Scroll untuk baca artikel
Ekonopedia

Mengenal Transaksi Berjalan [Bagian Dua]

Redaksi
×

Mengenal Transaksi Berjalan [Bagian Dua]

Sebarkan artikel ini

Pihak yang berpandangan kritis dapat mengartikan sebaliknya dari data defisit selama beberapa tahun terakhir. Kondisinya tidak layak disebut aman dan terkendali, melainkan mengisyaratkan tingkat ketahanan eksternal yang melemah. Ketahanan eksternal yang kuat seharusnya ditunjukkan oleh kecenderungan transaksi berjalan yang mengalami surplus.

Kecenderungan untuk surplus bukan berarti tidak pernah defisit. Sebagai bagian dari dinamika pasar dan siklus ekonomi dunia, tentu wajar saja jika sesekali mengalami defisit. Sesekali dimaksud adalah beberapa triwulan atau satu hingga dua tahun dalam kurun waktu satu dekade. Padahal, Indonesia telah mengalami defisit selama 9 tahun berturut-turut.

Penjelasan pokok dari pandangan yang kritis antara lain seharusnya surplus neraca yang menambah devisa itu terutama bersumber dari kesinambungan produksi. Bukan bersumber dari sesuatu yang menimbulkan kewajiban untuk dibayar di masa mendatang, seperti utang atau penanaman modal asing.

Dengan kata lain, terjaganya kecukupan devisa sebaiknya berasal dari sumber-sumber yang fundamental, yaitu karena produksi barang dan jasa. []