Esai

Determinasi Diri Kala Pandemi Menghampiri

Anatasia Wahyudi
×

Determinasi Diri Kala Pandemi Menghampiri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ridho/barisan.co

Setelah wisuda, kawan saya itu mengalami determinasi diri yang mengarah kepada hilangnya motivasinya untuk mencari pekerjaan. Dalam pikirannya, pengetatan saat itu akan membuatnya dan wisudawan lain kesulitan untuk mendapat pekerjaan.

BARISAN.CO – Dalam drama Jepang berjudul The Journalist, terdapat adegan seorang perempuan bernama Mayu Yokokawa baru saja lulus kuliah. Dengan semangat mendapatkan pekerjaan, Mayu melamar sepuluh lowongan pekerjaan sekaligus.

Singkat cerita, Mayu diterima di sebuah perusahaan rintisan menengah, namun tiba-tiba pandemi datang. Mayu harus menerima kabar buruk bahwa perusahaan itu membatalkan tawaran pekerjaan tersebut.

Rasa kecewa, sedih, marah tergambar jelas di wajah Mayu. Namun begitu, Mayu merasa bahwa mungkin ada banyak orang yang telah mengalami hal yang sama dengannya.

Adegan itu mengingatkan saya kepada seorang kawan bernama Elsy yang kisahnya hampir mirip dengan yang dialami oleh Mayu. Tepatnya, pada November 2020, dia diwisuda setelah empat tahun menjalani perkuliahan. Saat itu, jumlah kasus Covid-19 meningkat.

Setelah wisuda, kawan saya itu mengalami determinasi diri yang mengarah kepada hilangnya motivasinya untuk mencari pekerjaan. Dalam pikirannya, pengetatan saat itu akan membuatnya dan wisudawan lain kesulitan untuk mendapat pekerjaan. Terutama banyak perusahaan yang memberhentikan karyawannya karena omsetnya menurun. Itulah yang menjadi alasan bagi Elsy enggan terburu-buru mencari pekerjaan.

Bukan itu saja, dia juga sempat menghilang. Setiap kali saya dan beberapa kawan mencoba menghubunginya, Elsy tak pernah menjawab bahkan ia sempat meng-uninstall aplikasi Whatsapp miliknya sendiri.

Saya memahami betul kondisi yang dia alami saat itu. Meski, beberapa kawan lain terkadang menanyakan kabarnya, saya selalu menjawab Elsy sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.

Merenung dan menata kehidupannya kembali. Ya, itu yang ia alami saat itu.

Terlebih, setelah datang ke acara wisuda saya dan teman-teman yang lain, Elsy sempat positif Covid-19. Pikirannya pun kalut. Sebagai kawan, saya memahami dan berusaha berpikir positif.

Namun, belum lama ini, saya bertemu dengannya. Wajahnya berbinar-binar. Kebahagian itu terpancar dengan . Itu yang saya rasakan sebagai kawan. Tentu saja, sebab setelah hampir dua tahun terakhir determinasi, Elsy kembali dan kini mendapat pekerjaan yang terbilang sangat bagus.

Rasa bahagia itu pun tercurah dalam setiap ceritanya. Dengan gaya angkuh, pastinya. Dia terkenal dengan kesombongannya. Sebab tak memiliki banyak kelebihan, kecuali kecerdasan. Sehingga itu satu-satunya yang dia bisa banggakan.

Tetapi, kini dia menyombongkan kelebihan perusahaan, tempatnya bekerja. Saya hanya bisa menghela nafas dan turut bahagia.

Dia pun meminta maaf karena selama ini sulit dihubungi. Dia mengaku frustasi dan memerlukan waktu untuk healing karena pandemi yang tak kunjung berakhir. Tidak masalah bagi saya karena teman harus selalu saling memahami.

Di saat dia menginginkan waktu untuk sendiri, bukan berarti kami mengabaikannya. Akan tetapi, tetap berusaha menanyakan kabarnya agar dia tidak merasa benar-benar sendiri.

Wajah bahagia itu membuat saya merasa bahwa banyak orang seperti Mayu dalam drama The Journalist atau seperti kawan saya. Meski begitu, saya selalu percaya banyak orang yang mengalami kesulitan selama pandemi ini, tetapi mereka tetap berjuang. Pada akhirnya, kita semua tahu bahwa tiap orang sebenarnya di masa pandemi ini memiliki kadar kesulitan yang berbeda. Dan, tergantung bagaimana cara mengatasinya. Satu lagi, jangan pernah lelah untuk saling menyemangati. [rif]