Indeks Pembangunan Manusia Indonesia Naik, Tapi Pendidikan Masih Bermasalah

  • Whatsapp
Ilustrasi barisan.co/Bondan PS

Barisan.co – Dalam laporan terbaru Bank Dunia, “the Human Capital Index 2020 Update: The Human Capital in the Time of COVID-19” tercatat nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia naik dari 0,53 pada tahun 2018, menjadi 0,54 di tahun 2020.

Kenaikan ini dinilai penting. Paling banyak ia menunjukkan bahwa sektor kesehatan dan pendidikan kita telah semakin baik dalam mendukung produktivitas generasi mendatang. Secara rinci, indeks ini menggambarkan peluang hidup manusia hingga usianya 5 tahun (dan kaitannya dengan stunting), kualitas dan kuantitas pendidikan, harapan hidup, serta bagaimana tiga hal itu kemudian memengaruhi kemampuan ekonomi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Pada prinsipnya, IPM mencatat tahapan utama manusia mulai dari lahir hingga dewasa. Di negara-negara termiskin di dunia, terdapat risiko yang signifikan bahwa seorang anak tidak dapat bertahan hidup hingga ulang tahunnya yang kelima. Dan pada itu, terlihat peluang hidup balita Indonesia meningkat dari 0,97 (2018) menjadi 0,98 (2020).

Angka harapan hidup penduduk—15 tahun ke atas—juga tercatat naik sebesar 0,85 dibanding 2018 yang hanya 0,83. Artinya, pada tahun 2020 ini, 85 persen dari penduduk berusia di atas 15 tahun punya harapan untuk hidup sampai usia 60 tahun.

Terdapat pula kenaikan yang cukup signifikan pada komponen kesehatan, dari 0,66 menjadi 0,72. Angka ini menggambarkan terjadinya kenaikan jumlah anak yang tidak mengalami stunting dan keterbatasan kognitif dan fisiknya.

Meski begitu, di antara 10 negara ASEAN, Indonesia masih berada di peringkat kelima. IPM Indonesia belum lebih baik daripada negara berwilayah kecil Singapura. Tapi sudah lebih baik dari negara berwilayah kecil lainnya, Timor Leste. Singapura sendiri menjadi negara bermodal manusia terbaik di dunia dengan angka 0,88. Sedang Timor Leste menitiskan angka 0,45.

Mutu Pendidikan Belum Baik

Secara umum tampak sisi kesehatan Indonesia telah membaik. Akan tetapi di sisi lain, pendidikan kita masih mengantongi beberapa permasalahan. Dalam laporan yang sama, Bank Dunia mencatat durasi waktu sekolah anak Indonesia berada pada 7,8, turun dari sebelumnya 7,9.

Sedangkan kualitas pendidikan turun sebesar 395 poin dari 403 poin di periode sebelumnya. Meskipun sudah melewati angka pencapaian kualitas umum minimal (300 poin), pendidikan Indonesia belum melambangkan pencapaian tingkat lanjut (625 poin) sesuai ukuran pembangunan manusia yang baik.

Kualitas pendidikan menurut Bank Dunia sendiri, diukur lewat gabungan tiga asesmen utama, atau sering disebut Harmonized Test Score. Ketiganya adalah perkembangan studi matematika dan sains, tingkat literasi, serta program penilaian pelajar internasional (PISA).

Laporan Bank Dunia menjadi tanda untuk segera melakukan perbaikan. Salah satu jalan untuk mengatasi menurunnya tingkat pendidikan kita, adalah dengan mencari persoalan dramatis yang tidak mengarah pada infrastruktur, melainkan mutu pendidikan.

Sejauh ini, fokus pendidikan kita masih kepada infrastruktur dan belanja pegawai. Belum kepada efektivitas pemelajaran di sekolah maupun perguruan tinggi. Misalnya, dalam konteks COVID-19, ada pengadaan bantuan kuota internet bagi siswa, tetapi siswa tersebut tinggal di tempat yang jaringan internetnya tidak stabil. Bahkan ada juga siswa tinggal di tempat yang internet belum masuk. Akibatnya, bantuan menghabiskan dana namun tidak tepat guna.

Dalam pada itu, peningkatan kualitas guru juga perlu diperhatikan. Rata-rata kualitas guru masih rendah, dan hanya sedikit dari jumlah mereka yang mampu membawa wawasan siswa berkembang ke arah pemikiran kritis dan kompetitif untuk membangun masa depannya. []

Avatar
Latest posts by Ananta Damarjati (see all)

Pos terkait