Scroll untuk baca artikel
Opini

Kegagahan Dokumen Tanfidz dan Menganganya Luka Bumi

Redaksi
×

Kegagahan Dokumen Tanfidz dan Menganganya Luka Bumi

Sebarkan artikel ini

MUKTAMAR ke 48 Muhammadiyah telah berlalu.  Dokumen tanfidz keputusan muktamarpun telah diterbitkan.  Membaca isinya yang gagah berani tentu saja membuat optimis semua pihak.  Dari sekian banyak yang ditulis dalam dokumen tanfidz tersebut, isu lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat adalah tema paling menarik buat saya. 

Pada dua isu tersebut banyak hal dituangkan dalam dokumen tanfidz, mulai dari Paris Agreement, isu keadilan antar generasi, pembangunan berkelanjutan, puncaknya adalah bumi sebagai rumah bersama semua makhluk. 

Dan agenda dalam negeri yang sesegera mungkin hendak didesakkan yaitu adalah ; (1) revitalisasi kembali pangan lokal untuk menjamin kesehatan dan kesejahteraan. (2) Membangun dan memperbanyak Lumbung kompos agar lumbung pangan dapat digerakkan secara masif dan sistematis.  (3) Menguatkan isu pangan dan iklim yang sangat terkait dalam kehidupan (livelihood).

Kabar Dari Akar /Rumput

Tak seorangpun memungkiri, bahwa peningkatan produksi sektor pertanian sangat dibutuhkan   dalam   mencukupi   kebutuhan   pangan     baik di tingkat lokal maupun nasional.  Upaya tersebut Disisi    lain    memerlukan berbagai   sarana   yang   mendukung   agar   dapat mencapai hasil  yang  memuaskan. 

Salah  satu  sarana yang   mendukung   peningkatan   hasil   di   bidang pertanian  adalah  penggunaan pupuk kimia sebagai penyubur tanaman dan pestisida  yang  berfungsi  sebagai pengendali jasad pengganggu tanaman.  Dalam kurun waktu yang cukup lama ternyata pupuk kimia dan pestisida  ibarat  tombak  yang  bermata  dua. 

Disatu sisi   pupuk kimia dapat meningkatkan produksi tetapi di sisi yang lain justru menurunkan kesuburan tanah.  Sementara itu pestisida   secara nyata mampu   membantu   meningkatkan kesejahteraan   manusia,   akan   tetapi   disisi   yang lain pestisida  adalah  racun  yang  merusak  manusia  dan lingkungan.  

Pilihan menggunakan pestisida didorong oleh keadaan tertentu dimana ternyata pestisida lebih efektif, praktis, dan lebih    cepat    mengendalikan    jasad    pengganggu sedangkan   cara-cara   lain   tidak   selalu   mudah.  Alasan yang sama juga berlaku untuk pupuk kimia.

 Menurut laporan dari WHO dan UNEP sekarang ini diseluruh dunia sekitar 26 juta manusia mengalami keracunan akibat penggunaan pestisida dengan angka sekitar 220 ribu Kasus kematian setiap tahunya.  Angka tersebut diperkirakan terus meningkat setiap tahunnya akibat semakin besarnya populasi manusia.    

Dilaporkan bahwa di Amerika Serikat terdapat 67 ribu kejadian keracunan pestisida. Sedangkan angka keracunan pestisida di Cina mencapai 0,5 juta manusia dengan 0,1 juta diantaranya meninggal dunia. 

Berdasarkan laporan tahunan Pusdatin Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), secara nasional pada tahun 2019 tercatat sebanyak 334 kasus keracunan pestisida dengan kelompok penyebab pestisida pertanian sebanyak 147 kasus.  Angka tersebut belum menyertakan kejadian keracunan pestisida yang tidak dilaporkan.