Scroll untuk baca artikel
Kolom

Birokrat Husnul Khotimah

Redaksi
×

Birokrat Husnul Khotimah

Sebarkan artikel ini
birokrat husnul khotimah

PKMS menyoroti patologi birokrasi dan pentingnya menjadi birokrat husnul khotimah dalam milad ke-25 di Kota Bekasi

Oleh: Imam Trikarsohadi

SEKELOMPOK orang dengan berbagai latarbelakang profesi dan keilmuan yang menghimpun diri dalam Pusat Kajian Manajemen Strategik (PKMS) berkumpul di Kota Bekasi, guna memperingati milad ke – 25 pada 16 Januari Tahun 2026.

Artinya, yang terhimpun dalam PKMS sudah berinteraksi sejak Tahun 2001, saat sama – sama masih muda dan trengginas hingga kini memasuki masa pra lansia dan lansia. Tentu, telah banyak karya yang dihasilkan bagi kemaslahatan umat maupun keilmuan.

Dan seperti biasa, tiap anggota PKMS berkumpul selalu diwarnai tradisi berdiskusi. Topiknya, jika meminjam istilah masa lalu, meliputi Ipoleksosbudwil Hankam.

Pada diskusi kali ini yang dipandu langsung oleh Founder PKMS, H. Siswadi, MBA lebih menyoroti ihwal patologi birokrasi dan bagaimana menjadi birokrat husnul khotimah. Sebab itu bertindak sebagai navigator adalah Drs. H. Toto Subekti, MSi, mantan birokrat legendaris yang mengabdi selama 35 tahun sebagai ASN.

Seperti diketahui bersama, buruknya kinerja birokrasi tetap menjadi salah satu masalah besar yang dihadapi di Indonesia, isu reformasi birokrasi tak dapat dilepaskan dari tuntutan rakyat yang semakin kuat, yang disampaikan baik melalui media massa maupun demonstrasi, agar birokrasi menjadi pelayan masyarakat yang baik serta tidak menyeleweng.

Sulit diingkari bahwa kualitas birokrasi yang buruk menjadi salah satu sumber kemunduran Indonesia, hal ini dilihat dari banyaknya kasus sebagian para pejabat tinggi pemerintah Indonesia yang memanfaatkan posisi mereka untuk menguntungkan diri sendiri dan orang terdekat.

Birokrasi seolah menjadi milik penguasa dan kliennya, banyak pandangan buruk yang terbentuk mengenai organisasi publik ini muncul karena ketidakpuasan masyarakat terhadap kualitas layanan yang diterima.

Birokrasi yang memiliki kinerja buruk, dapat mempengaruhi kinerja pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan daya saing sebuah Negara.

Birokrasi di Indonesia berperan penting dalam melaksanakan pembangunan ekonomi dan mempengaruhi kehidupan politik rakyat, khususnya di era saat ini. Birokrasi semestinya bertindak profesional terhadap publik, berperan menjadi pelayan masyarakat yang baik.

Dalam memberikan pelayanan kepada publik harus dilakukan transparansi biaya dan tidak terjadinya pemungutan liar, para birokrat perlu memberikan informasi dan transparansi sebagai hak masyarakat serta bertanggungjawab atas segala tugas serta kewajibannya.

Tetapi yang terjadi di lapangan berbanding terbalik dengan kewajibannya, dapat dilihat dari proses pengambilan keputusan oleh para birokrat yang tidak transparan, tidak netral, dan tidak memihak terhadap kepentingan rakyat.

Pertanyaanya, apa yang membuat sosok seperti Pak Toto selamat sentosa hingga usai masa dinas, padahal ia memegang berbagai jabatan strategis yang menggiurkan?

Jawabnya, kata Pak Toto, ia menjadi birokrat saat zaman Orde Baru hingga Gus Dur, saat dimana rentang kendali birokrasi terbilang masih baik – baik saja, selain itu, mayoritas birokrat relatif masih menjunjung tinggi nilai – nilai moral.

Kala itu, di kalangan birokrat masih menyala semangat untuk menjadi birokrat yang husnul khotimah (akhir yang baik) dengan menyelaraskan kinerja profesional sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan nilai-nilai takwa, amanah, dan integritas. Ini adalah perjuangan menjadikan pekerjaan sebagai ibadah.

Meniatkan pekerjaan sebagai ibadah dan pengabdian kepada Allah, bukan semata-mata mencari jabatan, kekayaan, atau pujian.

Sebab itu, ada kesadaran yang terbangun bahwa setiap tindakan diawasi oleh Allah (Muraqabah).
Kesadaran itu pada akhirnya memantik perilaku jujur dan berintegritas, seperti; menghindari segala bentuk suap, gratifikasi, dan korupsi (menjauhi kezaliman).

Yang juga penting adalah habituasi sekecil apa pun, antara lain; disiplin waktu, ramah melayani, tidak nyatut dan malak, dsb. Apa sebab perilaku demikian wajib dihindari? karena setiap orang akan dicabut nyawanya/ dimatikan sesuai kebiasaannya.

Dengan memadukan profesionalisme birokrasi dan ketakwaan, ikhtiar menjadi birokrat husnul khotimah adalah sebuah keniscayaan. []

Zero Sum Game
Kolom

Skandal Epstein mengingatkan: ketamakan elit bukan sekadar penyimpangan…