Politik & Hukum

INDEF: Figur Menteri Lebih Populer Daripada Lembaganya

Avatar
×

INDEF: Figur Menteri Lebih Populer Daripada Lembaganya

Sebarkan artikel ini
figur menteri
Ilustrasi: Unsplash/Gian Cescon

Diskusi Publik INDEF – Kaleidoskop Kabinet Indonesia Maju 2022 dengan tema Sepak Terjang Kebijakan Kabinet Indonesia Maju dan Respon Masyarakat Melalui Pendekatan Big Data

BARISAN.CO – Direktur Pusat Studi Media dan Demokrasi LP3ES, Wijyanto mengataka survei CSIS menyebutkan Pemilu 2024 diisi hampir 60% oleh generasi Z dan Gen Milenial. Sosok Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil dan Erick Thohir menjadi popular di generasi itu. Hal itu karena figur-figur tersebut memanfaatkan media sosial Tiktok, dan lain-lain sebagai alat mendongkrak kepopuleran. Kenapa politisi repot-repot bermain di medsos tiktok dan lain-lain, karena politisi tahu betul, siapa yang memenangkan medsos maka dia kemungkinan besar adalah pemenang pemilu. Ditambah, elit cenderung melakukan manipulasi opini untuk memenangkan suara publik.

“Bagi yang paham, akan mengerti bahwa pertarungannya sebenarnya memang ada di media sosial,” sambugnya pada acara Diskusi Publik INDEF – Kaleidoskop Kabinet Indonesia Maju 2022 dengan tema Sepak Terjang Kebijakan Kabinet Indonesia Maju dan Respon Masyarakat Melalui Pendekatan Big Data, Jumat (23/12/2022).

Wijyanto menyampaikan pada 4 tahun terakhir LP3ES mengadakan outlook berupa refleksi atas situasi demokrasi di Indonesia yang mengalami kemunduran sejak 2019-2022 dan mungkin 2023. Salah satu outlook LP3ES dilaksanakan dengan diskusi 136 tokoh ilmuwan politik. 20 di antaranya dari luar negeri.

“Mereka semuanya sepakat tentang adanya kemunduran demokrasi di Indonesia yang dirangkum dalam satu judu buku: “Demokrasi tanpa Demos”,” imbuhnya.

Wijayanto menyebut riset Drone emprit, KTLV dan LP3ES, misalnya pada kebijakan revisi UU KPK 2019, meski yang kontra kebijakan tersebut tinggi, namun tetap menjadi kebijakan.

“Ada juga manipulasi opini publik seperti tagar-tagar KPK Taliban, KPK patuh aturan dsb. Berdasarkan riset LP3ES isu itu diciptakan oleh buzzersRp yang bekerja karena dibayar. Hal lainnya adalah UU Omnibus Law 2020 yang juga resistensinya tinggi, dan MK sudah menyatakan UU tersebut cacat formal dan procedural,” terangnya.

Menurut Wijayanto, menteri-menteri paling popular menjelang tahun politik ternyata tokoh lebih popular daripada Kementeriannya. Hal itu menunjukkan budaya politik Indonesia secara umum, bahwa politik kita masih berkutat pada tokoh, pada individu.

“Ketika Anies Baswedan sebagai capres ratingnya naik, ternyata kemudian berpengaruh pada Partai Nasdem yang mendukungnya. Jokowi juga berpengaruh pada PDIP meski naik turun ratingnya. Juga dulu tokoh SBY mendongkrak elektabilitas Partai Demokrat,” jelasnya.

Lebih lanjut Wijayanto menyampaikan figur-figur tersebut adalah yang selalu masuk dalam survei. Sejauh ini yang paling popular adalah Menhan Prabowo, meski tren nya menurun namun masih di papan atas. Machfud MD menyusul dan diisukan disiapkan jadi wapres. Juga Erick Thohir, dan SMI.

“Mereka popular karena kinerjanya bagus atau tidak? Itu yang jadi pertanyaan. tetapi meamng, nama-nama itu secara volume dan perbincangan konsisten ada di top of mind perbincangan publik medsos,” ujarnya.

Wijayanto mengatakan terkait temuan INDEF bahwa figur menteri jauh lebih popular ketimbang Kementeriannya. Itu menjadi catatan tersendiri. Mestinya seimbang antara lembaga dan menterinya. Walaupun ditinjau dari masa depan demokrasi dan masa depan pertumbuhan ekonomi suatu negara apalagi di negara maju, maka siapapun pejabatnya, sistemnya atau negaranya akan konsisten prestasinya dalam sisi demokrasi juga ekonomi.