Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Hak Asasi Manusia, Penghargaan Tuhan Yang Paling Mendasar

Redaksi
×

Hak Asasi Manusia, Penghargaan Tuhan Yang Paling Mendasar

Sebarkan artikel ini

HAM sejatinya kita bicara tentang penghargaan Tuhan kepada manusia. Hak Asasi Manusia sesungguhnya penghargaan tertinggi yang Allah tetapkan dan sematkan dalam setiap diri anak Adam

BARISAN.CO – Pada tahun kesepuluh hijriah, Nabi Muhammad Saw dan rombongan menempuh  perjalanan setelah menunaikan ibadah haji. Itu adalah haji terakhir nabi.

Di sebuah tempat bernama Namirah, sebelah timur padang Arafah. Nabi dan rombongan berhenti. Kemudian dari atas untanya, nabi Muhammad Saw menyampaikan pidato yang amat terkenal dan memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan umatnya. ‘Pidato tentang hak-hak dasar kemanusiaan’.

Berikut kutipan sebagian pidato nabi dalam perjalanan dari ‘Haji Wada’:[1]

“Wahai sekalian manusia! perhatikanlah kata-kataku ini! Aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi aku akan bertemu dengan kamu sekalian”

“Saudara-saudara! Bahwasanya darah kamu dan harta-benda kamu sekalian adalah suci buat kamu, seperti hari ini dan bulan ini yang suci sampai datang masanya kamu sekalian menghadap Tuhan. Dan pasti kamu akan menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggungjawaban  atas segala perbuatanmu. Ya, aku sudah menyampaikan ini!” 

Barangsiapa telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya”

“Bahwa semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak boleh lagi ada riba dan bahwa riba Abbas bin Abdul-Muttalib semua sudah tidak berlaku”

“Bahwa semua tuntutan darah selama masa jahiliah tidak berlaku lagi, dan bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibn Rabi’a bin’l Harith bin ‘Abdul Muttalib!”

“Wahai Manusia sekalian! Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Kamu akan mengerti, bahwa setiap Muslim adalah saudara buat Muslim yang lain, dan kaum Muslimin semua bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri. 

Pembunuhan yang disengaja akan mendapatkan pembalasan yang setimpal. Kematian karena kecelakaan karena cedera yang disengaja berarti kematian akibat [sesuatu yang biasanya tidak digunakan atau dimaksudkan sebagai senjata mematikan seperti] tongkat atau batu, yang ganti ruginya adalah seratus unta: siapa pun yang meminta lebih adalah orang dari masa jahiliah.

Wahai manusia: Iblis telah putus asa untuk disembah di negerimu ini, meskipun dia puas untuk dipatuhi dalam pekerjaanmu yang lain, yang kamu anggap tidak penting.

Itulah pidato yang sangat luar biasa. Sangat dalam dan luas maknanya, meliputi semua kepentingan umat manusia sepeninggal Rasulullah Saw. Selain permasalahan tuntutan kabilah, nabi juga menegaskan hal-hal terkait kehidupan sosial manusia, mulai dari urusan sosial, ekonomi, hingga politik, telah nabi sampaikan semacam kerangka tuntunannya yang universal.  

Kutipan singkat pidato nabi tersebut saya anggap sebagai dasar-dasar perlindungan hak asasi manusia yang dijamin oleh Allah Swt.

Seribu tiga ratus lima puluh sembilan tahun kemudian, umat manusia modern “mendeklarasikan ulang” Hak Asasi Manusia lewat Perhimpunan bangsa-bangsa yang bertujuan untuk menetapkan standar hidup bersama bagi semua orang di seluruh belahan dunia yang menjadi hak setiap individu.

Dan, pada gilirannya, deklarasi mendorong semua negara anggota PBB agar bersama-sama berjuang menuju standar hidup yang dimaksud dalam deklarasi bagi rakyat di lingkungan mereka.

Adanya deklarasi juga dinilai sebagai standar pencapaian bersama untuk semua orang dan bangsa. Dalam deklarasi dijabarkan beragam hak dan kebebasan fundamental yang menjadi hak setiap orang.

Hak ini melekat pada siapa pun tanpa memandang kebangsaan, tempat tinggal, jenis kelamin, asal kebangsaan atau etnis, agama, bahasa, atau status lainnya. 

Penghargaan Allah Paling Mendasar

Dalam sejarah manusia awal, larangan perampasan hak atas diri manusia  sudah dijamin oleh Allah Swt. Kisah Habil dan Qabil menjadi pelajaran pertama tentang larangan membunuh, apapun alasannya. Kemudian secara berangsur, hukum atas menghilangkan nyawa di dalam kehidupan manusia diberlakukan “darah dibalas dengan darah”.

Namun pada hakikatnya nilai kemanusian begitu mulia, hingga nabi memberikan tuntunan yang wajar dan amat manusiawi di tengah-tengah kehidupan Arab masa Jahiliyah.

Dan bukan hanya terkait nyawa manusia, nabi juga mengingatkan tentang kehormatan diri manusia, kepemilikan  yang tidak boleh dirampas dengan batil. Itulah penghargaan Tuhan tentang nilai kemanusiaan dan hak-haknya yang paling mendasar.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak adam” (Q.S. al Isra : 70)

Ayat tersebut amat universal, pesannya kuat, itu dapat  menjadi tonggak sejarah peradaban manusia pasca kemunculan Islam. Bukan saja di tanah jazirah Arab, namun di seluruh dunia.

Misalnya sebagaimana pendapat Abul A’la Maududi, bahwa hak untuk hidup, hak keamanan, kebebasan dan keadilan adalah hak-hak dasar dalam Islam, yang pada Deklarasi Kairo tahun 1990, menjadi diskusi tersendiri tentang perumusan deklarasi Hak Asasi Manusia PBB yang dijadikan rujukan umum namun membatasi secara eksplisit pada batasan-batasan yang ditetapkan oleh syariah.

Oleh karenanya bicara tentang HAM, sejatinya kita bicara tentang penghargaan Tuhan kepada manusia yang tidak boleh diganggu atau dirampas. Hak Asasi Manusia sesungguhnya penghargaan tertinggi yang Allah tetapkan dan sematkan dalam setiap diri anak Adam.

Perkembangan kehidupan manusia dari zaman ke zaman, tidak bisa dipisahkan dari dasar-dasar yang kuat akan perlindungan hak kemanusiaannya, meski dalam perspektif agama ditafsirkan lewat yurisprudensi secara lebih spesifik dan akomodatif. [Luk]


[1] https://m.marefa.org/خطبة الوداع