Tentu struktur otak manusia yang canggih memungkinkan manusia untuk maju dari keberadaan nomaden ke peradaban, dari berburu ke pertanian dan dari rencana konkret ke ide abstrak. Pada puncak evolusi, otak kita memiliki kapasitas untuk menciptakan pengalaman-pengalaman menyenangkan yang sebenarnya tidak memiliki keberadaan yang konkrit (bukan psikosis).
Anda kenal Stephen Hawkins? Ketika ia ditanya tentang penyakit saraf motoriknya mengatakan “Saya lebih bahagia sekarang daripada sebelum saya mengembangkan kondisi tersebut. Saya beruntung bisa bekerja di bidang fisika teoretis, salah satu dari sedikit bidang di mana disabilitas bukanlah cacat yang serius.” Betapapun buruknya kehidupan,” jelasnya, “selalu ada sesuatu yang dapat Anda lakukan, dan berhasil”.
Itu pernyataan yang luar biasa menurut saya, beberapa orang mungkin kurang bersyukur dengan kesempurnaan tubuhnya, keberadaan ekonominya, kemewaan sekitarnya, kelengkapan keluarganya. Kemudian mereka lebih banyak mengeluh dan ambisius ingin mencapai yang lebih tinggi tanpa pijakan yang benar, kemudian gagal berakhir dengan depresi.
Artinya, kebahagiaan tidak segaris lurus dengan kesempurnaan fisik atau materiil. Berikut catatan lainnya; Seorang psikolog dari Univeristy of Illinois Ed Diener, meneliti 100 orang Amerika terkaya yang dicatat Forbes. Mereka hanya sedikit lebih bahagia dari rata-rata. Bahkan sebagian besar menemukan uang telah membuatnya menderita.
Lalu J. Paul Getty Warren Buffet melaporkan penelitiannya pada sejumlah orang-orang terkaya lainnya. Hasilnya konsisten dengan hasil Ed Diener la juga menemukan orang-orang kaya yang hidupnya menderita. “If you were a jerk before, you’ll be a bigger jerk with a billion dollars. Kalau kamu memang orang payah sebelumnya, kamu akan menjadi orang payah yang lebih besar dengan uang miliaran dola kata Warren Buffett.
Bagaimana agama Islam memandang konsep kebahagiaan?
Hujjatul Islam Imam al Ghazali dalam kitab Mizanul ‘Amal menyebutkan bahwa makna kebahagiaan terdiri dari beberapa tingkatan atau macam berikut:
Pertama, kebahagiaan adalah keabadian tanpa kesementaraan, kenikmatan tanpa kepayahan, kegembiraan tanpa kesedihan, kekayaan tanpa kefakiran, kesempurnaan tanpa kekurangan, kemuliaan tanpa kehinaan.
Kedua, kebahagiaan akhirat ialah suatu keabadian yang tidak dikurangi oleh keputusan masa dan batas waktu. Yakni akhirat itu sendiri.
Ketiga, kebahagiaan yang merupakan harapan dan tuntutan manusia, maka perlu mengenali teori dan mengaplikasikannya.
Keempat, kebahagiaan merupakan sampainya seseorang pada tahapan tersingkapnya ilham dari Allah dan terbebas dari kotoran-kotoran nafsu yang melekat dalam dirinya.