MALAM itu Rendy kebingungan mencari dompetnya yang hilang. Terakhir sore tadi, ia pulang memancing di sebuah telaga yang berjarak 10 km dari rumah.
“Sial! Pasti dompetku tertinggal di warung dekat telaga itu,” gumamnya, “aku harus ke sana malam ini juga!”
Bersama motornya, Rendy melaju kencang ke arah telaga yang sudah gelap. Dan sampailah ia di sebuah warung yang akan segera tutup, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam.
“Maaf Bu, tadi apakah ada dompet yang tertinggal di sini?” tanya Rendy kepada ibu penjaga warung.
“Maaf, setahu saya nggak ada, Mas. Coba saja cari di sekitar sini!” kata ibu itu.
“Baik, Bu. Terima kasih,”
Dengan senter, Rendy pun mencari ke sana kemari termasuk di bibir telaga. Sampailah di dekat batu besar yang dipakainya untuk duduk memancing. Terkejutlah ia karena menjumpai mantan pacarnya yang sudah lama tak bertemu sedang bersandar pada batu itu.
“Cecil? Apakah itu kau?” tanya Rendy terkejut.
“Eh … Mas Rendy. Ngapain malam-malam ke sini? Sedang mencari sesuatu, ya?” tanya gadis itu.
“Eh, iya. Tapi kenapa kamu juga malam-malam ke telaga ini, apa kamu gak takut?”
“Iya, Mas. Aku bosan di dalam rumah. Sedang jalan saja ke sini. Lagian di rumah gak enak, gak ada teman yang bisa mengobati kegalauan hati ini,”
“Lho … bagaimana, sih? Kan, sudah ada si Aldi tunanganmu?” kata Rendy dengan menunduk kecut.
“Maaf, Mas Rendy. Cecil sudah tak bersamanya lagi. Dia jahat, tidak sebaik seperti Mas. Dan maaf atas keputusanku meninggalkanmu dulu. Cecil menyesal, Mas,” kata Cecil tertunduk sedih.
“Hmmm … aku sudah memaafkanmu sejak lama, Cecil. Kalau bukan karena orang tuamu, aku pun tak akan mau pergi begitu saja. Ibumu memang sudah mempunyai calon. Namun terus terang aku …,” kata Rendy tak meneruskan.
“Kenapa, Mas?”
“Aku … masih mengharapkanmu,” sahut Rendy tertunduk melirik Cecil.
“Maaf, Mas. Aku takut akan mengecewakanmu. Memang kita menjalin hubungan selama 3 tahun, sampai dipisahkan. Namun untuk memulainya lagi, aku ragu,” jawab Cecil.
“Maaf, Cecil. Mungkin aku terlalu terburu-buru untuk mengatakan itu. Lagi pula ibumu sungguh keras kepadaku. Sekali lagi maaf. Tapi bolehkan mas mampir ke rumah kapan-kapan? Semoga saja beliau sudah tidak marah,”
Cecil pun hanya mengangguk saja dengan malu menyodorkan sebuah dompet yang dipegang dari balik punggungnya.
“Ini ….” kata Cecil.
“Lho, ini kan dompetku? Terima kasih Cecil, kau yang menemukannya sejak tadi, ya? Pantasan tanya aku sedang mencari sesuatu. Kamu ini …,” kata Rendy mencubit lengan Cecil.
“Idihhh … Mas Rendy masih genit! Dasar nakal, sebodo ah …,” ujar Cecil manja dengan masih menunduk malu.
Kedua sejoli itu saling mengobrol mengenang masa lalu mereka. Canda dan sedikit kemesraan yang telah lama terpendam dalam hati, tercurahkan di sebuah percakapan yang akrab tetapi terasa kikuk. Mengingat bahwa mereka sangat sulit untuk menjalin hubungan kembali.
“Cecil, hari sudah malam, ayuk kita pulang! Kamu gak pakai motor, kan?”
Baiklah, tapi antar, ya! Aku capek jalan kaki dari rumah tadi,” jawab Cecil.
“Oke, Tuan Putri. Hamba laksanakan!” Rendy pun bersemangat.
Dengan hati berbunga-bunga keduanya berboncengan melaju pulang ke arah rumah Cecil. Namun ketika sampai di ujung gang yang agak jauh dari rumahnya, Cecil meminta untuk turun.
“Sini saja, Mas Rendy. Cecil gak mau kalau sampai rumah. Takut sama Ayah dan ibu,” kata Cecil turun dan berlari.
“Baiklah tapi …, lho …?” Rendy menengok ke belakang hendak berkata, namun Cecil telah hilang dari pandangannya dengan meninggalkan jepit rambut emas yang terjatuh di jalanan.
Kemudian Rendy pun memungut jepit rambut itu seraya berpikir hendak dikembalikannnya perhiasan emas milik Cecil itu ke rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Dengan keberanian yang dikumpulkannya, Rendy berkunjung ke rumah Cecil yang ternyata telah ramai oleh para tetangga.
“Assalamualaikum. Maaf, Pak. Saya teman Cecil, bisa bertemu dengannya? Ada apa ya, kok ramai sekali? Ada hajatankah?” tanya Rendy bingung kepada salah seorang tetangga.
“Waalaikumsalam. Adek ini teman Cecil? Apakah tidak mendengar kabar tentangnya? Cecil sudah tiada,” kata Pak Usman seorang tetangga.
“Ah … Bapak bercanda. Saya tadi mengantar Cecil pulang dari Telaga Bening sana itu. Lalu berniat mau mengembalikan jepit rambut emasnya yang terjatuh di jalanan ketika berlari ke sini. Malah Bapak bicara bahwa Cecil sudah tidak ada? Jangan macam-macam Bapak ini,” kata Rendy sedikit jengkel.
“Nak, memang Cecil sudah tidak ada alias meninggal dunia! Tenggelam di Telaga Bening sana itu dengan indikasi dibunuh oleh tunangannya sendiri si Aldi yang sudah tertangkap! Kok saya malah dituduh bicara macam-macam? Kami para tetangga dan keluarganya sedang berkabung seminggu ini!” ujar Pak Usman.
“Apa?!! Jadi-jadi …!” jawab Rendy terkejut sambil terduduk berlutut di tanah masih memegangi jepit rambut Cecil.
Mendengar penjelasan Pak Usman itu, bak petir menggelegar menghancurkan hati Rendy karena berita Cecil yang sangat menyedihkan.
Sendi tulang Rendy terasa kelu tak bertenaga. Keringat dingin mengucur deras dari wajahnya. Saat itulah Siska–kakak Cecil– keluar dari dalam rumah menemui kedua orang yang sejak tadi dilihatnya.
“Kamu Rendy, ya? Mengapa bisa sampai ke sini, dan dari mana tahu bahwa Cecil sudah tidak ada?” tanya Siska masih sembab menangis karena ikut berdoa bersama untuk arwah adiknya.
Dengan gemetar bercucuran air mata, Rendy memberikan jepit emas kepunyaan Cecil dari tangannya kepada Siska, tanpa bisa berkata-kata.
“Ini … ini jepit rambut Cecil yang katanya ikut tenggelam di telaga! Tapi mengapa bisa sampai di tanganmu, Rendy?” tanya Siska terkejut.
“Kak … aku menemukannya tadi di jalanan menuju ke sini. Setelah mengantar Cecil pulang ke rumah ini dari pertemuan di telaga itu. Kami berbincang lama mengenang hubungan kami. Dia meminta maaf kepadaku … aku … aku …,” kata Rendy bergetar tak mampu meneruskan ceritanya.
Tangis pun pecah antara keduanya mendengar penjelasan Rendy yang mengharukan dan menakjubkan. Tak jauh dari mereka, sesosok arwah yang tak terlihat mata, ikut pula menangis sedih kemudian menghilang kembali ke asalnya.
* * *

Agung Wibowo; Penyair tinggal di Semarang, menulis puisi dan cerpen. Buku kumpulan puisi tunggalnya berjudul “Jalan Cinta.”
