Scroll untuk baca artikel
Daerah

Lukisan Tua Diduga Karya Raden Saleh Tersimpan di Ponpes Al Islah Semarang, Diperoleh Gratis di Magelang pada 1990

×

Lukisan Tua Diduga Karya Raden Saleh Tersimpan di Ponpes Al Islah Semarang, Diperoleh Gratis di Magelang pada 1990

Sebarkan artikel ini
Lukisan Raden Saleh Semarang
Kondisi lukisan tua bertema perburuan singa dengan tanda tangan "R. Saleh 1880" yang tersimpan dan dirawat di Pondok Pesantren Al Islah, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Tersimpan di Ponpes Al Islah Tembalang, sebuah lukisan tua bertanda tangan R. Saleh 1880 ditemukan tak terawat di bengkel Magelang sebelum dirawat oleh Kiai Budi Harjono sejak 1990.

BARISAN.CO, SEMARANG – Sebuah lukisan tua bertema perburuan singa yang diduga merupakan karya maestro seni lukis Indonesia, Raden Saleh Syarif Bustaman, tersimpan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Islah, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Lukisan tersebut memiliki kisah perolehan yang tak biasa karena didapatkan secara cuma-cuma oleh KH Budi Harjono saat membeli dua bus tua di Magelang pada 1990.

KH Budi Harjono menuturkan, lukisan itu ditemukan ketika dirinya melihat sejumlah lukisan yang menumpuk dan tidak terawat di belakang sebuah bengkel. Saat itu, ia tengah melakukan transaksi pembelian dua bus tua milik seseorang di Magelang.

Di antara tumpukan barang yang terbengkalai tersebut, perhatian Budi tertuju pada sebuah lukisan berukuran besar yang menggambarkan adegan perburuan singa. Pemilik lukisan kemudian memberikan benda itu secara gratis setelah transaksi pembelian kedua bus disepakati.

“Waktu itu saya melihat onggokan lukisan yang tidak terawat di belakang bengkel. Pemiliknya memberikan lukisan itu secara gratis karena saya memborong dua bus tua,” ungkap Budi Harjono, Jumat (16/10/2026).

Menurut Budi, lukisan tersebut sebelumnya dirawat secara turun-temurun oleh keluarga pemiliknya. Ia menyebut pemilik sebelumnya merupakan generasi keenam yang merawat lukisan itu sebelum akhirnya berpindah tangan kepadanya pada 1990.

Sejak saat itu, lukisan tersebut tetap disimpan hingga kini berada di lingkungan Ponpes Al Islah, Tembalang, Semarang.

Riwayat perpindahan kepemilikan dan cerita yang menyertainya menjadi bagian penting yang perlu ditelusuri untuk mengungkap asal-usul karya tersebut.

Secara visual, lukisan itu menampilkan adegan perburuan dengan empat orang yang disebut sebagai sayyid, sementara seekor singa tampak bertarung melawan banteng.

Komposisi tersebut berbeda dari lukisan The Lion Hunt atau Die Löwenjagd yang menjadi koleksi Museum Seni Nasional Latvia.

Pada versi koleksi museum tersebut, adegan perburuan menampilkan kehadiran tentara kolonial. Perbedaan komposisi ini menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dikaji lebih jauh guna mengetahui apakah lukisan yang tersimpan di Ponpes Al Islah memiliki keterkaitan dengan karya Raden Saleh yang telah terdokumentasi.

Di bagian bawah lukisan yang berada di Semarang itu, terdapat tulisan yang terbaca sebagai “R. Saleh 1880”. Tahun tersebut bertepatan dengan tahun wafat Raden Saleh, yang meninggal dunia pada 23 April 1880 di Bogor.

Meski demikian, keberadaan tanda tangan dan tahun pada sebuah lukisan belum cukup untuk memastikan siapa pembuatnya.

Diperlukan pemeriksaan menyeluruh terhadap material, teknik pengerjaan, karakteristik cat, kondisi kanvas, serta riwayat kepemilikan untuk menguji keaslian dan menentukan atribusi karya secara ilmiah.

Budi Harjono menyampaikan bahwa lukisan tersebut pernah diteliti oleh sejumlah akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan pecinta lukisan. Menurut keterangannya, pihak-pihak yang pernah memeriksa lukisan itu menyatakan bahwa karya tersebut asli.

Namun, dokumentasi hasil pemeriksaan, identitas para peneliti, serta metode yang digunakan dalam proses autentikasi masih perlu dihimpun dan diverifikasi secara independen.

Informasi tersebut penting agar dugaan keterkaitan lukisan dengan Raden Saleh dapat dinilai berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain menyimpan kisah sejarah yang menarik, lukisan itu juga pernah ditawarkan untuk dijual melalui perantara dengan nilai mahar Rp1 miliar. Akan tetapi, Budi Harjono menolak skema penjualan tersebut.

Ia mempersilakan calon pembeli yang benar-benar berminat untuk datang langsung ke lokasi dan melakukan transaksi secara tunai.

Bagi Budi, lukisan itu memiliki riwayat tersendiri yang bermula dari peristiwa sederhana di Magelang lebih dari tiga dekade lalu.

Benda yang semula berada di antara tumpukan lukisan tidak terawat tersebut kini tersimpan di lingkungan pesantren dan menjadi objek yang menarik perhatian karena dugaan keterkaitannya dengan salah satu pelukis paling berpengaruh dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Raden Saleh dikenal sebagai pelukis Indonesia abad ke-19 yang memperoleh pengakuan internasional. Ia dikenal melalui karya-karya yang memperlihatkan penguasaan teknik seni lukis Eropa, terutama dalam penggambaran drama, gerak, dan ketegangan dalam adegan-adegan alam maupun perburuan.

Apabila dugaan bahwa lukisan di Ponpes Al Islah merupakan karya Raden Saleh dapat dibuktikan melalui penelitian yang terdokumentasi dan terverifikasi, temuan tersebut berpotensi menambah bahan kajian mengenai sejarah, persebaran, dan keberadaan karya sang maestro.

Untuk saat ini, identitas pelukisnya masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Penelusuran arsip, pemeriksaan teknis, perbandingan dengan karya yang telah teridentifikasi, serta penelitian terhadap riwayat kepemilikannya dapat menjadi langkah penting untuk mengungkap sejarah sebenarnya dari lukisan tua tersebut. []