Scroll untuk baca artikel
Khazanah

Ibnu Sina, Doktrin Wujud dan Bapak Pengobatan Modern

Redaksi
×

Ibnu Sina, Doktrin Wujud dan Bapak Pengobatan Modern

Sebarkan artikel ini

BARISANCO – Sosok Ibnu Sina dikenal di kalangan muslim dan terlebih di dunia barat dengan menyebut namanya dengan Avicena. Ibnu Sina dilahirkan pada 370 H atau 980 M di Bukhara. Sejak kecil Ibn Sina sudah giat belajar dan senantiasa memperoleh ilmu dan memiliki keahlian.

Sehingga Ibnu Sina memperoleh kedudukan terhormat karena keunggulannya dalam ilmu-ilmu dan kejuruan Islam. Ia pun dijuluki dengan gelar-gelar besar seperti, Syaikh Ra’is dan Hujjat al-Haq.

Ibnu Sina menguasa beragam ilmu, menamatkan al-Quran dan menguasa ilmu nahwu pada umur sepuluh tahun. Ia belajar juga ilmu logika dan ilmu pasti yang diambilnya dari Abdillah Hatali. Selain itu ia juga mempelajari ilmu-ilmu alam, metafisika, yang di dalamnya terdapat metafisikanya Aristoteles.

Di usia delapan belas tahun Ibnu Sina sudah memahami karya Aristoteles dan Al-Farabi. Menurut keterangan dari muridnya Jurjani, bahwa sepanjang kehidupannya telah menghasilkan ilmu-ilmu yang sebagian besar ditulis ketika berumur delapan belas tahun.

Ibnu Sina memang dikenal di bidang kedokteran, sehingga menjadikan Sultan memberikan pintu masuk untuk mengakses perpustakaan istana. Ibnu Sina memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di istana Fakhru ad-Daulah di dalam kota.

Ia pernah mengobati Sultan hingga sembuh, menjadikan Ibnu Sina disukai dilingkungan istana. Sehingga mengantarkan Ibnu Sina menjadi menteri. Semenjak wafatnya Sultan, kebijakan politik bertentangan dengan dirinya, ia menolak jabatan akibatnya ia dipenjarakan.

Dalam waktu sembilan tahun Ibnu Sina menulis beberapa buku penting. Juga mempelajari ilmu astronomi dan berhasil menciptakan teleskop.

Namun semenjak serangan dari Mas’ud ibnu Mahmud, merupakan penyebab hilangnya sejumlah karya-karya orang bijak ini sampai-sampai keterkejutan karena kehilangan karya-karyanya.

Ibnu Sina  sangat menderita sehingga kembali ke Hamdan dan wafat pada tahun 428 H atau 1037 M. Di Hamdan Ibnu Sina bersemayam, masih ada kuburannya hingga saat ini.

Karya-karya Ibnu Sina

Karya tulis Ibnu Sina yang beredar hingga kini, yang masih ada.  Diperkirakan sebanyak dua ratus lima judul, termasuk buku-buku singkat dan kumpulan surat-suratnya. Karya tulisnya mencakup tema-tema populer pada abad pertengahan.

Pada umunya tulisan-tulisan Ibnu Sina menggunakan bahasa Arab, meskipun sebagiannya berbahasa Persia, yaitu buku ilmu pengetahuan yang dipersembahkan kepada Ali ad-Daulah, yang dianggap sebagai tulisan falsafi pertama dalam tulisan Persia.

Gaya bahasa Ibnu Sina dalam bahasa Arab, khususnya dalam tulisan-tulisan pertamanya masih sulit dipahami. Setelah ia berada di Isfahan dan mempelajari sastra Arab, ia mampu menjawab kritikus-kritikus sastra Arab.

Hal itu dibuktikan dengan buku-buku yang ditulisnya menjelang tahun-tahun terakhir kehidupannya. Kitab al Isyarat wal Tanbihat yang telah menggunakan perkembangan bahasanya. Sedangkan buku-buku Ibnu Sina filsafat di mana as-Syifa, yang dipandang sebagai ensiklopedia ilmiah terpanjang satu-satunya yang pernah ditulis oleh seorang pengarang. Selain itu buku an-Najat yaitu ringakasan as-syifa’.

Sebagian besar karya-karya Ibnu Sina buku-buku mengenai logika, ilmu jiwa, ilmu alam semesta dan ilmu teologi. Selain itu ia juga menulis buku berjudul al-Bathiniyyah, yang termasuk buku penting.

Sedangkan yang berkaitan dengan kedokteran secara khusus. Ibnu Sina dengan karyanya al-Qonun sebuah buku mengenai sejarah kedokteran yang terkenal paling bertahan di Timur sampai sekarang dan masih dipelajari.

Kitab Alarjuzah dibidang kedokteran yang terhimpun dasar-dasar kedokteran Islami. Ditulis dengan bentuk bait-bait syair bersejarah yang mudah dihafalkan. Juga sejumlah buku-buku berbahasa Arab dan Persia yang membicarakan tentang penyakit dan obatnya.