Kolom

Kegembiraan Gembira Gembrong

Saat Suharto Amjad
×

Kegembiraan Gembira Gembrong

Sebarkan artikel ini
Kampung Gembira Gembrong
Kampung Gembira Gembrong/Foto: FB Jktinfo

HARI itu kami sedang diskusi mengenai revitalisasi pada kampung Pasar Gembrong yang pada hari minggu 24 April silam terbakar. Ternyata selain lapak lapak yang berdiri sepanjang jalan tersebut, sejumlah 138 rumah lebih pada perkampungan yang berada di belakangnya ikut pula terbakar.

Tak kurang ada 4 RT terdampak yakni RT 02, RT 04, RT 05 dan RT 06. Diskusi tadi terjadi di ruang Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan dan berjalan seru karena team internal BAZIS (Baznas Prov. DKI Jakarta) yang telah melakukan assesment beradu ide dengan team vendor yang juga telah selesai melakukan survei.

Alhamdulillah kemudian disepakati bahwa konsep kampung akan mempertahankan batas batas tanah yang ada dengan memberikan pelebaran ruang gang menjadi minimal 1,2 meter untuk menjadi jalan evakuasi dan pertolongan pertama pada waktu bencana dan lebar tersebut cukup untuk menanam septictank bio yang memiliki dimensi yang membutuhkan lebar itu.

Diskusi tersebut kami melihat bahwa salah satu kerentanan kebakaran adalah ketidakmampuan mengakses sumber air yang berlimpah di sungai belakang kampung karena semua akses tertutup dengan bangunan rumah.

Padahal sesungguhnya ada ketentuan mengenai GSS (Garis Sempadan Sungai) dimana selebar 6 meter sepanjang sungai tidak boleh di bangun dan harus menjadi jalan inspeksi.

Kemudian kami bersepakat mengusulkan untuk merubah orientasi kampung menjadi menghadap sungai dan sepakat menyerahkan kepada Pak Wali tentang hal tersebut. Demikian pula terhadap selokan yang seharusnya ada di sepanjang jalan tepat sejajar dengan trotoar jalan Pasar Gembrong yang seharusnya ada, akan tetapi pada kondisi eksisting telah beralih fungsi menjadi bangunan.

Menyadari batas batas kewenangan kami itulah maka kami menyerahkan kepada Pemkot Jakarta Timur dan meminta arahan Pak Wali.

Bagi BAZIS, Program revitalisasi pada kampung kampung yang terkena bencana telah mulai dilaksanakan sejak tahun 2020 dan telah selesai dikerjakan di beberapa tempat dengan mengusung konsep “Kampung Regeneration” yang mengambil dari konsep “City Regeneration” yang telah di tetapkan sebagai program Penprov.

Program ini kami menterjemahkan nya dengan apa yang secara ringkas sering disampaikan Pak Gubernur ” Singkirkan kumuhnya, hidupkan kampungnya.”

Sehingga kami memulai dengan mengidentifikasi apa vulnerability dari kampung tersebut yang dapat kami perbaiki sehingga menjadi kampung yang kuat, tangguh dan hidup seraya kami mengidentifikasi pula kekuatan yang ada yang bisa kita tingkatkan.

Pada konsep “Kampung Regeneration” Itu pula kami membuat standar kampung sehat  yang meliputi sehat ruhani, sehat jasmani, sehat intelektual, sehat finansial dan sehat lingkungan serta sosialnya.

Konsep lima sehat ini kami bangun dari pemahaman mengenai lima maksud diturunkan agama atau maqasidus syar’i.

Karena program memang telah di tetapkan, maka begitu terjadi bencana kami bersegera melakukan assesment atas terutama berkaitan dengan legalitas tanah sehingga tatkala Pak Gubernur melakukan peninjauan 25/4-22.

Kami telah menghitung sumberdana dan sumberdaya yang kami punya dan ketika peninjau kedua oleh beliau pada 3/5-22. Kami telah selesai membangun konsep dan mempresentasikan dihadapan para stakeholders terutama kepada Walikota Jakarta Timur Bapak Muhammad Anwar yang sangat sigap pula mengundang seluruh SKPD terkait untuk membahas mengenai legalitas kemudian desain yang kami ajukan serta pendanaan bagi program ini.