Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Me-reset Sekolah untuk Masa Depan Peserta Didik

Redaksi
×

Me-reset Sekolah untuk Masa Depan Peserta Didik

Sebarkan artikel ini

Dalam sebuah wawancara calon pekerja, seorang HRD perusahaan bertanya kepada si pelamar, “apakah Anda bisa membuat desain berbagai produk dengan cepat dan bagus?”, “iya saya bisa sedikit”. Jawab calon pekerja tersebut dengan wajah kurang meyakinkan. “Sebenarnya saya lebih banyak belajar secara otodidak, karena jurusan saya marketing”, lanjutnya.

BARISAN.CO – Apa pelajaran dan pengalaman yang paling penting dalam kehidupan Anda di sekolah? Apakah ketika Anda belajar tentang pengetahuan sosial, Anda juga belajar cara bersosial, apalagi kini ada banyak platform media sosial? Ketika Anda mengambil jurusan manajemen pendidikan Anda juga dibekali keterampilan mengelola, membuat keputusan, dan kemampuan berkolaborasi membangun jaringan?

Apakah ketika Anda lulus sebagai sarjana bahasa asing, Anda juga menguasai keterampilan menjadi komunikator bahasa asing dan dapat dipercaya menjadi interpreter bahasa asing tersebut? Apakah sepanjang Anda bersekolah difasilitasi keterampilan cara berkomunikasi yang baik dan berpikir lebih mendalam? Diajarkan bagaimana memahami teks dan menghubungkannya dengan situasi (konteks) kehidupan sekitar Anda?

Sebagai seorang praktisi pendidikan dan juga sekaligus Ayah dari anak yang menempuh belajar di sekolah, saya digelayuti dengan pertanyaan, “apakah anak saya atau anak-anak murid lain, benar-benar mendapatkan manfaat untuk kehidupannya dari bersekolah selama ini?

Saya sering menjawab ragu dan merasa muak dengan berbagai apologi banyak guru. Menurut saya, sekolah dan guru tidak mempersiapkan dengan baik dan rasional dengan kebutuhan masa depan murid-murid mereka.

Fakta kemampuan lulusan lembaga sekolah saat ini

Coba mulai mengkritisi berbagai kebijakan dalam hal pendidikan, korelasinya terhadap  kebijakan pemerintah yang berjalan beserta perubahan global yang hampir bisa dikatakan ‘unpredictable’. Selain dampak dari pandemi, kemampuan lulusan dari lembaga pendidikan tidak menunjukkan daya serap yang maksimal bagi dunia industri di Indonesia.

Indikatornya bisa merujuk kepada tingkat pengangguran yang tidak mengalami penurunan secara signifikan. Belum lagi kualitas SDM pekerja sebagian besar masyarakat kalah saing dengan pekerja asing, penyebabnya bisa karena minim kompetensi dan atau kebijakan politik  yang pro asing.

Dikutip dari databoks.katadata.co.id, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8,75 juta orang pada Februari 2021. Jumlah tersebut meningkat 26,26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 6,93 juta orang. TPT tertinggi pada Februari 2021 tercatat berada di perkotaan mencapai 8%. Sementara, TPT di perdesaan sebesar 4,11%.

Pandangan selama ini yang mengorientasikan lembaga sekolah dan perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang siap kerja tidak memberikan indikator yang koheren. Beberapa hal yang dianggap “salah” dalam sistem pendidikan nasional membuat kita jadi tidak memiliki pondasi yang kuat tentang arah generasi bangsa.

Kecenderungan campur aduk antara kepentingan politik, oligarki dan sistem pendidikan masih saya anggap latar belakang utama lemahnya pendidikan dan orientasi lembaga pendidikan (sekolah) sebagai ‘source of human capitals’ yang dibutuhkan bangsa pada persaingan global.

Kreatifitas lulusan pendidikan minim, kemampuan berpikir kritis kurang, literasi juga rendah dibanding negara berkembang lain. Jadi?

Kita harus me-reset   keberadaan sekolah dan tujuan pendidikan.

1. Sekolah harus disiapkan untuk mengatasi tantangan kehidupan nyata

Ketika para murid memahami tentang keadaan dan tanggungjawab menghadapi tantangan kehidupan nyata, mereka  akan berusaha menguasai berbagai hal sesuai kecerdasan dan minat mereka agar dapat menjalani masa belajar yang bermakna masa depannya.

Mereka belajar bukan sekedar untuk menghafal konten lama yang baku sebagai teori pengetahuan. Namun juga belajar beradaptasi dengan berbagai perubahan bersama perkembangan ilmu pengetahuan.

Sekolah menjadi laboratorium setiap anak belajar berbagai perubahan di lingkungan dan kehidupan global; perkembangan teknologi digital, akultutasi, serta disrupsi.

2. Ubah kultur  kompetisi kepada kolaborasi

Kegiatan pendidikan dan pengajaran sejatinya memfasilitasi setiap kemampuan anak untuk diasah, diarahkan, didukung, dan diproyeksikan tujuannya untuk berbagai proses yang kompleks berdasarkan tumbuh kembang, nilai-nilai, dan keterampilan yang dibutuhkan.

Budaya kompetisi dalam belajar, semisal menjadikan perolehan nilai dalam raport sebagai indikator prestasi, Indeks Prestasi Kumukatif sebagai  taruhan setiap lulusan, harus diganti dengan budaya kolaborasi untuk mencapai capaian yang baik dengan melakukan berbagai aktifitas akademik dan keterampilan hidup melalui simulasi tim kerja yang terorganisir dan mengadaptasi proses teamwork yang efektif.

3. Lakukan bentuk asesmen yang lebih inovatif

Alih-alih sekedar memilih  pilihan yang simpel, menjawab pertanyaan tertutup, mengisi uraian tertulis  berbasis konten standar, bentuk penilaian alternatif di sekolah memungkinkan anak-anak belajar dari pekerjaan mereka bukan hanya menerima nilai. 

Mereka menjalani proses asesmen yang sesuai dengan keadaan dan capaian mereka secara fleksibel. Mereka diminta membuat karya dari hasil pemahaman mereka akan rumusan pengetahuan secara kontekstual.

Hasil belajar diukur bukan menunjukkan kesimpulan akhir masa belajar, namun visualisasi kemampuan yang dapat dievaluasi dan diperbaiki agar dapat ditingkatkan dan dikembangkan secara komprehensif. Dari situ setiap kesalahan atau kegagalan adalah pelajaran berharga selanjutnya. Bukan justifikasi personal yang merendahkan.

4. Sekolah adalah “rumah kedua” yang melengkapi tumbuh kembang anak

Sebagai bagian unsur pendidikan, lembaga sekolah dihadirkan melengkapi kebutuhan dasar setiap anak laksana rumah kedua mereka. Sekolah harus hadir menjadi lembaga, tempat yang integratif dengan pola asuh orangtua.

Kebutuhan intelektual harus sebanding dengan kebutuhan emosi dan keterampilan sosial. Jadi karakter yang dibangun di sekolah merupakan upaya empowerment dari proses pengasuhan di rumah, sekaligus medium mengembangkan berbagai keterampilan secara organik dan rekayasa yang positif. (Luk)