Kolom

Hari Hari Sulit Bersama Sakana

Noerjoso
×

Hari Hari Sulit Bersama Sakana

Sebarkan artikel ini
sakana
Ilustrasi: Unsplash/Claudio Schwarz

DEMAM badanya masih tinggi.  Beberapa kali Sakana terlihat terbatuk-batuk.  Beberapa lembar baju ia kenakan sekaligus agar tubuhnya terasa lebih hangat.  Namun begitu masih saja tubuhnya yang kurus itu terasa menggigil kedinginan.  Setelah menelan beberapa jumput nasi dan sisa sayur kemarin. Perempuan setengah baya itupun bergegas melangkahkan kakinya keluar rumah. 

Di pojok ruangan, anak gadisnya masih belum selesai membereskan buku-buku pelajarannya ketika ia berpamitan padanya.  Tulang mata gadis kecil itu terlihat menonjol dengan bola mata yang seperti jauh tersembunyi ke dalam.  Gadis kecil itu hanya bisa mengangguk pelan menjawab perkataan emaknya.

Sakana tahu persis bahwa gudang bongkar muat beras tempatnya mengais rejeki sudah 3 hari ini tutup karena diminta tutup oleh pemerintah kota.  Namun begitu Sakana tak punya pilihan lain hendak bekerja apa.  Pemerintah kota telah menetapkan kawasan di mana gudang bongkar muat itu berada sebagai kawasan bisnis dan perkantoran. 

Sehingga tidak diperkenankan adanya aktivitas bongkar muat serta mobilitas truk-truk besar lalu lalang di kawasan tersebut.  Sementara itu Pak Kardi sang pemilik gudang bongkar muat itu tidak memiliki tempat lain untuk memindahkan usahanya.  Otomatis tak satupun truk berani membongkar muatan berasnya.

Padahal dari kegiatan bongkar muat itulah Sakana memperoleh beberapa lembar uang untuk menyambung hidupnya.  Selain menjadi buruh bongkar muat, ia juga mengais ceceran beras yang tumpah di lantai gudang.  Dari mengumpulkan ceceran beras itulah Sakana mendapatkan tambahan penghasilan. 

Sejumput demi sejumput ceceran beras itu ia kumpulkan.  Selanjutnya setelah terkumpul cukup banyak ia jual atau dimasak sendiri.  Sakana sadar keluar rumah saat sakit seperti sekarang ini bak mengantar nyawa pada malaikat maut.  Tapi Sakana tak punya pilihan lain. 

Seperti hari kemarin, gudang bongkar muat masih tutup dan tak tahu kapan akan dibuka kembali.  Sakana hanya bisa duduk termenung di salah satu sudut halaman gudang tanpa tahu harus melakukan apa-apa.  Pikirannya sudah semakin kusut.  Apalagi beras di rumah sudah habis hari kemarin. 

Entah bagaimana tiba-tiba saja janda beranak satu itu merasa  pusing.  Pandangannya kabur.  Dan sedetik kemudian ia telah tak sadarkan diri.

Tidaklah berlebihan jika mengatakan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan adalah mimpi setiap orang.  Dalam pandangan Islam, kebahagiaan sebenarnya diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang mengerjakan perbuatan baik yang dilandasi oleh iman. 

Sebagaimana janji Allah pada surat An Nahl ayat 97 (Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka pasti Kami (allah) akan berikan kehidupan yang baik (kebahagiaan) dan akan kami berikan balasan berupa pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan  ).  

Sementara itu Al Qur’an juga telah memberi petunjuk bahwa indikator kebahagiaan dan kesejahteraan adalah iman, tercukupinya pangan serta bebas dari rasa takut dan kecemasan (ihat surat Quraisy ayat 3-4 ; Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberikan makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut).