Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Demokrasi Itu Konsensus

Redaksi
×

Demokrasi Itu Konsensus

Sebarkan artikel ini

Demokrasi itu konsensus, artinya upaya pelanggengan kebiasaan terus menerus. Dulu Soekarno mendapati gelar “pemimpin besar revolusi”, dan Soeharto melanjutkannya dengan sebutan “bapak pembangunan”.  Soekarno sukses menancapkan doktrin demokrasi terpimpin, giliran Soeharto meneruskannya jadi demokrasi Pancasila.

Yang mana keduanya tiada beda. Sama-sama menyifatkan diri sebagai pemimpin yang kharismatik sekaligus otoriter khas raja tempo dulu. Sama-sama mewariskan ideologi tertutup yang antikritik, anti kebebasan berpendapat. Dan kini sudah lebih dari dua dasawarsa, reformasi digulirkan, tapi demokrasi tetap saja.

Demokrasi memelihara budaya korupsi, memelihara feodalisme. Berkat demokrasi, korupsi kian meluas dan kian vulgar. Banyak pejabat yang diseret, namun belum ada yang berani menyentuh gurita istana. Keluarga istana tetap bisa melenggang, terbebas dari jeratan bui. Seolah ada ketetapan, “siapa pun yang tersangka korupsi, niscaya akan dipenjarakan, kecuali si dia.

Memang demokrasi itu suara terbanyak. Suara terbanyak tak sepakat dengan korupsi. Namun mayoritas pula yang menyuburkan perilaku korup, hingga menjadi kebiasaan. Serasa aneh di tengah-tengah masyarakat, sekiranya tanpa gratifikasi. Tanda tali kasih, ucapan terima kasih sebagai imbalan lantaran berhasil meloloskan tender.

Pengguna jalan yang melanggar lalu lintas, akan dengan senang hati melepaskan uang sogokan, seraya penegak hukum pun sungkan untuk tak menerimanya. Seakan tak elok jadi orang suci yang tak mempan dengan sogokan. Seolah-olah tidak etis menjadi orang baik sendirian, sebab yang wajar adalah kerja sama dalam ketidakjujuran.

Ohoi…Demokrasi, akan sampai kapan bertahan? Jawaban yang pasti adalah: entahlah! Belum ada rumusan yang membeberkan bahwa abad XXI adalah the end of democration. Memang benar, sudah banyak yang menentangnya, namun tak sedikit pula yang mengidamkannya. Menjadi  idaman, sebab demokrasi itu konsensus.

Demokrasi itu suara terbanyak. Suara terbanyak, penanda ketiadaan manusia sempurna. Manusia tak sempurna, tapi mengejar kesempurnaan. Semua berhak mengemukakan cita-cita. Berhak menentukan pilihan. Entah ditempuh dengan pemungutan suara, entah yang lain. Hasilnya, suara terbanyak, konsensus. Yang adalah demokrasi. Pelakunya disebut demokrat. Dan bapak demokrasinya adalah mbuh!