Cara Mengabdi Pegiat Literasi

  • Whatsapp
Baca buku

KELINGAN, begitu kemudian kami menyebutnya. Semula adalah KPU, singkatan dari Komunitas Penulis Ungaran, lantas berganti menjadi Kelingan akronim dari Keluarga Literasi Ungaran. Dalam Kelingan ini, saya didaulat menjadi koordinator, dalam masa bakti yang entah sampai kapan tiada kejelasan.

Namun, tak jadi soal toh tak penting lagi menyoal waktu. Terlebih era gadget, demokrasi terbuka lebar, sehingga administrasi tidak lagi menjadi persoalan dan kepemimpinan sekadar simbol.

Bacaan Lainnya

Ya, era gadget. Sebagaimana yang kita saksikan, media sosial sedemikian menggurita. Yang hadir adalah kesendirian. Hampir di segenap lini kehidupan, yang terjadi adalah pagelaran kesendirian. Kalau pun ada kebersamaan, karena komunikasi yang begitu intens, tetap saja yang terjadi adalah kebersamaan yang (barangkali) semu.

Perjumpaan ala kadar yang sementara, yang masing-masing berkompetisi memikirkan bagaimana kebutuhannya terpenuhi. Kesediaan berbagi, rasa empati pada yang lain, hanyalah karikatur (sebatas aksi yang sesungguhnya “ketimbang” tak berbuat). Mengumpulkan aksi simpatik yang kelak bakal jadi kisah pengantar tidur si bungsu. Demikiankah?

Entahlah! Entah, sebab rumusan kepastian gejala tersebut, saya tak memiliki perangkat teori untuk menyibaknya. Sekadar intuisi saja. Atau lebih tepat sebagai gerundelan wong cilik, yang belum (lebih  pas lagi “tak”) kebagian kue kemajuan (sembari tertawa getir…he he he).  Membaca kenyataan yang sama sekali tanpa dukungan literatur (buku) sosial, politik, dan kajian ilmiah lainnya.

Saya menyaksikan fenomena gadget itu sedemikian dahsyat. Melibat hampir segala umur. Bahkan sejak bayi masih dalam kandungan (sebut saja, fenomena sang ibu yang bermaksud memperdengarkan musik dan sejenisnya kepada si jabang dengan cara menempelkan benda kecil itu di atas perut buncitnya). Itulah kenyataan saat ini.

Kondisi yang mengepung kita hari-hari ini. Atau bisa juga, itulah justru gaya hidup yang sedang kita peragakan sehari-hari. Gaya hidup yang menengahkan kepentingan bersama saling berjabat erat dengan kepentingan pribadi. Interest pribadi, yang bukan saja dianggap wajar, tapi juga dirayakan sebagai suatu kebanggaan.

Saat yang sama, memperbincangkan keprihatinan, kesulitan orang-orang yang kekurangan, dan mewartakan solidaritas begitu membludak, membanjiri grup WhatsApp. Berseliweran di pelupuk mata kita.

Lantas apa pula perlunya Kelingan? Jelas keberadaan Kelingan bukan untuk menganulir kenyataan tersebut. Dan, hal itu memang tidak mungkin. Kelingan sebatas lalat atau nyamuk penyengat, yang sedikit mengganggu kenyamanan.

Perlu Sahabat ketahui, Kota Ungaran sampai hari ini telanjur dilekati sebagai kota industri (meski masih taraf kecil). Industri, dari sononya, identik dengan pola kapitalisme, yang mengagungkan kesendirian, kepentingan diri sendiri, dan tabu mempersoalkan kepentingan bersama.

Nah, kesediaan berbagi itulah yang lantas jadi prasyarat mengikuti dinamika Kelingan. Upaya menyuguhkan jamuan paguyuban yang kukuh, yang (semoga) bukan perjumpaan ala kadar. Yang berkelebihan buku, mesti sedia berbagi dengan yang tak memiliki buku. Yang berkelebihan pengetahuan tentang menulis, juga kudu siap berbagi tips menulis.

Begitu seterusnya. Pendek kata, Keluarga Literasi Ungaran itu merupakan miniatur masyarakat Ungaran yang ingin meneguhkan betapa pentingnya berliterasi. Bagaimana coba! Tak nyaman kan?  

Dalam kesempatan lain, saya pernah menulis bahwa Kelingan adalah wajah baru atau wujud dewasa dari KPU. Ibarat KPU itu remaja, yang hanya berkutat pada aktivitas tulis-menulis. Maka, Kelingan tak hanya jadi ajang pameran menulis, tapi juga menggiatkan tradisi membaca. Literasi di situ maujud dalam kelas menulis, panggung unjuk kebolehan, dan ruang baca.

Sejak bulan September 2016, Kelingan telah membuka kelas menulis yang terbuka untuk umum. Kelas tersebut berlangsung setiap Sabtu sore (pekan kedua dan keempat) pukul 14.00-15.30 di aula lantai 1 Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Semarang, Ungaran.

Jauh hari sebelumnya, Kelingan pernah menggelar pelatihan membuat blog bersama komunitas blogger Gandjel Rel, bincang buku bersama Gol A Gong, dan diskusi cerpen bareng Gunawan Budi Susanto.

Lantas, di ranah online, Kelingan telah membuat grup tertutup facebook. Grup yang dimaksudkan sebagai ruang dialog seputar menulis, ruang berbagi hasil karya anggota. Ada pula fanpage Keluarga Literasi Ungaran, ruang publik Kelingan. Tidak berhenti di situ, Kelingan (atas inisiasi Dewi Rieka, seiring menyemaraknya WhatsApp) membuat grup diskusi WhatsApp, dengan aturan (atas usulan Putu Ayub) tidak boleh menyingkat kata, memperhatikan ejaan, dan tak sembarangan membubuhkan tanda baca.

Lagi-lagi, untuk menguji kesanggupan menulis anggota (harapannya sih…), Dewi yang juga pengelola website semarangcoret.com, menyeru kepada followers Kelingan untuk menjajal nyali menulis dengan mengirimkan ke website tersebut. Unjuk kemampuan menuang pengamatan seputar isu yang berkembang di Kabupaten Semarang.

Kini, waktu terus bergulir. Proses sudah kami tempuh. Berbagai cara untuk menarik perhatian semua kalangan sudah kami usahakan. Upaya mendukung pemangku kepentingan dalam menggemakan gerakan literasi sudah kami lakukan. Perkara hasil, benar, up to God.

Kelingan sama sekali tidak bisa menyulap kenyataan. Kelingan berdiri pada ranah keadaan, mengupayakan peluang. Jadi, fenomena gadget dan berbagai peranti media sosial bukanlah apologi untuk tak membaca, bukan jadi alasan untuk malas menulis.

Nah, kepada para sahabat Kelingan dan pegiat literasi di mana pun berada, di sini saya tandaskan (aish…sudah kayak motivator aja), jangan patah arah! Pantang patah bagi pembelajar. Pantang jemu buat penulis (terutama pemula). Anggap saja, berliterasi adalah cara mengabdi pada Tuhan. Cara mengada di tengah masyarakat.  

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait