Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Indonesia Masih Memiliki Banyak Kekayaan Sumber Daya Alam

Redaksi
×

Indonesia Masih Memiliki Banyak Kekayaan Sumber Daya Alam

Sebarkan artikel ini

“Porsi nilai tambah Sektor Pertambangan dan Penggalian dalam Produk Domestik Bruto (PDB) makin menurun selama belasan tahun terakhir. Akan tetapi, para pelaku industri pertambangan di Indonesia tumbuh menjadi kelompok yang makin kaya di Indonesia”Penilaian disampaikan Awalil Rizky dalam kuliah daring yang diselenggarakan oleh Pusat Belajar Rakyat (4/01/2022) pukul 16.00 WIB. Kuliah diadakan tiap hari Selasa dan Jumat sore, yang terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Topik kuliah pada Selasa lalu tentang Sumber Daya Alam dan Energi.

BARISAN.CO – Sudah umum diketahui bahwa kekayaan alam Indonesia sangat melimpah. Meskipun telah dieksploitasi puluhan tahun, masih tersedia cukup banyak. Seharusnya kondisi ini menjadi modal besar dalam pembangunan ekonomi dan upaya menyejahterakan seluruh rakyat.

Awalil menyampaikan bagaimana caranya publik terutama pembelajar ekonomi dapat memperoleh data tentang perkembangan kondisi sumber daya alam (SDA). Antara lain dari dua publikasi tahunan Badan Pusat Statistik (BPS), yaitu: Sistem Terintegrasi Neraca Lingkungan dan Ekonomi, serta Neraca Energi Indonesia.

Sumber data publikasi BPS itu sendiri berasal dari berbagai kementerian dan Lembaga. Terutama dari kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Secara khusus, Awalil mengajak peserta kuliah untuk mencermati data dari Kementerian ESDM. Baik berupa publikasi dokumen kebijakan, dokumen laporan kinerja, maupun statistik. Publikasi rutin tahunan yang disarankan dicermati adalah “Handbook of Energy and Economic Statistic of Indonesia”.

Pada paparan kuliah antara lain dibahas tentang kondisi hutan Indonesia. Tutupan hutan Indonesia tercatat seluas 95,19 juta hektar atau sekitar 49 persen dari luas tutupan lahan (land cover) pada tahun 2020. Mengalami sedikit peningkatan dalam 2 tahun terakhir. Namun masih lebih rendah dibanding beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 2014 masih seluas 96,17 juta hektar

Papua menjadi pulau yang memiliki area tutupan hutan terluas dibandingkan dengan pulau lain di Indonesia. Pada tahun 2020 mencapai 81,56% dari tutupan lahannya berupa area tutupan hutan. Luas ini bahkan meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2016.

Meskipun penurunan luas tutupan hutan mulai bisa dicegah, namun pengurangan stok sumber daya kayu masih berlangsung. Pada tahun 2014 masih terdapat stok fisik kayu sebesar 5.423 juta m3.  Pada tahun 2020 tercatat hanya 4.032 juta m3. Dengan kata lain, menurun 1.391 juta m3 selama 6 tahun terakhir.

Dalam dua sesi kuliahnya, Awalil memaparkan perkembangan dan kondisi terkini dari SDA dan energi Indonesia. Disampaikan secara cukup rinci data perkembangan cadangan minyak bumi, gas alam, dan batubara. Begitu pula dengan produksi dan konsumsinya dari tahun ke tahun.

Informasi tentang konsumsi energi disajikan dalam hal jenis energi maupun pengguna. Disinggung tentang cenderung stagnannya konsumsi energi untuk pengguna sektor konstruksi dan industri, menurunnya sektor transportasi, serta meningkatnya konsumsi rumah tangga. 

Awalil menjelaskan pula secara singkat kondisi berbagai jenis mineral, seperti: Emas, Perak, Tembaga, Timah, Bauksit, Nikel, dan tembaga. Begitu pula dengan kondisi bahan galian, seperti: pasir, kerikil, batu kapur, kaolin, dan lain sebagainya.

Secara umum dalam hal SDA dan energi ini dikatakan bahwa perannya sudah terbukti sangat penting dalam perekonomian Indonesia, dan masih akan penting. Namun perlu dikaji ulang tentang seberapa jauh optimalisasinya.

Diingatkan beberapa kajian yang menyimpulkan seolah ada “kutukan kekayaan SDA” pada beberapa negara, termasuk Indonesia. Kekayaan itu justeru menghambat proses transformasi perekonomiannya menjadi lebih maju atau memperlambat industrialisasi. Seolah dimanjakan olehnya, sehingga kurang efektif dan efisien dalam pembangunan ekonomi secara keseluruhan.

Sektor pertambangan dan penggalian sempat menjadi penyumbang terbesar dalam struktur PDB di masa lampau. Mencapai 25,68% dari total PDB. Porsinya perlahan makin menurun, hingga hanya mencapai 6,44% pada tahun 2020. Namun karena harga berbagai komoditas makin tinggi, nilai PDB nya masih di kisaran 1.000 triliun.