Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

BMKG Peringatkan Adanya Curah Hujan Tinggi & Potensi Tsunami Sampai Maret 2022

Redaksi
×

BMKG Peringatkan Adanya Curah Hujan Tinggi & Potensi Tsunami Sampai Maret 2022

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofosika (BMKG) mengimbau seluruh pihak mewaspadai curah hujan tinggi yang diprediksi terjadi sepanjang Desember 2021 sampai Maret 2022.

Dalam jumpa pers yang diadakan Kamis (2/12/2021), Kepala BMKG Dwikorina Karnawati mengatakan kemungkinan besar curah hujan bisa mencapai 100-500 mm per bulan.

Ia mengimbau agar semua pihak terus memonitor informasi perkembangan cuaca terbaru.

Ia juga meminta masyarakat menghindari wilayah-wilayah yang rentan terdampak langsung, seperti lembah sungai, lereng yang rawan longsor, maupun pohon yang mudah tumbang.

“Waspadai banjir, banjir bandang, banjir rob, dan tanah longsor,” ujar Dwikorita.

Dwikorita juga mengimbau agar publik memonitor potensi bencana seperti gelombang laut, iklim, dan tsunami yang dapat terjadi sewaktu-waktu melalui kanal resmi BMKG.

“Berbeda dengan kondisi cuaca yang dapat diprediksi, kejadian gempa bumi dan tsunami belum dapat diprediksi,” kata dia.

Dalam keterangan lebih rinci soal tsunami, Dwikorita mengatakan hampir seluruh wilayah pesisir di Indonesia rawan dilanda tsunami.

Menurut data, wilayah Indonesia telah terdampak tsunami sejak tahun 1600. Mayoritas melanda daerah pesisir Samudera Hindia, Samudera Pasifik, Laut Banda, dan Laut Arafura.

“Di Sulawesi itu seluruh pantainya rawan tsunami,”ujar Dwikorita.

Tsunami membawa kesulitan berlebih lantaran sering disertai bencana lainnya. Tsunami di Palu pada tahun 2018, semisal, didahului oleh gempa lalu disusul bencana likuifikasi atau tanah bergerak.

Penjelasan Dwikorita menyiratkan masih banyak yang perlu dibenahi di soal penanganan bencana. Untuk itu, ia mengatakan, jajarannya terus meningkatkan observasi data, teknologi, SDM, serta kerja sama dengan lembaga internasional.

“Perlu juga peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat. Sebab, mau teknologi semaju apapun, kalau masyarakat di pantai itu tidak paham atau kurang mengerti cara merespons, dan tidak terampil melakukan evakuasi secara mandiri maupun kolektif, (maka) pengembangan teknologi itu jadi sia-sia,” ujarnya. [dmr]