Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Jangan Anggap Remeh, Berikut Manfaat Membaca Buku

Redaksi
×

Jangan Anggap Remeh, Berikut Manfaat Membaca Buku

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Membaca adalah salah satu aktivitas yang membosankan bagi orang pada umumnya. Dalam membaca hanya ditemukan kata perkata yang jauh dari menyenangkan. Terlebih bagi buku-buku keilmuan maupun sastra yang banyak kata ilmiah, bukannya tambah gemar membaca justru memusingkan.

Jika dikalkulasi, aktivitas ini mungkin kecil sekali dilakukan orang pada umumnya, karena orang menganggap tak menyenangkan.

Bahkan tak jarang aktivitas ini dianggap sepele tak banyak mendapat keuntungan. Namun sebuah studi baru mengungkapkan, bahwa menghabiskan sekian waktu dalam sehari dengan sebuah buku yang bagus dapat memperpanjang angka harapan hidup.

Dan hal itu ada yang menggunakannya sebagai sebuah metode penguatan otak bagi seorang lansia. Dikisahkan seorang anak yang usianya sudah menginjak setengah abad terus menstimulasi ibunya yang jelas telah lansia untuk terus menulis.

Tentu aktivitas menulis tak jauh dari membaca, dengan sering membaca akan memperkaya kosa kata yang fungsinya bagus ketika menulis. Bahkan secara tersirat, menulis itu pasti membaca.

Alasannya jelas, agar ingatan sang ibu bisa lebih maksimal di masa senjanya. Dengan daya ingat yang bagus, setidaknya aktivitas keseharian bisa lebih nyaman dilalui.

30 menit sehari

Dari 3.635 orang yang disurvei tentang kesehatan dan kebiasaan membaca, para ‘kutu buku’ 20 persen lebih besar kemungkinannya  untuk hidup 12 tahun lebih lama, dibanding mereka yang tidak suka membaca.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Yale University tersebut juga telah memperhitungkan faktor-faktor seperti jenis kelamin, pendidikan, dan kemampuan kognitif.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmu Sosial & Medicine edisi September  tersebut meneliti bagaimana baca buku dan majalah dapat memengaruhi usia.

Kami berspekulasi bahwa buku melibatkan pikiran pembaca lebih dari surat kabar dan majalah, yang mengarah ke manfaat kognitif,” demikian tertulis dalam pembukaan laporan.

Selama penelitian, mereka yang membaca buku hanya 3,5 jam per minggu memiliki angka harapan hidup yang lebih rendah dibanding mereka yang gemar membaca lebih dari waktu tersebut, atau minimal 30 menit dalam satu hari.

Mereka yang membaca lebih dari itu, angka harapan hidup mengalami peningkatan, dan risiko kematian menurun sebanyak 23 persen. Orang yang lebih suka majalah juga memiliki risiko kematian yang lebih kecil, apabila dilakukan selama lebih dari tujuh jam dalam seminggu.

Para partisipan dalam penelitian tersebut berusia di atas usia 50 tahun dengan berbagai variasi status ekonomi, perkawinan, pekerjaan, dan pendidikan.

Peneliti juga melakukan tes kognitif kepada para pecinta buku tiga tahun setelah penelitian. Hasilnya, kepandaian mereka tidak berubah. Hal tersebut menunjukkan bahwa membaca buku juga memberikan efek positif pada kekuatan otak.

Rata-rata, para pembaca buku hidup 23 bulan lebih lama dibandingkan mereka yang tak senang membaca. Hal ini mutlak tanpa memandang gender maupun status sosial seseorang.

Dalam kesimpulan mereka, penulis menunjukkan bahwa orang dewasa yang berusia lebih dari 65 tahun menghabiskan hampir empat setengah jam sehari menonton televisi.

Peneliti menyarankan untuk mengarahkan waktu luang mereka pada kebiasaan membaca buku.

Sementara, bagi mereka yang membaca sebagian besar surat kabar dan majalah, mungkin bisa beralih ke buku-buku yang ringan.

Kekokohan temuan kami menunjukkan bahwa membaca buku tidak hanya memperkenalkan beberapa ide menarik dan karakter, tetapi juga memperpanjang usia,” tulis mereka, seperti dilansir TIME.

Membaca buku cenderung melibatkan dua proses kognitif yang dapat menciptakan keunggulan bertahan hidup.

Pertama, memicu ‘membaca lebih dalam’ suatu proses mendalam yang mendorong pembaca untuk membentuk koneksi ke bagian lain dari bahan bacaan dan dunia di sekitar mereka.

Kedua, buku dapat menimbulkan empati, persepsi sosial, dan kecerdasan emosional, suatu proses kognitif yang menyebabkan kelangsungan hidup yang lebih lama.