Keji Beling Bantu Sulasi Obati Kencing Batu

  • Whatsapp
Keji Beling
Tumbuhan Keji Beling/Foto: borneonews.co.id

Oleh: Alfin Hidayat

Barisan.co – Memiliki hidup sehat adalah salah satu nikmat yang tidak bisa dibayar dengan uang sebanyak apapun. Dengan sehat kita bisa menjalani aktivitas lebih maksimal. Sebaliknya ketika sakit, untuk sekedar merasakan santai saja tidak bisa menikmati keadaan. Apapun sakitnya, termasuk sakit kencig batu. Bagi yang sudah mengalami, pasti merasakan sakit yang luar biasa setiap kali buang air kecil.

Meski berbagai dokter sudah dikunjungi untuk pengobatan, kadangkala belum juga menemu kesembuhan. Namun ada beberapa ramuan sederhana yang justru jitu mengobati. Seperti halnya kisah yang dialami Sulasi (76 tahun) warga Gawang, Manggarwetan, Godong, Grobogan ini atas kencing batu yang dialami. Berikut kisah lengkapnya ketika bertutur kepada Barisan.co.

Apa yang anda rasakan kala itu?

Pegal kang (mas), pegal di area kelamin dan sekitarnya. Perut rasanya jadi kembung karena buang air tidak lancar. Setiap akan buang air itu harus ngeden (mengejan) keras, padahal yang keluar itu tidak seberapa, ‘crit’, ngeden lagi ‘crit’ lagi. Rasanya sakit bukan main, ada rasa perihnya di saluran kencing. Saat buang air pasti saya sambil menjerit, aduh!! Air kencing warnanya kuning pekat, tidak bening. Itu sudah 10 tahunan yang lalu.

Pernah ada riwayat apa hingga seperti itu?

Dahulu saya itu sering makan minum yang panas. Karena diburu waktu, seperti pas jam jam istirahat siang, adanya panas ya yang saya makan. Jadi sekarang untuk menjaga saya makan dan minum pasti yang dingin, kalau panas ya saya tunggu, daripada malah jadi masalah. saya sekarang tidak berani kalau makan makanan yang panas panas.

Saat itu lantas apa yang anda lakukan?

Karena tidak tahan dengan sakit yang berlarut larut seperti tidak ada ujungnya. Saya berobat ke Pak dokter Soemitro dokter spesialis bedah di selatan RSU Purwodadi kala itu. Nah dari itu malah diberikan resep untuk operasi di rumah sakit dan yang menangani beliaunya. Tetapi saya tidak berani untuk operasi karena saya juga punya tensi darah tinggi. Akhirnya saya menjalani terapi alternatif berupa pijat di Solo dengan mengajak teman, di tempat Pak Ali Barokah. Setelah terapi pijat, saya diberikan ramuan herbal oleh Pak Ali Barokah untuk diminum. Dari tempat pijat saya disuruh cari kelapa muda wulung yang warnanya agak hitam kehijauan. Setelah itu pulang, sebelum istirahat malam saya konsumsi itu ramuan, dan pada jam 12 malam saya kebelet kencing. Alhamdulillah air kencingnya lancar, padahal sebelumnya sakit setengah mati. Brol, akhirnya keluar yang jadi sumbatan.

Ramuannya seperti apa?

Wujudnya ada beberapa, diantaranya seperti potongan kayu, dan bahan bahan lain. Ramuan tersebut dimasak dalam kendil (gerabah), lalu diminum pagi dan sore. Itu juga masih harus disertai pijat selama tiga hari.

Itu sembuh sampai sekarang?

Alhamdulillah sembuh. Kemudian saya kerja proyek selama tiga tahunan di Wonogiri, tetapi kambuh lagi. Penyebabnya itu sama, makan minum yang panas, karena saya tidak suka es, adanya panas. Lalu saya pamit sama teman teman untuk pulang ke rumah karena tidak betah dengan kondisi sakit seperti itu masih kerja proyek yang dari segi makannya sulit untuk dijaga.

Saya merasakan sakit lagi seperti dulu. Sedih rasanya. Perih, kembung, sakit setengah mati. Dan setelah pulang sampai rumah, saya coba untuk berobat lagi ke dokter Johan di depan masjid Gubung. Ke pak dokter Johan itu konon banyak yang cocok, banyak orang dari berbagai kampuung jauh datang kesitu untuk berobat. Tapi ketika saya datang, tempat prakteknya sudah pindah, akhirnya ketemu buka praktek di Plamongan Indah Semarang. Dan penanganannya juga sama, saya disarankan untuk operasi, dan saat itu saya diberikan suntik antibiotik untuk sementara waktu. Setelah itu saya pulang dengan dibekali obat. Namun tidak ada perkembangan berarti, karena buang airnya masih terasa sakit. Sakit seperti dulu, saya juga tidak tahan dengan kondisi seperti ini.

Lalu pijat ke Solo lagi?

Tidak, kebetulan saya diberi tahu anak menantu saya, agar saya konsumsi ramuan keji beling. Terus saya suruh anak saya itu untuk membelikannya di apotek, dua kapsul. Saya pilih yang praktis saja daripada harus meramu sendiri dari tanaman aslinya. Meski hasilnya juga sama. Waktu itu satu kapsul harganya 6 ribu. Setelah saya konsumsi, dan ketika buang air terasa keras sekali ada benda yang keluar sampai menabrak tembok tempat buang air. Agak kaget, karena yang pertama waktu di Solo tidak seperti ini. Benda yang keluar itu seperi gumpalan kapur sebesar ruasan jari kelingking orang dewasa, putih warnanya.

Bagaimana konsumsi obat itu?

Pada peringatan kemasan tertera tiga waktu, pagi, siang, dan sore. Baru saya minum dua kali, pagi dan siang. Lalu setelah waktu ashar, saya buang air, keluarlah gumpalan keras itu. Alhamdulillah lega rasanya.

Hingga sekarang tidak pernah merasakan lagi?

Alhamdulillah sembuh sampai sekarang, tetapi ya itu memang harus dijaga makan minumnya. Saya kalau di tempat pertemuan pasti menyampaikan kepada tuan rumah untuk minta air putih saja yang adem. Soalnya ini pantangannya penyakit. Untuk minum teh atau kopi ya paling sekedarnya saja, makanya sekarang saya banyak minum air putihnya, malam hari ditempat tidur pasti istri sediakan untuk saya air putih. Satu hari setidaknya dua liter air putih.

Ilmiah Meski ramuan herbal, Keji Beling memang terbukti secara klinis. Menurut pakar herbal di Jakarta Kol. Laut dr. Gardjito Sipan, SpU, “Dalam pengobatan kencing batu dan saluran kemih, perlu beberapa sifat atau efek farmakologi. Seperti diuretik (meningkatkan pembuangan urin), peluruh batu, anti inflamasi (anti radang), antibiotik dan analgestik. Hal itu bisa didapat salah satunya pada tumbuhan Keji Beling.”

Kandank Warak
Latest posts by Kandank Warak (see all)

Pos terkait