Proyeksi IMF dan Bank Dunia memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional bisa tertahan di bawah 5 persen dalam beberapa tahun ke depan.
BARISAN.CO – Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Berdasarkan laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2025 yang dirilis International Monetary Fund (IMF), ekonomi nasional hanya diprediksi tumbuh sebesar 4,65% pada tahun ini.
Angka ini jauh di bawah target asumsi dasar dalam Nota Keuangan dan APBN 2025 maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 yang menargetkan pertumbuhan 5,3% di tahun 2025.
Dalam beberapa tahun ke depan, laju pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya meningkat perlahan. IMF memproyeksikan pertumbuhan 4,67% pada 2026, 4,85% pada 2027, 4,95% pada 2028, dan baru mencapai 5,11% pada 2029.
Sementara itu, RPJMN yang disusun pemerintah menargetkan pertumbuhan jauh lebih tinggi, yaitu 6,3% pada 2026 hingga 8,0% pada 2029.
Prakiraan ini menjadi peringatan keras bagi pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto. Target ambisius untuk mendorong ekonomi tumbuh hingga 8% dalam lima tahun mendatang tampaknya sulit tercapai tanpa perubahan signifikan dalam kebijakan ekonomi nasional.
Menurut Awalil Rizky, ekonom dari Bright Institute, kesenjangan proyeksi ini mencerminkan tantangan mendalam di sektor domestik, terutama terkait dengan tingkat investasi dan produktivitas sektor industri.
“Dengan porsi investasi terhadap PDB yang stagnan di sekitar 31%, sangat sulit membayangkan pertumbuhan ekonomi bisa menembus 5%,” kata Awalil.
Data rinci dari IMF menunjukkan bahwa total investasi Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya akan mencapai 31,18% pada 2025, sedikit membaik menjadi 31,31% pada 2029.
Angka ini lebih rendah dibandingkan era awal pemerintahan Presiden Jokowi, di mana rasio investasi sempat menyentuh kisaran 34%. Bahkan, dalam periode sebelumnya, rasio ini pernah menembus angka lebih dari 40%.
Bukan hanya IMF, Bank Dunia dalam laporan Macro Poverty Outlook 2025 juga menurunkan prakiraannya terhadap ekonomi Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi diprediksi hanya 4,7% pada 2025, sebelum perlahan naik menjadi 4,8% di 2026 dan 5,0% di 2027. Hal ini mengindikasikan kesamaan kekhawatiran global terhadap kinerja ekonomi Indonesia ke depan.
Pertumbuhan konsumsi masyarakat sebagai motor utama PDB juga diperkirakan menurun. Bank Dunia memperkirakan konsumsi masyarakat hanya akan tumbuh 4,9% pada 2025, sedikit di bawah angka 5,1% pada 2024. Pertumbuhan konsumsi ini diproyeksikan stagnan hingga 2027.
Di sisi lain, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi riil, justru diprediksi tumbuh membaik, dari 4,6% pada 2024 menjadi 6,1% pada 2025. Namun, peningkatan ini belum cukup kuat untuk mengimbangi pelemahan sektor konsumsi dan industri.
Sektor industri, yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDB nasional, juga diprediksi melambat drastis. Pertumbuhannya diproyeksikan turun dari 5,0% pada 2024 menjadi 3,8% pada 2025.
Pada 2026 dan 2027, sektor ini hanya mampu tumbuh sekitar 4,0%. Melambatnya sektor industri ini menjadi penyumbang utama perlambatan ekonomi nasional.
Sektor jasa-jasa, sebagai pendorong pertumbuhan lain, diperkirakan juga mengalami perlambatan serupa.
Hanya sektor pertanian yang diprediksi mengalami pertumbuhan lebih tinggi, dari 0,7% pada 2024 menjadi 3,6% pada 2025, meski kembali melambat ke angka 3,0% pada 2026 dan 2027.
Dalam pandangan Awalil Rizky, lambatnya pertumbuhan industri dan konsumsi akan menjadi kendala serius bagi pencapaian target pemerintah.
“Tanpa reformasi struktural di sektor industri, investasi, dan penguatan daya beli masyarakat, angka pertumbuhan 8% hanya akan menjadi target di atas kertas,” tambahnya.
Selain itu, turunnya belanja konsumsi pemerintah yang diprakirakan kontraksi hingga -2,1% pada 2025, juga dinilai memperberat upaya pemulihan ekonomi.
Pemerintah tampaknya harus mengambil langkah-langkah lebih agresif untuk memperkuat belanja produktif dan mempercepat reformasi ekonomi.
Dengan tantangan global yang masih membayangi dan dinamika domestik yang belum sepenuhnya pulih, berbagai indikator menunjukkan bahwa perjalanan ekonomi Indonesia menuju pertumbuhan tinggi tidak akan mudah.
Pemerintah perlu realistis dalam menetapkan target, sekaligus segera mengambil langkah konkret untuk memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang. []









