Scroll untuk baca artikel
Blog

Kenapa Kita Begitu Mudah Menggeneralisasi Suatu Peristiwa?

Redaksi
×

Kenapa Kita Begitu Mudah Menggeneralisasi Suatu Peristiwa?

Sebarkan artikel ini

Sangat mudah bagi kita menggeneralisasi suatu peristiwa hanya berdasarkan sedikit bukti. Apa penyebab sebenarnya?

BARISAN.CO – Beberapa waktu yang lalu, saya lihat seseorang di Facebook menulis begini, “Tidak diberi kesempatan, merengek memohon-mohon, tapi giliran diberi kesempatan maunya menguasai semuanya. Itu watak perempuan”.

Sebagai perempuan, tentu saja saya mempertanyakan apa yang mendasari pernyataan tersebut. Bukan hanya saya, orang lain, bahkan berkomentar, apakah itu berdasarkan hasil riset atau bagaimana. Namun, ada juga yang justru mendukung, dengan menyatakan, “Kodratnya”.

Terlepas dari semua komentar tersebut, kenapa kita begitu mudah mengasumsikan orang atau peristiwa, lalu menggeneralisasi?

Celakanya, ketika kita menggeneralisasi secara berlebihan, kita mencapai kesimpulan tentang satu peristiwa dan kemudian salah menerapkan kesimpulan itu sepenuhnya. Dengan kata lain, kita mungkin berasumsi terhadap satu peristiwa negatif berarti setiap peristiwa selanjutnya akan negatif juga.

Ini membuat kita menghadapi kesalahan penalaran, yang cenderung lebih persuasif daripada yang seharusnya, dan didasarkan pada logika yang buruk atau salah. Ini disebut dengan generalisasi tergesa-gesa (hasty generalization) atas klaim yang didasarkan pada bukti yang terlalu sedikit. 

Klaim semacam itu bergantung pada satu atau dua contoh, atau kumpulan sampel kecil untuk membuat kesimpulan yang luas secara keliru. Generalisasi yang tergesa-gesa adalah salah satu contoh kekeliruan logis, di mana seseorang mencapai kesimpulan yang tidak dibenarkan secara logis oleh bukti objektif atau cukup.

Salah satu penyebab utama kita menggeneralisasi secara tergesa-gesa karena mencapai kesimpulan hanya berdasarkan ukuran sampel yang terlalu kecil di mana argumen berpindah dari yang khusus ke yang umum, mengekstrapolasi temuan tentang ukuran sampel yang kecil itu, dan menerapkannya pada populasi yang jauh lebih besar. 

Sebab, generalisasi yang tergesa-gesa cenderung menjadi praktik umum, hal itu mungkin tidak selalu mudah dideteksi. Tetapi, mempercayai ide tentang sesuatu hanya berdasarkan beberapa bukti tidak hanya salah, tetapi juga berpotensi berbahaya.

Menggeneralisasi dengan keliru juga itu dapat menyebabkan informasi yang salah dan manifestasi stereotip. Selanjutnya, orang-orang yang mempercayai generalisasi tersebut dapat berprasangka terhadap siapa pun yang ditentang oleh argumen yang keliru itu.

Sangat mudah untuk jatuh ke dalam pemikiran seperti ini, tetapi kita harus berusaha untuk menghindarinya. Kita harus berpegang pada standar yang lebih tinggi ketika kita membuat argumen.

Untuk menghindari membuat generalisasi yang terburu-buru, pertama, perlu memastikan, kita tidak membuat klaim umum berdasarkan sampel yang relatif kecil. Tahan diri untuk menilai sesuatu sampai pengamatan kita benar-benar cukup untuk mendukungnya.

Salah satu jalan terbaik untuk menghindari kekeliruan berpikir ini dengan menjadi pemikir bebas dan terbuka. Pemikir bebas membuat generalisasi yang hanya sekuat bukti yang tersedia, dan karena itu mereka terbuka untuk merevisi penilaian mereka. Sedangkan, pemikir terbuka menyadari, setiap individu memiliki sikap berbeda atas sebuah situasi yang sama.