Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Bahaya! Keramas Saat Cuaca Panas, Beresiko Stroke

Redaksi
×

Bahaya! Keramas Saat Cuaca Panas, Beresiko Stroke

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Beraktivitas di luar ruangan pada musim kemarau seperti ini memang menantang. Minuman dingin adalah salah satunya, saat tenggorokan kering ia menjadi pelepas dahaga yang efektif bila dilakukan. Sama halnya dengan setelah aktivitas luar, terlebih keringat bercucuran yang mengakibatkan suhu tubuh meningkat drastis.

Tidak sedikit orang yang kemudian memilih jalan pintas untuk segera mandi dan keramas. “Gerrrrr….” Sensasi segar segera terasa. Nampak seperti obat yang cespleng. Bahkan saat cuaca sedang terik teriknya, mandi keramas siang bolong menjadi tak terelakkan.

Nampaknya tidak ada yang salah dengan perilaku seperti ini. Bahkan itu menjadi hal yang umum terjadi pada masyarakat kita. Tetapi ternyata tidak bila ditinjau dari segi medis.

Suhu tubuh meningkat itu wajar

Akademisi dan dokter spesialis penyakit dalam dari Universitas Indonesia (UI), dr Ari Farial Syam, SpPD, megungkapkan, munculnya keringat dari tubuh merupakan reaksi normal suhu tubuh yang panas terhadap suhu lingkungan.

“Jadi, suhu tubuh kita itu 37 derajat celsius. Nah kalau kita berkeringat, berarti itu merupakan reaksi suhu tubuh kita panas. Misalnya di lingkungan panas atau suatu aktivitas olahraga,” ujar Ari.

Ari menjelaskan, munculnya keringat juga karena adanya proses pembakaran yang menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Setelah suhu tubuh meningkat, maka terjadi kompensasi antara tubuh dengan keringat. Tubuh akan mengeluarkan keringat untuk menyeimbangkan suhu dalam tubuh dengan lingkungan.

Normalkan suhu terlebih dahulu

Normalkan suhu tubuh, baru mandi Jika tubuh dalam kondisi berkeringat atau suhu tubuh belum stabil, maka disarankan untuk menunggu beberapa saat hingga tubuh tidak mengeluarkan keringat lagi. Sebab, air yang biasa digunakan untuk mandi memiliki suhu rata-rata 30 derajat celsius di mana suhu ini di bawah rata-rata suhu tubuh normal atau ketika tubuh berkeringat.

“Intinya adalah semua air rata-rata bersuhu 30 derajat. Makanya di saat posisi tubuh berkeringat dan langsung kena suhu dingin (air untuk mandi) sudah pasti ada reaksi, misalnya menggigil,” ujar Ari.

“Jadi memang sebaiknya kita normalkan dulu suhu tubuh, baru mandi,” kata dia.

Beresiko stroke

Nampaknya saran tersebut memang penting untuk kita ikuti. Sebab bila kita memaksakan diri untuk mengguyur kepala alias keramas saat suhu tubuh sedang panas, bisa berakibat serius hingga ke stroke.

“Jika seseorang yang tubuhnya sedang kepanasan lalu langsung diguyur kepalanya dengan air dingin, bisa menyebabkan saraf kaget atau bahkan stroke bila terjadi pada orang yang tidak sehat,” jelas Prof dr Teguh Ranakusuma, SpS (K), dokter spesialis saraf dari Departemen Neurologi FKUI-RSCM.

Prof Teguh menyebutkan, perubahan suhu yang tiba-tiba bisa menyebabkan stroke bila terjadi pada tipe-tipe orang dengan penyakit tertentu, yaitu:

  1. Penyakit jantung
  2. Tekanan darah tinggi
  3. Gangguan pembuluh darah (kardiovaskuler)
  4. Gangguan darah

“Ini juga terjadi ketika tubuh yang kedinginan tiba-tiba diguyur air panas. Perubahan yang tiba-tiba ini yang menyebabkan stroke. Makanya kalau orang haji sering mengalami heat stroke (stroke karena kepanasan), karena belum terbiasa dengan suhu yang tiba-tiba panas,” lanjut Prof Teguh.

Maka seorang pakar fisiologi olahraga di SanFransisco, Stacy Sims, PhD, tetap menyarankan agar tidak langsung mandi saat tubuh berkeringat. Menurut dia, suhu dingin dapat mempersempit pembuluh darah dan memicu suhu tubuh terus naik.

Adapun kegiatan tersebut dapat menyebabkan panas tubuh tertahan dan timbul gangguan pada pembuluh darah. Reaksi tubuh Selain itu, Ari juga menjelaskan, pada kasus tertentu, suhu dingin akan memengaruhi tubuh sebagian orang dan menimbulkan reaksi dan alergi.