Kontemplasi

Kita Membutuhkan Ibnu Sina Abad 21

A. Ramdani
×

Kita Membutuhkan Ibnu Sina Abad 21

Sebarkan artikel ini
ibnu sina abad 21
Ibnu SIna/Foto: cmihospital.com

Ini paradigma yang sama dengan masalah filosofis dalam menyikapi berbagai kejadian. Kita membutuhkan Ibnu Sina abad 21!

BARISAN.CO – Saat saya membuka beberapa laman berkenaan dengan kata kunci ilmuan muslim, saya tertarik membaca lebih jauh tentang salah seorang tokoh ilmuan yang hidup di zaman kekaisaran Samanid Persia, pada masa pemerintahan Nuh II tahun 997, dialah Ibnu Sina, dalam penyebutan dunia barat dikenal juga sebagai “Avicenna”, adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan dokter kelahiran Persia. Ia juga seorang penulis yang produktif yang sebagian besar karyanya adalah tentang filsafat  dan kedokteran.

 Yang menarik dari tokoh sains dan kedokteran modern ini adalah tentang pengetahuannya yang amat luas dan penguasannya akan ilmu filsafat. Ibnu Sina bukan hanya seorang ilmuan, namun  juga ahli dalam pengetahuan keagamaan, serta seorang filsuf.

Sejak merebaknya Covid-19, minat para pengamat kedokteran dan kesehatan untuk mendalami pemikiran Ibnu Sina, seorang ilmuwan Muslim dari  Iran yang memiliki pengaruh mendalam dan abadi pada bidang kedokteran amat besar. Karya monumentalnya The Canon of Medicine, disebut sebagai asas penting tentang pengendalian penyebaran penyakit melalui ide karantina, yang awalnya diterbitkan pada tahun 1025.

Menurut sejarawan Jamal Moosavi, karya Ibnu Sina terus memainkan peran penting dalam pengembangan kedokteran di dunia Muslim dan Eropa selama 600 tahun setelah kematiannya. Itu menunjukkan bahwa Ibnu Sina merupakan  tokoh monumental dalam sejarah kedokteran yang juga inspiratif sebagai pemikir filsafat.

Ibnu Sina lahir di desa Afshana Transoxiana Bukhara tahun 980. Ayahnya seorang pejabat birokrasi Samanid, pernah menjabat sebagai gubernur sebuah desa di kawasan kerajaan Harmaytan (dekat Bukhara).

Di bawah pemerintahan Samanid yang menapaki sejarah kebangkitan linguistik Persia serta promosi budaya Arab-Islam yang tinggi, memberikan kesempatan yang istimewa bagi Ibnu Sina sejak remaja untuk banyak belajar dari perpustakaan istana Samanid, yang berisi buku-buku  tentang semua bidang pengetahuan. Termasuk buku-buku karya orang-orang Yunani kuno dalam terjemahan bahasa Arab, yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Pembelajar otodidak polymath yang tercerahkan

Jika coba memahami pemikiran Ibnu Sina dalam berbagai sumber, kita akan disajikan perjalanan hidup ilmuan yang memiliki perhatian terhadap dunia manusia secara fisik dan metafisik lengkap.

Unsur material dan fakultas-fakultas spiritual beririsan dengan kecerdasannya mendalami, membuat pemikiran dan narasi baru atas filsafat dan logika Aristoteles. Serta keaktifannya melahirkan pikiran-pikiran kritis atas berbagai pemikiran, dan kehidupan sosial politik di antara kekuasaan pemerintahan yang ia alami.

Ibnu Sina mampu meramu berbagai informasi pengetahuan secara otodidak dalam olah diri yang berdisiplin, keseriusan dalam merenung dan meniti pustaka secara jenius.

Bahkan kemampuannya secara spiritual seakan memberikan ‘value’ tersendiri dalam  melahirkan karya-karya sains, dan sebagai ilmuan, ia memberi “jembatan” kepada area metafisik melalui pengalaman.

Dalam ilmu logika, Ibnu Sina mengembangkan sistem logikanya sendiri yang dikenal sebagai logika Avicennian” sebagai alternatif logika Aristotelian. Pada abad ke-12, logika Avicennian telah menggantikan logika Aristoteles sebagai sistem logika yang dominan di dunia Islam.  Kritik pertama logika Aristotelian ditulis oleh Ibnu Sina, yang menghasilkan risalah independen tentang logika daripada komentar. Dia mengkritik sekolah logis Baghdad untuk pengabdian mereka kepada Aristoteles pada saat itu.