Scroll untuk baca artikel
Blog

Coba Merenung Sejenak, Setelah Itu Baru Menulis Berita

Redaksi
×

Coba Merenung Sejenak, Setelah Itu Baru Menulis Berita

Sebarkan artikel ini

MEMBACA berita tentang rudal yang menyerang Polandia dan menewaskan dua warga, media dunia termasuk Indonesia langsung dengan sangat mudah menuding Rusia. Apalagi pada saat bersamaan militer Rusia membombardir ibu Kota Ukraina, Kiev, dengan ratusan rudalnya.

Serangan ini seolah mau mengejek para pemimpin G20 yang tengah menggelar pertemuan di Bali. Sampai kelompok negara G7 yang dipimpin Amerika Serikat menggelar rapat darurat di sela-sela pertemuan G20.

Media Barat langsung menuding rudal yang jatuh di perdesaan Polandia berasal dari wilayah Rusia. Gayung bersambut, sejumlah media dalam negeri pun karena keterbatasan konfirmasi dan kemalasan verifikasi dengan mentah-mentah menerjemahkan berita apa adanya.

Maka lahirlah judul berita yang sangat bombastis: Rudal Rusia Menewaskan 2 Warga Polandia, Rusia Serang Polandia, Rudal Rusia Mendarat di Polandia. Tidak ada kata dugaan, diperkirakan, kemungkinan atau belum dipastikan. Judul dan narasi berita pun dengan pasti menuding Rusia.

Tapi menariknya Presiden Amerika Serikat Joe Biden saat dimintai konfirmasi wartawan seusai rapat darurat G7 di Bali, dengan sikap tenang tidak langsung menuduh Rusia. Biden menunggu hasil investigasi.

Dan beberapa hari kemudian memang hasil investigasinya mengejutkan. Otoritas Ukraina pun mengakui rudal yang nyasar alias belok ke Polandia memang miliknya. Maksud semula rudah itu diharapkan bisa menangkal serbuan rudal Rusia tetapi justru malah melenceng ke Polandia.

Dari kasus ini kita dapat mengambil sejumlah pelajaran dan juga perenungan. Pertama, media atau pers memang tidak ada yang netral. Pers memang harus berpihak. Tinggal memilih. Ada yang berpihak pada kelompok marjinal, komunitas yang tidak punya akses dan ada juga keberpihakan kepada kepentingan nasional.

Kedua, media Barat bukan segalanya. Mereka lebih banyak berpihak kepada kepentingan negaranya dibandingkan kepentingan yang lain. Jadi, media Barat bukan satu-satunya acuan.

Ini bisa dilihat dari kasus Associated Press (AP) yang menyebar hoaks Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yang disebut-sebut kena serangan jantung dan dirawat di RS Sanglah Bali. Hoaks ini langsung disambar media internasional termasuk sejumlah pers di Indonesia.

Ketiga, kecepatan bukan segalanya. Memang salah satu keunggulan media daring adalah kecepatan. Masih ada juga di kalangan pengelola media anggapan siapa yang paling cepat memberitakan sebuah isu dianggap paling hebat bahkan prestisius.

Kebanggan itu sebenarnya semu dan omong kosong. Kecepatan tanpa memperhatikan akurasi, mengabaikan struktur bahasa, juga sama saja dengan berita sampah. Padahal media itu memiliki tugas: memberikan informasi, mendidik dan menghibur. Di Indonesia mendapat tugas tambahan lagi: mencerdaskan bangsa.

Keempat, perlunya jurnalis melakukan perenungan atau kontemplasi sebelum menulis berita. Durasinya relatif tergantung masing-masing jurnalis mungkin ada yang bisa sampai 5 menit, 20 menit atau 30 menit. Emosi dan sikap partisan hilangkan. Setelah merasa tenang barulah menulis.

Kecuali ketika kita sedang menulis opini, karena yang menjadi keunggulan seorang kolumnis adalah analisis dan subjektifitasnya bukan data statistiknya.

Peraih Nobel Sastra asal Prancis Annie Ernaux menyatakan, “bahasa tidak pernah netral”. Apalagi pers dan jurnalis!