Scroll untuk baca artikel
Blog

Banjir Jakarta, Data Bicara

Redaksi
×

Banjir Jakarta, Data Bicara

Sebarkan artikel ini

Tahun 2021 ini curah hujan juga cukup ekstrim dengan curah hujan tertinggi mencapai 226 mm/hari. Bandingkan dengan tahun 2017 yang mana curah hujan tertinggi hanya mencapai 179.7 mm/hari. Tetap saja tahun 2021 jauh lebih terkendali. Wilayah tergenang lebih kecil (113 vs 216), jumlah pengungsi lebih kecil (5.858 vs 3131), banjir surut jauh lebih cepat (1 hari vs 5 hari). Ada perbaikan signifikan.

Pasti nanti ada yang bertanya, memangnya apa yang dilakukan Anies? Saya pernah menuliskannya di twitter dan FB soal ini. Tidak luar biasa, Anies hanya bekerja giat memaksimalkan struktur dan infrastruktur yang ada. Plus dengan beberapa program tambahan. Pekerjaan telah dilakukan sejak awal tahun lalu. Sebanyak 23 waduk dikeruk, 93 lokasi sungai dikeruk, 390 saluran dikeruk dan dibersihkan.  Sepanjang 12.6 km tanggul pantai dibangun dan sebagainya.

Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta juga telah menyiapkan 487 pompa stationer di 178 lokasi, 175 pompa mobile di lima wilayah, 257 alat berat, 465 dump truck, 36 pintu air, dan 8.101 personel (Pasukan Biru).

Dinas Lingkungan Hidup DKI JKT memasang saringan sampah otomatis di sungai-sungai Truk, ekskavator, dan 4.000 personel satgas penanganan sampah disiagakan 24 jam untuk menjaga agar sungai-sungai dan saluran-saluran tak tersumbat sampah.

Dinas SDA mencatat telah membuat hampir 3.000 sumur resapan. Angka sebenarnya jauh lebih besar karena sumur resamapan juga dibangun oleh setiap kelurahan-kelurahan di Jakarta. Hanya memang perlu waktu untuk mendatanya.

Yang menanyakan naturalisasi, ada juga perkembangannya. Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Juaini Yusuf mengatakan, saat ini sudah ada lima titik sungai yang dilakukan natualisasi, yakni di Pondok Ranggon, dua titik di Kampung Rambutan, Cimanggis, dan Sunter.

Semua program itu disiapkan sejak awal tahun 2020 demi menghadapi musim hujan 2021.

Alhamdulillah usaha tak mengkhianati hasil. Atas ijin Allah banjir di Jakarta tahun-tahun sekarang ini lebih terkendali.

Yang terpenting lagi, data banjir ini tersajikan semuanya di portal Pantau Banjir Jakarta. Anies memahami pentingnya transparansi data dalam pemerinthan sebuah kota. Hanya dengan keterbukaan, warga bisa mengetahui keadaan sesungguhnya banjir di Jakarta. Lalu mereka akan bisa merespon cepat, termasuk dengan merencanakan mitigasi atas risiko yang mungkin dihadapi diri dan keluarganya. Lebih jauh lagi, kolaborasi pembangunan kota bersama warga juga hanya akan bisa terjadi jika ada transparansi.

Siapa coba yang tak mau punya pemerintah kota yang bersikap begini?