Scroll untuk baca artikel
Blog

Bertangkap Lepas dengan Kualitas Subtitle Indonesia

Redaksi
×

Bertangkap Lepas dengan Kualitas Subtitle Indonesia

Sebarkan artikel ini

Padahal, industri ini sudah berkembang sedemikian pesat. Hal ini ditandai dengan banyaknya platform OTT yang bermunculan, bahkan berdasarkan hasil penelitian Pablo Romero-Fresco yang dilansir di rilis pers American Translators Associate, sebanyak 50% keuntungan film datang dari versi yang sudah diterjemahkan. Artinya, penerjemah memiliki peranan yang sama pentingnya dalam industri pascaproduksi, seperti halnya penyunting video, animator, dan tenaga-tenaga penting lainnya. Namun, alih-alih dihargai tinggi, hanya sedikit kompensasi yang dibayar pada penerjemah.

David Lee selaku CEO Iyuno-SDI Media Group mempermasalahkan kuantitas tenaga penerjemah profesional yang diprediksi akan semakin berkurang di masa depan, menanggapi buruknya kualitas subtitle bahasa Inggris serial Squid Game, ia pun berujar “Kami tidak punya pilihan, kami kekurangan penerjemah profesional.”

Ungkapan itu bisa jadi benar, tetapi yang luput diketahui olehnya—atau mungkin abai—adalah perusahaannya yang justru lebih mementingkan penawar rendah dibandingkan penerjemah-penerjemah berkualitas yang menuntut tarif lebih tinggi dan sesuai.

Iyuno-SDI Media Group (yang sebelumnya bernama Iyuno Media Group) telah masuk daftar hitam The European Federation for Audiovisual Translation and Adaptation (AVTE), atas dasar upah dan waktu kerja yang tidak wajar dalam standar Eropa. Ironisnya, perusahaan agensi ini masih merupakan partner resmi Netflix di Indonesia dan terus berkiprah memberdayakan tenaga-tenaga penerjemah Indonesia, dengan upah yang rendah.

Saya pun tidak muluk untuk mengaitkan ini, kembali, pada kualitas penerjemahan subtitle. Hasil dari penerapan tarif rendah agensi-agensi semacam ini berdampak selaras pada perilaku penonton. Menurut laporan EGA di tahun 2021, 65% penonton tidak puas terhadap kualitas subtitle, sehingga mereka memilih untuk berhenti menonton/menonton tanpa subtitle.

Mari Berkompromi, Sebelum Semuanya Terlambat

Saya mengajak Anda untuk sama-sama memahami, bahwa subtitle, di luar fungsinya sebagai penjembatan antara dua bahasa, memiliki dampak sosial maupun kultural yang nyata. Kami—para penerjemah yang peduli—bertanggung jawab atas itu dan rela bersuara demi keresahan kami, dan mungkin, keresahan Anda juga.

Tahun 2018, sempat muncul sebuah agensi Eropa yang “berbaik hati” membayar penerjemah subtitle dengan upah $8 per menit. Saya kira kondisi ini merupakan preseden baik bagi industri di masa depan. Sampai kemudian ekspektasi kami pudar saat mereka menurunkan upah menjadi $4, yang tidak lama setelahnya mengakhiri layanan untuk penerjemahan subtitle berbahasa Indonesia. Hal ini, tidak lain tidak bukan, dipicu oleh persaingan dengan agensi lain dari Asia yang memasang harga lebih rendah, dan hanya membayar penerjemah di kisaran $0,5 sampai $2 saja per menit.