Perspektif Adib Achmadi

Jalan Membangun Ekonomi Kerakyatan

Adib Achmadi
×

Jalan Membangun Ekonomi Kerakyatan

Sebarkan artikel ini
jalan membangun ekonomi kerakyatan
Ilustrasi: Unsplash/Fauzan

SAYA pernah terkesima pada sebuah Dusun di pelosok Desa yang memiliki masjid besar dan megah. Disamping masjid terlihat ada bangunan sekolah berukuran besar berlantai dua untuk TK dan SD. Tidak jauh dari masjid dan sekolah ada  fasilitas sosial untuk kegiatan posyandu dan Puskesmas Pembantu (Pustu).

Kekaguman saya pada Dusun itu lantaran semua bangunan peribadatan, pendidikan dan fasilitas sosial  dibuat secara swadaya. Warga melalui berbagai kegiatan sosial keagamaan cukup antusias ketika dimintai dukungan partispasi pendanaan.

Sedikit kontras dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Dusun itu menurut data statistik tergolong miskin.  Situasi itu seperti memberikan pesan bahwa antusiasme keberagamaan tidak terkait dengan keadaan ekonomi masyarakat.

Dengan kata lain antara gerak ekonomi dan dinamika sosial keagamaan masyarakat punya jalur yang berbeda.

Sebenarnya bukan semata soal bangunan peribadatan dan fasilitas sosial. Pada kehidupan sehari hari umumnya masyarakat biasa menjalankan kegiatan tradisi dan keagamaan disertai biaya yang seringkali dinilai tak ekonomis. 

Banyak pengeluaran yang harus menjadi beban masyarakat dalam menjalankan kegiatan sosial keagamaan  seperti tradisi menyambut kelahiran, hajat pernikahan, kematian, dan berbagai macam kegiatan lainnya.

Tapi begitulah potret umumnya masyarakat kita. Mereka adalah manusia religius ketimbang manusia ekonomi.  Manusia religius dalam aktivitasnya digerakkan oleh pesan pesan agama atau budaya. Sedangkan manusia ekonomi digerakkan oleh motif motif yang sifatnya ekonomi.

Pertanyaan penting dalam memahami  masyarakat di atas adalah apakah  memungkinkan antara aktifitas religius dan ekonomi berjalan beriring? Dengan kata lain apakah memungkinkan kegiatan religius sekaligus mendorong aktifitas produktif ekonomis?

Jawabannya adalah mungkin. Namun sebelum menjawabnya, ada beberapa hal yang perlu dipahami. Pertama, bahwa ‘bahan dasar’ masyarakat kita umumnya  bukan manusia ekonomi (homo economicus). Masyarakat kita adalah manusia religius atau manusia budaya yang cenderung menempatkan urusan batin sebagai yang utama. Materi tentu penting tapi bukan menjadi tumpuan utama.

Bekerja atau aktifitas berproduksi cenderung bukan berorientasi ekonomi melainkan aktifitas budaya.  Petani tradisional misalnya, dalam mengolah sawah lebih bermotif budaya daripada ekonomi.

Meski modernisasi sudah demikian gencar, watak tradisional masih memberikan pengaruh besar. Religiusitas dan ketradisionalan masyarakat masih menjadi gambaran umum.

Kedua, mendorong ekonomi masyarakat, tidak berarti mengalihkan masyarakat religius menjadi manusia ekonomis. Banyak kebijakan dan program ekonomi kerakyatan dalam prakteknya  tidak memberikan hasil yang signifikan kalau tidak boleh dibilang gagal. 

Kegiatan ekonomi atau apapun itu, sejauh ditujukan pada masyarakat yang umumnya tradisional harus mendapatkan dasar pijak agama atau tradisi.  Ekonomi harus menjadi bagian dari nafas agama dan budaya.

Langkah membangun ekonomi rakyat tentu tak mudah.  Setidaknya ada dua hal yang harus dikerjakan secara serius. Pertama, menyiapkan sandaran teologi bagi aktifitas ekonomi. Maksud teologi di sini adalah mengambil seperangkat ajaran yang bersumber pada agama atau budaya yang relevan dengan ekonomi.