Scroll untuk baca artikel
Blog

Literasi Demokrasi bagi Pemilih Milenial

Redaksi
×

Literasi Demokrasi bagi Pemilih Milenial

Sebarkan artikel ini

Dalam pengamatan Peneliti LIPI Wasisto Raharjo Jati, terdapat beberapa karakter pemilih muda. Diantaranya   voluntarisme. Ditandai dengan keterlibatan dalam gerakan relawan. Misalnya, relawan Jokowi, Anies Baswedan, teman Ahok, sahabat Ridwan Kamil, Relawan Demokrasi (Relasi) KPU, anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS), dan lain-lain. Kemudian karakter kolegialitas. Cirinya mereka membangun eksistensi dan representasi dengan membentuk kelompok  atau komunitas sendiri, misalnya dalam kelompok bermusik atau komunitas olah raga. 

Dengan karakteristik perilaku pemilih milenial yang demikian plural, akan lebih aman menyebutkan pemilih milenial sebagai pemilih dinamis, fluktuatif, dan cair. Ini artinya di dalam diri pemilih milenial bersemayam atau terakumulasi sifat positif maupun negatif. Seperti rasional, kritis, dan open minded sekaligus peragu, labil, apatis, atau skeptis. Selain selalu tetap saja ada potensi kaum milenial yang dominan sifat positifnya, atau sebaliknya dominan sifat negatifnya.

Dengan sifatnya seperti itu, maka pemilih milenial bisa disebut sebagai massa mengambang (floating mass),  mudah menyebrang dari satu partai ke partai lainnya (swing voter), belum mengambil keputusan (undecided voter),  dan sebagainya. Manakala partai politik dan kandidat berusaha berburu ceruk pemilih milenial bukan semata karena jumlahnya yang besar, melainkan karena sifat dan karakteristik pemilih yang masih sangat mungkin untuk dipengaruhi.

Pengaruh Media Sosial

Potret lain dan sekaligus sifat atau ciri umum dari generasi milenial kontemporer adalah ketergantungan dan kecanduannya pada internet (addicted user) pada gadget. Hal ini  tercermin dari hasil survei Alvara Research Center yang antara lain menyebutkan, ada 34% responden dari generasi Z menjadi addicted user. Rinciannya, sebanyak 20,9% menggunakan internet 7-10 jam sehari, 5,1% sebanyak 11-13 jam sehari, dan 8% mencapai di atas 13 jam sehari. Generasi milenial yang menjadi addicted user sebanyak 20,4%.

Dari jumlah itu, sebanyak 13,7% menggunakan internet selama 7-10 jam sehari, 3% sebanyak 11-13 jam sehari, dan 3,7% yang lebih dari 13 jam sehari.  Sedangkan, generasi X yang masuk kategori addicted user sebanyak 12,1%. Secara rinci, 7,1% menggunakan internet selama 7-10 jam sehari, 2,4% sebanyak 11-13 jam sehari, dan 2,6% mencapai di atas 13 jam sehari.

Melalui instrument gadget atau gawai, kaum milenial menghabiskan waktu berjam-jam berselancar di media sosial (Medsos), untuk mengetahui informasi, termasuk isu-isu aktual Pemilu, politik, demokrasi dan lain-lain.  Dengan aktif menyimak grup WA, Facebook, Instagram, dan lain-lain;  atau menjadi youtuberselebgram, membuat konten Tiktok, sebatas chatting dan penikmat konten saja.

Dengan berkembangnya citizen journalism, pengguna Medsos terutama dari kalangan kaum milenial bukan hanya sekadar menjadi penerima (receiver) atau pengguna (user) informasi, melainkan juga dapat bertranformasi sebagai produsen informasi. Lalu mengirimkannya (share) ke publik melalui beragama jenis aplikasi Medsos. Bahkan diantaranya ada yang menjadi viral.

Meskipun demikian, pengaruh Medsos berdampak ganda. Pada satu sisi berdampak positif, yakni: menjadikan pemilih milenial sangat well inform dan cerdas bermedsosria terhadap berbagai isu publik, termasuk isu-isu Pemilu. Salah satunya tercermin dari hasil survei   Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang menyebutkan adanya keinginan generasi muda memiliki pemimpin jujur dan bebas korupsi pada Pemilu 2024.