Scroll untuk baca artikel
Kolom

Ihwal Dua Domba

Redaksi
×

Ihwal Dua Domba

Sebarkan artikel ini
Ihwal Dua Domba

Refleksi atas eksperimen dua domba Ibnu Sina menegaskan bahwa ketenangan jiwa adalah kunci kesehatan fisik, dan puasa Ramadhan menjadi latihan mental untuk mencapainya.

Oleh: Imam Trikarsohadi

Ahad 15 Pebruari 2026 malam, pelbagai ragam tokoh, cendekiawan, dan komunitas kembali menggelar pengajian rutin berbentuk diskusi di Brawijaya, Jakarta Selatan.

Bedanya, karena menjelang bulan Ramadhan, maka topik diskusi pun diselaraskan, dan dipilih thema terkait penelitian Bapak kodekteran modern, Ibnu Sina (Avicenna).

Ibnu Sina pernah melakukan observasi terhadap dua domba yang kemudian dikenal sebagai studi psikologis klasik untuk menunjukkan dampak kesehatan mental terhadap fisik.

Kala itu, Ibnu Sina menempatkan dua ekor anak domba yang memiliki usia dan berat badan yang sama ke dalam kandang terpisah.

Kedua domba diberi makanan yang sama dan perlakuan fisik yang sama.

Perbedaannya, di dekat salah satu domba, Ibnu Sina menempatkan serigala (di dalam kandang lain) sehingga domba tersebut bisa melihat serigala, namun serigala tidak bisa menjangkaunya.

Sementara itu, domba yang lain ditempatkan di tempat yang tenang, tanpa melihat serigala.

Hasilnha, domba yang terus-menerus melihat serigala menjadi gelisah, rewel, pertumbuhannya terhambat, berat badannya menurun, dan akhirnya mati karena stres dan rasa takut yang berkepanjangan. Domba yang tidak melihat serigala tetap sehat, gemuk, dan berkembang biak dengan baik.

Kesimpulannya, meskipun serigala tidak menyentuh domba tersebut, ketakutan dan stres (faktor mental/psikologis) dapat menyebabkan dampak fisik yang fatal.

Eksperimen ini menyoroti betapa pentingnya kesehatan mental, ketenangan jiwa, dan bahaya stres yang tidak perlu terhadap kesehatan fisik manusia.

Terkait kesehatan mental dan jiwa inilah, erat kaitanya dengan puasa Ramadhan.

Apa sebab?karena sejatinya, jika fokus pada ibadah dan refleksi diri selama Ramadhan, jiwa akan tenang, kedamaian batin meningkatkan, dan suasana hati (mood) akan membaik.

Puasa membantu mengelola emosi dan pikiran, yang berakibat pada penurunan kadar hormon stres (kortisol). Fokus pada ibadah juga mengurangi paparan pemicu stres eksternal.

Ia juga melatih menahan hawa nafsu dan amarah, yang meningkatkan kecerdasan emosional dan kesabaran.

Akan halnya suasana, Ramadhan mendorong individu untuk lebih dekat dengan Allah, meningkatkan ketenangan jiwa (mindfulness), dan memberikan makna hidup yang lebih dalam.

Secara keseluruhan, puasa Ramadhan adalah “latihan” mental untuk mencapai ketenangan, disiplin, dan kesehatan emosional yang lebih baik. []

Zero Sum Game
Kolom

Skandal Epstein mengingatkan: ketamakan elit bukan sekadar penyimpangan…