Scroll untuk baca artikel
Gaya Hidup

Memahami Makna Kebahagiaan Socrates

Redaksi
×

Memahami Makna Kebahagiaan Socrates

Sebarkan artikel ini

Perbedaan pandangan tentang kebahagiaan membuat Socrates dibunuh dengan racun.

BARISAN.CO – Socrates adalah salah satu filsuf termahsyur. Di negara asalnya, Yunani, kebanyakan orang memiliki pandangan agak pesimistis tentang kebahagiaan manusia. Kebahagiaan dianggap sebagai kejadian langka dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang disukai oleh para dewa.

Namun, dia memiliki pendapat lain. Menurut Socrates, manusia sebenarnya dapat memperoleh kebahagiaan melalui usahanya sendiri. Sejak itu, ia menjadi tokoh pertama di Barat yang berpendapat berbeda tentang kebahagiaan.

Bagi Socrates, kunci kebahagian adalah mengalihkan perhatian dari tubuh menuju jiwa. Menyelaraskan keinginan dapat belajar untuk menenangkan pikiran dan mencapai ketenangan bak dewa. Kehidupan bermoral lebih disukai daripada yang tidak, itu dikarenakan akan mengarah pada kehidupan yang lebih bahagia.

Metode Socrates dirancang dari proses bertanya untuk mengungkapkan ketidaktahuan dan membuka jalan bagi pengetahuan. Socrates mengakui dia bodoh, namun menjadi paling bijaksana dari semua orang melalui pengetahuan ini.

Seperti cangkir kosong, Socrates membuka diri untuk menerima air pengetahuan dari mana pun. Akan tetapi, dia tidak menelannya mentah-mentah. Socrates melakukan pemeriksaan silang dan menemukan orang yang mengaku bijak, sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Sebagian besar cangkir terlalu dipenuhi oleh kebanggan, kesombongan, serta kepercayaan yang membentuk identitas dan rasa aman manusia. Maka, sering kali kita mendengar nasihat dari orang tua, ketika keluar rumah jadilah cangkir kosong agar ilmu yang diperoleh tidak terbuang begitu saja.

Atas pemikirannya, banyak orang yang membencinya. Socrates pun dijatuhi hukuman mati dengan cara diracuni Hemlock. Dia dianggap merusak kaum muda.

Alih-alih meratapi nasibnya atau menyalahkan dewa, Socrates menghadapi kematiannya dengan begitu tenang. Dia bahkan berdiskusi dengan teman-temannya sebelum detik-detik kematiannya.

Sebagai orang yang mempercayai nilai abadi jiwa, Socrates tidak takut menghadapi kematian karena baginya, kematian adalah pelepasan jiwa yang paling akhir dari keterbatasan tubuh manusia.

Socrates menantikan tempat baru yang akan membawanya melanjutan pemikiran dan lebih banyak pengetahuan. Selama bersungguh-sungguh berusaha menjelajahi dan memahami dunia, pasti akan ada peluang untuk memperluas kesadaran dan mencapai keadaan yang jauh lebih bahagia.

“Socrates dijatuhi hukuman mati secara tidak adil, tetapi dia bahagia di sel penjaranya dan ingin mati: dia bahagia karena sangat berbudi luhur. Plato (Murid Socrates)

Socrates percaya untuk bahagia, seseorang perlu mengetahui yang baik untuk dirinya sendiri.

Mengutip Happiness Strategies, untuk memperoleh kebahagiaan seperti Socrates dapat ditempuh dengan empat langkah. Pertama adalah kita semua pernah merasakan daya tarik kepada lawan jenis yang nakal, namun di lubuk hati terdalam, kita menyadari bahwa mereka hanya akan membuat hidup menjadi sengsara selamanya.

Kedua, sangat menggoda mengambil pekerjaan berdasarkan jumlah gaji. Akan tetapi, memiliki pekerjaan dengan rekan kerja yang baik dan lingkungan yang menyenangkan mungkin jauh lebih baik untuk menjadi pilihan.

Ketiga, sedikit refleksi diri dapat membantu mengidentifikasi yang baik untuk diri sendiri. Dengan melihat kembali keputusan yang telah membawa kebahagiaan jangka panjang atau yang membawa penyesalan, kita lebih mengenali diri kita sendiri.

Terakhir, pertimbangkan apa yang dapat dilakukan untuk orang lain. Memberi uang, waktu, atau sumber daya akan menjadi hal luar biasa bagi orang lain dan menjadikan hidup lebih berarti.

Mengembangkan perasaan untuk membuat pilihan menjadikan kehidupan lebih bermakna. Dengan begitu, semua akan menemukan cara untuk lebih berbahagia yang tentunya akan bedampak baik bagi kesehatan kita sendiri. [dmr]