondok Pesantren Al Itqon dengan tema “Kesehatan Bukanlah Komoditas Melainkan Hak Kemaslahatan.”

Acara peresmian berlangsung khidmat dengan doa yang dipimpin KH Ahmad Haris Shodaqoh. Dalam kesempatan itu, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh menekankan pentingnya menjaga kesehatan sekaligus melanjutkan perjuangan Nahdlatul Ulama di bidang pelayanan kesehatan masyarakat.

Ketua panitia sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Itqon, KH Ubaidullah Shodaqoh, mengatakan penggunaan nama Al Itqon sengaja dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap kebersamaan jamaah yang selama ini berkontribusi dalam pendirian klinik.

“Nama Al Itqon dipilih untuk menjaga kebersamaan jamaah yang telah berkontribusi dalam pendirian maupun penyelenggaraan klinik sebagai bagian dari hak kemaslahatan umat, termasuk santri dan warga sekitar,” ujarnya.

Ketua LKNU, Dr Aris Sunandar, menegaskan bahwa pendirian klinik tersebut dilandasi pandangan bahwa layanan kesehatan merupakan hak dasar masyarakat, bukan semata aktivitas ekonomi.

“Kesehatan bukanlah komoditas, melainkan hak budaya kemaslahatan,” kata Aris.

Menurut dia, pengelolaan klinik bertumpu pada semangat gotong royong jamaah melalui infaq, sedekah, hibah, dan wakaf yang dikelola oleh Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Dana yang terhimpun kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk layanan kesehatan yang mudah dijangkau.

Ia menambahkan, model pelayanan kesehatan berbasis komunitas menjadi penting untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan fasilitas kesehatan yang dekat, terjangkau, dan berorientasi sosial.

Sebelum resmi dibuka, Klinik Pratama NU Al Itqon telah menjalankan sejumlah program promotif dan preventif. Klinik ini tergabung dalam Forum Peduli Anemia dengan berbagai kegiatan kesehatan bagi santri, khususnya remaja putri.

Program tersebut meliputi edukasi kebersihan diri dan sanitasi, skrining anemia bagi santri putri, pembentukan pengawas minum tablet tambah darah di setiap kamar santri, hingga perluasan akses layanan kesehatan di lingkungan pesantren.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Tengah, Dr Abdul Kholiq, menilai keberadaan klinik berbasis pesantren menjadi bagian penting dalam penguatan ekosistem pelayanan kesehatan dasar.

Menurut dia, pesantren selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan dan penguatan nilai keagamaan, namun juga memiliki potensi besar dalam mendorong promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.

“Pesantren tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga perlu membangun kesinambungan promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dan kemudahan akses pelayanan kesehatan bagi komunitasnya,” ujarnya.

Dukungan terhadap pendirian klinik juga datang dari PT Phapros Tbk. Direktur Produksi PT Phapros, Ida Rahmi Kurniasih, menyampaikan pentingnya kolaborasi antara dunia usaha dan organisasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Ia menyoroti kerja sama yang telah terjalin bersama LKNU dalam penanganan anemia remaja putri melalui pemenuhan kebutuhan tablet tambah darah multivitamin.

Rangkaian peresmian klinik turut diisi kegiatan sosial berupa pemeriksaan kesehatan gratis, edukasi kesehatan, serta pengobatan gratis bagi warga sekitar.

Kegiatan tersebut melibatkan Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama, Himpunan Perawat Nahdlatul Ulama, dan Fakultas Ilmu Keperawatan Unissula.

Sebanyak 77 warga tercatat menerima manfaat langsung dari layanan pemeriksaan dan pengobatan gratis yang digelar pada hari peresmian.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PCNU Kota Semarang KH Anashom, Camat Pedurungan, Lurah setempat, pengurus MWC NU se-Kota Semarang, pengurus ranting NU se-MWC NU Pedurungan, anggota DPRD Jawa Tengah, serta sejumlah badan otonom dan lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Ketua PCNU Kota Semarang KH Anashom berharap model pelayanan kesehatan serupa dapat dikembangkan di wilayah lain agar manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat.

“Ini harus ditularkan,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Dr Aris Sunandar menyampaikan pihaknya sedang menyiapkan penguatan kelembagaan agar Klinik Pratama NU Al Itqon dapat berkembang lebih optimal.

Menurut dia, agenda yang tengah dipersiapkan meliputi realisasi akreditasi klinik, perizinan Apotek Al Itqon, serta kerja sama dengan BPJS Kesehatan pada tahun ini.

Kehadiran Klinik Pratama NU Al Itqon Bugen menandai berkembangnya model layanan kesehatan berbasis komunitas di lingkungan pesantren.

Klinik ini tidak hanya menyediakan fasilitas pengobatan, tetapi juga memperkuat promosi kesehatan, pencegahan penyakit, serta memperluas akses layanan kesehatan dasar yang lebih dekat dengan masyarakat. []