Keteguhan seorang ibu bisa membentuk peradaban, dan kisah Nyai Sholihah membuktikannya. Dalam bedah buku Teladan dari Rumah Ulama, nilai adab, keberanian, dan cinta keluarga Wahid kembali hidup di tengah para hadirin.
BARISAN.CO – Gelaran bedah buku Teladan dari Rumah Ulama (Catatan Gus Umar Wahid tentang Kiai Wahid, Nyai Sholihah dan Putra-Putrinya) terselenggara di Aula Al-Hikam, Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen, Kota Semarang, Sabtu (15/11/2025).
Acara yang dipandu Ardiyansyah Harjunantio itu menghadirkan refleksi mendalam mengenai keteladanan keluarga ulama besar yang menjadi pilar pemikiran dan peradaban Indonesia.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, KH Ubaidullah Shodaqoh, tampil sebagai pembicara dari sisi ulama karena beliau saat ini menjadi Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah.
Dengan ekspresi haru, beliau menyampaikan penyesalan mendalam karena baru mengenal sosok KH Umar Wahid atau Gus Umar di usia yang sudah matang dalam perjalanan ilmunya.
“Saya menyesal sekali kenal Gus Umar Wahid karena baru saja mengenal beliau,” ujarnya.
Menurutnya, gaya bicara, kewibawaan, dan kehangatan Gus Umar mengingatkannya pada sosok almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Karena saya pernah belajar sama Gus Dur tentang akidah pembebasan, saya merasakan getaran yang sama pada Gus Umar,” tuturnya.
Ia menambahkan, kehadiran Gus Umar di Jawa Tengah membawa semangat besar untuk meneladani ketangguhan keluarga Nyai Sholihah, terutama bagi keluarga-keluarga Nahdliyin.
Mbah Ubaid, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa keluarga Wahid merupakan salah satu potret keluarga teladan yang patut dicontoh terutama dalam hal pendidikan karakter, adab, dan keberanian berpikir.
Ia menyebutkan bahwa ketegasan, ketulusan, serta kecemerlangan keluarga tersebut membuktikan bahwa rumah ulama mampu menjadi pusat pembentukan kepribadian yang kuat.
“Memang keluarga inspiratif ini harus menjadi teladan dalam mendidik anak,” kata Mbah Ubaid.
Lebih jauh, beliau mengungkapkan bahwa sosok Nyai Sholihah memiliki keistimewaan di bidang politik. Menurutnya, kemampuan analisis Nyai Sholihah mengenai situasi politik nasional terbangun dari kepekaan sehari-hari.
“Ia mampu menganalisis keadaan politik hanya dari snack atau makanan ringannya. Ini menunjukkan kecerdasan analitis yang luar biasa,” tambahnya.
Sementara itu, KH Umar Wahid atau Gus Umar, putra bungsu dari KH Wahid Hasyim dan Nyai Sholihah, menceritakan pengalaman pribadi yang ia tuangkan dalam buku tersebut.
Menurutnya, keluarga Wahid mewarisi dua hal besar: warisan nama “Wahid” serta riwayat penyakit jantung.
“Karena saya dokter, saya sedikit banyak memahami persoalan itu,” ungkapnya sambil menambahkan satu warisan lain yaitu penglihatan, baik secara fisik maupun batin.
Dalam pemaparannya, Gus Umar memberikan banyak catatan tentang ketangguhan ibunya, Nyai Sholihah, yang menjadi titik fokus dalam buku ini.
Ia mengisahkan bahwa ibunya menjadi single parent di usia 31 tahun setelah KH Wahid Hasyim wafat dalam kecelakaan.
Meski usianya masih muda dan tengah mengasuh enam anak, Nyai Sholihah tidak pernah mengeluh atau merasa menderita.
Saudara-saudaranya saat itu menawarkan bantuan untuk merawat sebagian putranya, namun tawaran tersebut ditolak.
“Beliau mendidik semuanya sendiri di Jakarta,” terang Gus Umar. Bahkan tawaran agar sebagian anak tinggal di Denanyar, Jombang pun tidak diambil.
Untuk menghidupi keluarganya, Nyai Sholihah berjualan beras sambil tetap aktif di Muslimat NU dan kemudian terjun dalam tugasnya di Dewan Perwakilan Rakyat.
Semua itu dijalani sembari memegang teguh amanat utama: mendidik anak-anaknya dengan cinta, disiplin, dan keteladanan.
Buku Teladan dari Rumah Ulama sendiri menjadi ruang refleksi bagi pembaca untuk melihat bagaimana rumah ulama bukan hanya tempat tinggal yang diisi tradisi agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter yang kuat.
Melalui catatan pribadi Gus Umar, pembaca diajak menyelami keteguhan KH Wahid Hasyim sebagai pemimpin bangsa, kebijaksanaan lembut Nyai Sholihah, serta kecintaan yang membentuk anak-anak mereka menjadi pribadi yang berakar pada adab dan ilmu.
Dalam buku tersebut, posisi Nyai Sholihah menjadi sorotan utama. Ia digambarkan sebagai sosok yang berdiri tegak memikul dua peran sekaligus: sebagai ibu yang penuh kasih dan sebagai ayah yang tegas dalam mendidik.
Keenam anaknya tumbuh bukan hanya dengan kecerdasan intelektual, tetapi dengan kedalaman adab, keluasan wawasan, serta keberanian moral. Salah satunya adalah Gus Dur, yang menjadi presiden keempat Republik Indonesia.
Acara bedah buku berjalan hangat dan sarat diskusi. Para peserta mulai dari santri, akademisi, hingga masyarakat umum memberikan respons antusias.
Mereka menilai buku ini penting sebagai sumber inspirasi dan pembelajaran tentang bagaimana keluarga bisa menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi berpengaruh.
Sebagai penutup, Gus Umar menegaskan bahwa ajaran terbesar dari rumah Wahid bukanlah sekadar kecerdasan atau popularitas, tetapi keteguhan dalam memegang nilai, adab, dan keberanian berpikir.
“Rumah kami adalah rumah ilmu dan rumah kasih. Dari situlah semuanya bertumbuh,” ujarnya. []









