Scroll untuk baca artikel
Tren

Kerap Dianggap Haus Perhatian, Kenali Gejala Histrionic Personality Disorder yang Tersembunyi

Ninik Ambarwati
×

Kerap Dianggap Haus Perhatian, Kenali Gejala Histrionic Personality Disorder yang Tersembunyi

Sebarkan artikel ini
histrionic personality disorder adalah
Ilustrasi ekspresi emosional yang intens dan teatrikal, salah satu karakteristik utama yang kerap dijumpai pada individu dengan gangguan kepribadian histrionik (HPD) demi mendapatkan validasi lingkungan.

Artikel ini membahas secara mendalam mengenai Histrionic Personality Disorder (HPD), sebuah gangguan kepribadian yang membuat seseorang memiliki kebutuhan ekstrem untuk selalu menjadi pusat perhatian.

BARISAN.CO – Fatimah selalu berusaha menjadi pusat perhatian dalam setiap pertemuan, mulai dari cara berpakaian, berbicara, hingga mengekspresikan perasaannya secara berlebihan. Ketika teman-temannya lebih memperhatikan orang lain, ia merasa tersisih, lalu berusaha mengembalikan perhatian tersebut melalui cerita dramatis atau perubahan emosi yang tiba-tiba.

Di balik penampilannya yang percaya diri, Fatimah menyimpan kebutuhan besar terhadap pengakuan orang lain, seolah harga dirinya hanya bertahan selama seseorang masih memperhatikannya.

Kisah Fatimah merupakan ilustrasi fiktif untuk membuka pembahasan mengenai Histrionic Personality Disorder (HPD), atau gangguan kepribadian histrionik.

Namun, perilaku seperti yang Fatimah tunjukkan tidak otomatis menandakan seseorang mengalami gangguan mental karena diagnosis membutuhkan pemeriksaan klinis yang menyeluruh.

Mengenal Histrionic Personality Disorder berarti memahami kondisi psikologis yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kebiasaan mencari perhatian.

Gangguan ini melibatkan pola emosi dan hubungan interpersonal yang menetap, kebutuhan kuat terhadap perhatian, serta kesulitan tertentu dalam mempertahankan penilaian diri tanpa pengakuan lingkungan.

Dalam masyarakat modern, persoalan tersebut menjadi menarik ketika popularitas, penampilan, dan pengakuan sosial semakin memperoleh tempat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, ilmu psikologi mengingatkan bahwa seseorang yang ekspresif, gemar tampil, atau aktif di media sosial tidak serta-merta mengalami gangguan kepribadian.

Mengenal Histrionic Personality Disorder dan Sejarah Diagnosisnya

Histrionic Personality Disorder merupakan gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola ekspresi emosi berlebihan dan kebutuhan kuat untuk menjadi pusat perhatian.

Individu dengan kondisi ini dapat mengalami ketidaknyamanan ketika perhatian lingkungan beralih kepada orang lain, sehingga perilaku interpersonalnya sering berorientasi pada upaya memperoleh respons dan pengakuan sosial.

Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR), HPD termasuk kelompok Cluster B Personality Disorders.

Kelompok ini juga mencakup Borderline Personality Disorder (BPD), Narcissistic Personality Disorder (NPD), dan Antisocial Personality Disorder (ASPD), yang memiliki karakteristik umum berupa pola perilaku dramatis, emosional, atau tidak menentu.

Meski berada dalam kelompok yang sama, HPD memiliki penekanan klinis berbeda dari gangguan lainnya. Individu dengan NPD umumnya menunjukkan pola grandiositas dan kebutuhan akan kekaguman, sedangkan BPD terutama berkaitan dengan ketidakstabilan emosi, identitas, dan hubungan interpersonal yang dapat disertai ketakutan kuat terhadap pengabaian.

Sejarah HPD sendiri tidak dapat dilepaskan dari istilah hysteria, yang berasal dari bahasa Yunani hystera atau rahim. Selama berabad-abad, dunia kedokteran menggunakan konsep tersebut untuk menjelaskan berbagai ekspresi emosional perempuan melalui asumsi biologis dan sosial yang kini tidak lagi diterima sebagai penjelasan ilmiah.

Pada akhir abad ke-19, perkembangan psikoanalisis melalui Sigmund Freud ikut memengaruhi pembahasan mengenai histeria dan konflik psikologis.

Kemudian, DSM-III pada 1980 memperkenalkan Histrionic Personality Disorder sebagai kategori diagnosis tersendiri, sebelum mengalami perkembangan melalui DSM-IV, DSM-5, dan DSM-5-TR.

Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa pemahaman manusia mengenai gangguan kepribadian terus berubah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

Psikiatri modern semakin menekankan pentingnya membedakan karakteristik kepribadian, norma budaya, dan kondisi psikologis yang benar-benar mengganggu kehidupan seseorang.

Lantas, seberapa banyak orang mengalami HPD?

DSM-5-TR merangkum penelitian epidemiologi yang menghasilkan estimasi prevalensi berbeda. Survei National Epidemiologic Survey on Alcohol and Related Conditions (NESARC) menemukan prevalensi sekitar 1,8 persen, sedangkan tinjauan terhadap lima penelitian epidemiologi menghasilkan median sekitar 0,9 persen.

Merck Manual, dalam pembaruan Januari 2026, memperkirakan prevalensi HPD berada di bawah 2 persen populasi umum. Angka tersebut menunjukkan bahwa HPD relatif jarang ditemukan, meskipun perbedaan metode penelitian membuat estimasi prevalensinya belum sepenuhnya seragam.

Penelitian yang terbit dalam The Lancet Psychiatry pada 2025 memberikan gambaran lebih luas mengenai epidemiologi gangguan kepribadian.

Melalui analisis terhadap 60 penelitian dari 28 negara, para peneliti menemukan estimasi prevalensi seluruh gangguan kepribadian sebesar 4,1 persen di negara berpendapatan rendah dan menengah serta 5,2 persen di negara berpendapatan tinggi.

Angka tersebut tidak menggambarkan HPD secara khusus, tetapi menunjukkan bahwa gangguan kepribadian merupakan persoalan kesehatan mental yang membutuhkan perhatian serius.

Hingga kini, Indonesia juga belum memiliki estimasi nasional HPD yang cukup representatif untuk menggambarkan prevalensinya secara pasti.

2. Delapan Karakteristik HPD dan Faktor yang Memengaruhi Perkembangannya

DSM-5-TR menjelaskan delapan karakteristik diagnostik yang dapat muncul pada individu dengan gangguan kepribadian histrionik.

Diagnosis mensyaratkan sedikitnya lima karakteristik dalam pola yang menetap, muncul dalam berbagai konteks, dimulai paling lambat pada masa dewasa awal, dan memenuhi ketentuan klinis lainnya.

Delapan karakteristik tersebut meliputi:

  1. Merasa tidak nyaman ketika dirinya bukan pusat perhatian.
  2. Menunjukkan perilaku menggoda atau provokatif secara seksual yang tidak sesuai dengan konteks interaksi.
  3. Memperlihatkan ekspresi emosi yang cepat berubah dan tampak dangkal.
  4. Terus-menerus menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian orang lain.
  5. Memiliki gaya berbicara impresionistik, tetapi kurang memberikan rincian konkret.
  6. Menunjukkan dramatisasi diri, teatrikalitas, dan ekspresi emosi berlebihan.
  7. Mudah terpengaruh oleh orang lain maupun keadaan lingkungan.
  8. Menganggap hubungan interpersonal lebih intim daripada kondisi yang sebenarnya.

Karakteristik tersebut tidak boleh menjadi alat untuk memberikan label sembarangan kepada orang lain. Psikiater atau psikolog klinis perlu mengevaluasi riwayat perkembangan, konteks budaya, kondisi psikologis lain, serta dampak perilaku terhadap fungsi kehidupan individu sebelum menetapkan diagnosis.

Salah satu persoalan yang menarik ialah kecenderungan sebagian individu dengan HPD untuk menggantungkan penilaian dirinya pada respons lingkungan.

Ketika orang lain memberikan perhatian, seseorang mungkin merasa lebih dihargai, tetapi ketika perhatian tersebut berkurang, ia dapat mengalami ketidaknyamanan dan berusaha memperolehnya kembali.

Mekanisme tersebut berkaitan dengan konsep external validation, yakni ketergantungan terhadap pengakuan eksternal dalam membangun atau mempertahankan harga diri.

Meski demikian, kebutuhan terhadap validasi sosial merupakan pengalaman manusia yang umum dan tidak dapat dijadikan dasar tunggal untuk menjelaskan HPD.

Lalu, mengapa gangguan kepribadian ini dapat berkembang?

Literatur psikologi dan psikiatri belum menemukan satu penyebab tunggal yang mampu menjelaskan seluruh kasus HPD. Pendekatan biopsikososial memandang perkembangan gangguan kepribadian sebagai hasil kemungkinan interaksi antara temperamen, pengalaman perkembangan, kondisi psikologis, dan lingkungan sosial.

Dari sisi biologis, setiap individu memiliki kecenderungan temperamen yang berbeda sejak masa kanak-kanak. Sebagian anak mungkin lebih ekspresif, sensitif terhadap respons sosial, atau memiliki reaktivitas emosional yang tinggi, tetapi karakteristik tersebut tidak otomatis berkembang menjadi gangguan kepribadian.

Pengalaman pengasuhan juga menjadi salah satu wilayah yang memperoleh perhatian dalam pembahasan perkembangan HPD. Seorang anak yang berulang kali mendapatkan perhatian terutama ketika menunjukkan ekspresi emosi yang sangat kuat, misalnya, mungkin mempelajari bahwa perilaku mencolok merupakan cara efektif untuk memperoleh respons lingkungan.

Namun, penjelasan tersebut masih merupakan hipotesis perkembangan, bukan hubungan sebab-akibat yang telah terbukti secara universal.

Tidak semua individu dengan HPD memiliki pengalaman pengasuhan yang sama, dan pola pengasuhan tertentu tidak otomatis menyebabkan gangguan kepribadian.

Faktor lingkungan sosial juga berpotensi memperkuat perilaku pencarian perhatian, terutama ketika masyarakat memberikan penghargaan besar terhadap popularitas, penampilan, dan pengakuan publik.

Akan tetapi, lingkungan yang memperkuat suatu perilaku tidak dapat langsung dianggap sebagai penyebab gangguan mental.

Persoalan gender turut menjadi bagian penting dalam penelitian HPD. Sejumlah penelitian klinis terdahulu menemukan diagnosis lebih banyak pada perempuan, tetapi penelitian populasi dengan pemeriksaan terstruktur menunjukkan bahwa prevalensi laki-laki dan perempuan dapat relatif serupa.

Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan bias dalam penilaian klinis. Norma sosial mengenai ekspresi emosi, seksualitas, penampilan, dan perilaku interpersonal dapat memengaruhi cara masyarakat maupun tenaga kesehatan menafsirkan karakteristik seseorang.

Karena itu, perempuan yang gemar berdandan, seseorang yang memiliki kepribadian ekstrover, atau individu yang ekspresif secara emosional tidak dapat langsung dianggap mengalami HPD.

3. Dampak HPD terhadap Hubungan Sosial, Pekerjaan, dan Kehidupan Digital

Gangguan kepribadian histrionik dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama ketika kebutuhan memperoleh perhatian mulai mengganggu kemampuan seseorang membangun hubungan interpersonal yang seimbang.

Persoalannya bukan terletak pada keinginan untuk memperoleh perhatian itu sendiri, melainkan pada pola perilaku menetap yang menimbulkan kesulitan nyata bagi individu.

Dalam hubungan romantis, misalnya, seseorang dengan HPD mungkin membutuhkan penegasan afeksi secara berulang atau merasa tidak nyaman ketika pasangannya memberikan perhatian kepada orang lain.

Sebagian individu juga dapat menafsirkan kedekatan sosial biasa sebagai hubungan yang jauh lebih intim daripada keadaan sebenarnya.

Situasi tersebut berpotensi memunculkan kesalahpahaman, konflik, kecemburuan, dan kekecewaan interpersonal. Namun, manifestasi HPD berbeda pada setiap individu sehingga tidak tepat menganggap seluruh orang dengan diagnosis ini memiliki pola hubungan yang sama.

Dalam lingkungan pekerjaan, karakter ekspresif dan kemampuan membangun interaksi sosial sebenarnya tidak selalu menjadi hambatan profesional.

Kesulitan dapat muncul ketika kebutuhan mendapatkan pengakuan mengganggu kemampuan menerima kritik, mempertahankan konsistensi pekerjaan, menghormati batas profesional, atau bekerja sama dengan orang lain.

HPD juga dapat muncul bersamaan dengan kondisi kesehatan mental lainnya. Merck Manual mengidentifikasi sejumlah komorbiditas yang relevan, termasuk gangguan depresi mayor, gangguan depresi persisten, gangguan gejala somatik, serta gangguan kepribadian lainnya.

Pada sebagian individu, persoalan emosional yang berat juga dapat disertai ancaman atau perilaku menyakiti diri. Kondisi tersebut harus memperoleh perhatian serius karena pernyataan mengenai keinginan bunuh diri tidak boleh langsung dianggap sebagai sandiwara atau sekadar usaha mencari perhatian.

Di luar persoalan klinis, perkembangan masyarakat digital menghadirkan dimensi baru dalam pembahasan mengenai kebutuhan terhadap pengakuan sosial.

Media sosial kini memungkinkan manusia mengukur perhatian melalui angka yang terlihat secara langsung, mulai dari jumlah pengikut, tanda suka, komentar, hingga tayangan.

Popularitas tidak lagi hanya menjadi pengalaman sosial, tetapi juga dapat berubah menjadi modal ekonomi melalui sistem monetisasi dan industri kreator konten.

Dalam lingkungan seperti ini, perhatian memiliki nilai yang semakin besar. Seseorang dapat memperoleh penghargaan sosial maupun keuntungan ekonomi ketika berhasil mempertahankan keterlibatan audiens melalui penampilan, cerita pribadi, ekspresi emosional, atau konten yang mengundang respons publik.

Perkembangan tersebut membuka pertanyaan ilmiah mengenai hubungan antara ekonomi perhatian dan kebutuhan validasi eksternal. Apakah sistem penghargaan digital dapat memperkuat kecenderungan seseorang untuk menggantungkan harga dirinya pada pengakuan orang lain?

Secara teoretis, mekanisme penguatan perilaku dapat membantu menjelaskan mengapa manusia cenderung mengulangi tindakan yang menghasilkan respons menyenangkan.

Namun, penelitian belum menyediakan bukti epidemiologis yang memadai untuk menyatakan bahwa media sosial secara langsung menyebabkan HPD atau bahwa kreator konten memiliki prevalensi gangguan ini lebih tinggi daripada populasi umum.

Perbedaan antara perilaku sosial dan gangguan klinis harus tetap menjadi perhatian utama. Aktivitas membuat konten, mengunggah swafoto, membagikan kehidupan pribadi, atau berusaha meningkatkan popularitas dapat merupakan strategi komunikasi, ekspresi diri, maupun aktivitas profesional yang sepenuhnya wajar.

Karena itu, istilah HPD tidak seharusnya berubah menjadi label populer untuk menyerang orang yang dianggap terlalu dramatis di media sosial. Penggunaan istilah psikologi tanpa dasar klinis justru berpotensi memperkuat stigma terhadap individu yang benar-benar membutuhkan pertolongan kesehatan mental.

4. Penanganan HPD dan Masa Depan Diagnosis Gangguan Kepribadian

Perkembangan ilmu psikiatri menunjukkan bahwa pemahaman mengenai HPD masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya berkaitan dengan pertanyaan apakah HPD perlu terus dipertahankan sebagai kategori diagnosis tersendiri atau lebih tepat dipahami melalui pendekatan dimensional.

Dalam pendekatan kategoris tradisional, seseorang dinilai memenuhi atau tidak memenuhi kriteria gangguan kepribadian tertentu. Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan karena dua individu dengan diagnosis yang sama dapat memperlihatkan kombinasi gejala, tingkat keparahan, dan gangguan fungsi yang sangat berbeda.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui ICD-11 kemudian mengembangkan pendekatan yang lebih menekankan tingkat keparahan gangguan kepribadian serta karakteristik kepribadian yang bermasalah.

Pendekatan tersebut tidak lagi mempertahankan HPD sebagai kategori diagnosis spesifik sebagaimana sistem klasifikasi terdahulu.

DSM-5-TR juga menyediakan Alternative Model for Personality Disorders (AMPD) sebagai model alternatif. HPD tetap tercantum dalam sistem diagnosis kategoris utama DSM-5-TR, tetapi tidak menjadi salah satu dari enam tipe spesifik yang dipertahankan dalam model alternatif tersebut.

Perubahan ini menunjukkan bahwa ilmu psikiatri terus mengevaluasi cara terbaik untuk memahami kompleksitas kepribadian manusia. Penelitian masa depan perlu memastikan apakah HPD memiliki karakteristik klinis yang cukup unik atau lebih tepat dipahami sebagai kombinasi berbagai sifat kepribadian maladaptif.

Dari sisi penanganan, psikoterapi masih menjadi pendekatan utama bagi individu dengan HPD. Namun, keterbatasan penelitian berkualitas tinggi membuat dunia klinis belum memiliki satu metode terapi yang terbukti paling efektif untuk seluruh individu dengan gangguan tersebut.

Psikiater Mark Zimmerman, melalui pembahasan klinis dalam Merck Manual, menekankan pentingnya mengenali pola emosi berlebihan dan pencarian perhatian yang meluas dalam kehidupan individu. Penanganan terutama mengandalkan psikoterapi dengan mempertimbangkan karakteristik serta kebutuhan masing-masing pasien.

Pendekatan psikodinamik dapat membantu individu memahami konflik psikologis, pola hubungan interpersonal, serta kebutuhan emosional yang mendasari perilakunya.

Melalui proses tersebut, seseorang dapat mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai cara dirinya membangun harga diri dan mencari pengakuan lingkungan.

Pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) juga dapat membantu individu mengevaluasi hubungan antara pikiran, emosi, dan perilaku.

Sebagai contoh, seseorang dapat belajar meninjau kembali keyakinan bahwa dirinya tidak berharga ketika orang lain tidak memberikan perhatian yang diharapkan.

Intervensi lain dapat diarahkan pada penguatan kemampuan regulasi emosi, komunikasi interpersonal, pengembangan batas hubungan yang sehat, dan kemampuan menghadapi penolakan sosial. Namun, efektivitas berbagai pendekatan tersebut secara khusus untuk HPD masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Hingga kini, belum tersedia obat yang secara khusus terbukti menyembuhkan HPD. Psikiater dapat mempertimbangkan penggunaan obat ketika individu juga mengalami kondisi penyerta, seperti depresi atau gangguan kecemasan, berdasarkan hasil pemeriksaan klinis.

Literatur NCBI StatPearls juga menyoroti keterbatasan penelitian HPD dibandingkan sejumlah gangguan kepribadian lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penelitian berskala lebih besar, pengukuran hasil terapi jangka panjang, serta pengembangan instrumen diagnosis yang mempertimbangkan perbedaan budaya dan gender.

Ke depan, penelitian mengenai HPD juga perlu memperhatikan perubahan lingkungan sosial manusia. Hubungan antara validasi eksternal, perkembangan identitas, pengalaman masa kecil, dan sistem penghargaan digital merupakan wilayah yang menarik untuk diteliti tanpa terburu-buru menyimpulkan hubungan sebab-akibat.

Bagi Indonesia, kebutuhan mendasarnya mencakup pengembangan penelitian epidemiologi yang representatif dan peningkatan literasi kesehatan mental masyarakat. Pengetahuan yang lebih baik dapat membantu masyarakat membedakan karakteristik kepribadian sehari-hari dari kondisi psikologis yang membutuhkan penanganan profesional.

Pada akhirnya, mengenal Histrionic Personality Disorder bukan berarti mempelajari cara memberikan label kepada orang yang gemar mencari perhatian.

Pemahaman ini justru mengajak masyarakat melihat bahwa kebutuhan manusia terhadap pengakuan dapat menjadi persoalan klinis ketika berkembang menjadi pola menetap yang mengganggu kehidupan.

Kisah Fatimah pada awal tulisan memperlihatkan bagaimana seseorang dapat menggantungkan penilaian dirinya pada perhatian lingkungan, meskipun ilustrasi tersebut sama sekali tidak cukup untuk menetapkan diagnosis HPD.

Tujuan penanganan gangguan kepribadian histrionik bukan menghilangkan ekspresi emosional seseorang, melainkan membantu individu membangun harga diri yang lebih stabil, mengelola emosi secara adaptif, serta mengembangkan hubungan interpersonal yang sehat.

Sebab, kesehatan psikologis tidak menuntut manusia berhenti membutuhkan perhatian orang lain, tetapi membantu seseorang memahami bahwa nilai dirinya tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak orang yang memperhatikannya.

Referensi: American Psychiatric Association, DSM-5-TR (2022); Merck Manual Professional, Histrionic Personality Disorder (pembaruan Januari 2026); NCBI StatPearls, Histrionic Personality Disorder; The Lancet Psychiatry (2025), penelitian epidemiologi global gangguan kepribadian; dan WHO, International Classification of Diseases 11th Revision (ICD-11).