GPM Jawa Tengah menegaskan tetap independen dan tidak ikut Jokowi pada 2029, seraya meneguhkan Marhaenisme sebagai garis perjuangan organisasi.
BARISAN.CO – Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) menegaskan sikap independen secara politik dan menyatakan tidak berafiliasi dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) maupun putranya, Gibran Rakabuming Raka.
Pernyataan tersebut disampaikan Kelana Siwi, Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD GPM Jawa Tengah, menyusul pernyataan Ketua Umum DPP GPM Arya Wedakarna yang secara terbuka menyatakan siap mengikuti arahan Jokowi. Pernyataan Arya sebelumnya diberitakan sejumlah media, salah satunya Warta Ekonomi pada 24 Agustus.
Kelana menilai pernyataan Arya merupakan sikap pribadi dan tidak dapat serta-merta dianggap sebagai sikap organisasi GPM.
“Apa pentingnya pernyataan Arya? Itu hanya pernyataan pribadi saja. Memang tidak boleh dia memiliki keinginan pribadi? Bahwa kemudian dia adalah Ketua Umum GPM, itu soal lain,” kata Kelana, Selasa (25/8/2026).
Menurut Kelana, GPM sejak pasca-1965 hingga saat ini tetap mempertahankan independensi dan tidak memiliki afiliasi politik dengan partai mana pun.
Ia menjelaskan, posisi tersebut berkaitan dengan sejarah GPM setelah PNI Front Marhaenis dihancurkan pada era pemerintahan Soeharto. Sejak saat itu, menurut dia, GPM tidak lagi memiliki “induk” politik.
“Nyatanya hingga sekarang belum ada partai yang secara teori dan praktik berani benar-benar menjalankan Marhaenisme sebagai bintang panduan pergerakan kami,” ujarnya.
Kelana juga meminta agar sikap politik pribadi Arya tidak dikaitkan dengan organisasi GPM. Ia menegaskan bahwa GPM tidak memiliki kaitan politik dengan Jokowi maupun Gibran.
“Jangan karena kelakuan Arya, GPM sebagai organisasi diseret-seret. Tidak ada kaitannya sama sekali GPM dengan Jokowi dan apalagi Gibran,” tegas Kelana.
Terkait pilihan politik Arya apabila ingin mengikuti Jokowi pada Pemilu 2029, Kelana menyebut hal tersebut merupakan hak pribadi. Namun, ia menolak jika pilihan tersebut membawa nama organisasi GPM.
“Bahkan ketika dia mau ngikut Jokowi di 2029 nanti, ya itu hak dia. Yang prinsip, jangan seret GPM dalam petualangan politik murahan,” katanya.
Kelana menegaskan bahwa GPM akan tetap berpijak pada ideologi Marhaenisme dan ajaran politik Soekarno. Ia menggunakan simbol banteng untuk menggambarkan sikap organisasi yang menurutnya tidak mudah diarahkan oleh kepentingan politik tertentu.
“Banteng tetaplah banteng. Banteng bukan kebo yang mudah dicocok hidungnya dan apalagi diinjak-injak kepalanya,” ujarnya.
Ia kemudian menegaskan posisi GPM menghadapi kontestasi politik 2029. Menurut Kelana, GPM tidak akan mengikuti Jokowi dan tetap berpegang pada Marhaenisme serta pemikiran Soekarno.
“Di 2029, GPM tidak akan ikut Jokowi. Kami hanya ikut Bapak Marhaenisme, Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno,” pungkas Kelana. []









