Esai

Forum Ekonomi Dunia, Tempat Berkumpulnya Para Elite dan Eksklusif

Anatasia Wahyudi
×

Forum Ekonomi Dunia, Tempat Berkumpulnya Para Elite dan Eksklusif

Sebarkan artikel ini

Para kritikus menilai, Forum Ekonomi Dunia terlalu eksklusif.

BARISAN.CO – Beberapa hari menjelang Forum Ekonomi Dunia 2023 di Davos, Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnes Callamard menyampaikan, banyak pertemuan global yang diadakan seharusnya untuk menyelesaikan masalah justru menjadi forum dengan sedikit atau tanpa hasil.

Sementara, pada hari pembukaan Forum Ekonomi Dunia 2023, Oxfam merilis laporan berjudul “Survival of the Richest” di mana disebutkan, satu persen orang terkaya dunia meraup hampir dua pertiga dari semua kekayaan baru senilai U$42 triliun yang diciptakan sejak tahun 2020. Atau hampir dua kali lipat uang dari 99 persen populasi dunia terbawah.

Selama dekade terakhir, satu persen orang terkaya telah menyabet sekitar setengah dari semua kekayaan baru.

Sejak 16 Januari 2023, para pembuat keputusan dunia berkumpul di Swiss dalam rangka pertemuan Forum Ekonomi Dunia. Menurut daftar resmi per 10 Januari, 2.658 peserta terdaftar dalam acara tersebut. Di antaranya adalah pebisnis, seperti Wael Sawan (Shell), Andy Jassy (Amazon), dan Jane Fraser (Citigroup). Bagi perusahaan yang menghadiri acara ini dikenakan biaya 27.000 franc Swiss. Namun, sebelum itu, peserta harus menjadi anggota dan biaya keanggotaan dari 60.000-600.000 franc Swiss.

Maka, tak mengherankan, Oxfam mengutuk para elite yang berkumpul di resor ski Swiss karena kekayaan dan kemiskinan ekstrem meningkat secara bersamaan untuk pertama kalinya dalam 25 tahun.

“Sementara orang biasa berkorban setiap hari untuk hal-hal penting seperti makanan, orang super kaya bahkan telah melampaui impian terliar mereka. Hanya dalam dua tahun, dekade ini sedang bersiap untuk menjadi yang terbaik bagi para miliarder — ledakan tahun 20-an yang menderu-deru untuk orang terkaya di dunia, ” kata Gabriela Bucher, Direktur Eksekutif Oxfam International.

Dia menekankan, memajaki perusahaan super kaya dan besar adalah pintu keluar dari krisis yang tumpang tindih saat ini.

Kekayaan miliarder melonjak pada tahun 2022 dengan keuntungan makanan dan energi yang meningkat pesat. Sedangkan, di saat bersamaan, setidaknya 1,7 miliar pekerja sekarang tinggal di negara-negara di mana inflasi melebihi upah, dan lebih dari 820 juta orang—kira-kira satu dari sepuluh orang di dunia kelaparan.

Perempuan dan anak perempuan sering kali makan paling sedikit hampir 60 persen dari populasi dunia yang kelaparan. Bank Dunia mengatakan, kita kemungkinan akan melihat peningkatan terbesar dalam ketidaksetaraan dan kemiskinan global sejak PD II.

Seluruh negara menghadapi kebangkrutan, dengan negara-negara termiskin sekarang menghabiskan empat kali lebih banyak untuk membayar utang kepada kreditor kaya daripada untuk perawatan kesehatan. Tiga perempat pemerintah dunia sedang merencanakan pemotongan pengeluaran sektor publik yang digerakkan oleh penghematan, termasuk di bidang kesehatan dan pendidikan sebesar US$7,8 triliun selama lima tahun ke depan.

Oleh karena itu, Oxfam menyerukan peningkatan perpajakan yang sistemik dan luas dari orang super kaya untuk merebut kembali keuntungan krisis yang didorong oleh uang publik dan pencatutan. Pemotongan pajak selama beberapa dekade untuk orang terkaya dan perusahaan telah memicu ketidaksetaraan, dengan orang termiskin di banyak negara membayar tarif pajak lebih tinggi daripada miliarder.