Konsep humanisme pendidikan, pembelajaran yang cukup efektif hal ini karena tujuan kurikulum secara nasional kurang terintegrasi secara maksimal.
MESKI bukan sebagai sebuah kendala teknis dalam proses pembelajaran peserta didik dengan cara daring atau online selama ini, tetapi perlu dipikirkan dampak dari sistem ini yang berjalan cukup lama. Interaksi sosial sesama peserta didik memang tidak dapat dilakukan secara optimal, karena keterbatasan ruang lingkup edukasi pendidikan yang masih harus sesuai dengan standar pendidikan di masa pandemi.
Pemerintah harus betul-betul memastikan, bahwa sebelum dilaksanakan sistem pembelajaran tatap muka secara menyeluruh, apakah kondisi kesehatan mental siswa siap untuk kembali belajar tatap muka? Sebagaimana kita ketahui, ada beberapa kondisi dalam masyarakat yang juga berimbas terhadap kemampuan siswa secara psikologis. Bagaimana keterbatasan lingkungan menjadi minimnya interaksi sosial para siswa.
Membangun skema pola desain edukasi pembelajaran di lingkungan sekolah (formal) dan di lingkungan rumah (non-formal), tentu tidak sekedar adanya pencapaian komunikasi guru dan siswa. Ini harus disadari, bahwa konsep pembelajaran jarak jauh sangat tidak boleh disepelekan peran orang tua murid yang begitu besar.
Permasalahan yang kurang dipikirkan adalah bagaimana konsep ini memiliki nilai ukur yang jelas. Jadi bukan hanya formalitas belaka, yang memperlihatkan bahwa proses belajar-mengajar berlangsung tanpa dampak psikologis.
Kita harus jujur, selama pembelajaran jarak jauh, peran seorang ibu sangat dominan dalam mendampingi putra-putrinya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.
Artinya, seorang ibu tidak memperhitungkan pengorbanan dirinya demi keberhasilan anak. Ini sudah menjadi sebuah naluriah seorang ibu. Dan jika kita tarik garis lurus, ini memunculkan betapa pentingnya peran kaum perempuan dalam mencapai tujuan pendidikan secara nasional.
Sangatlah penting, dalam rangka mewujudkan sistem pendidikan nasional tidak hanya semata-mata membangun konsep desain “merdeka belajar” sebagai solusi kurikulum nasional dalam sistem pembelajaran.
Tetapi membangun perspektif pendidikan harus didasari oleh nilai-nilai yang tidak terlepas dalam penggunaan peran literasi dan bahasa. Kita kadang terlena oleh istilah atau patron pendidikan, yang akhirnya sering hanya menjadi retorika tanpa hasil.
Pada masa silam, mungkin kaum perempuan terkungkung oleh kebebasan akibat egaliter (persamaan) kekuasaan yang begitu ortodoks (pandangan kolot). Persamaan hak dan kewajiban sebagaimana termaktub dalam UUD Tahun 1945, pasal 27 sampai pasal 34, yang merupakan implementasi bahwa kedudukan dalam pembangunan kerangka bangsa menjadi landasan kuat untuk memajukan pendidikan nasional. Tetapi bagaimana pentingnya peran ibu, sehingga penggunaan bahasa dasar disebut juga bahasa ibu.
Artinya, tanpa peran perempuan untuk mempersiapkan generasi penerus, akan menjadi timpang dan kurang terpadu. Konsep pendekatan keluarga dan humanisme (kemanusiaan), menjadi sistem edukasi pembelajaran yang cukup efektif.
Hanya saja kelemahannya, konsep tujuan kurikulum secara nasional kurang terintegrasi secara maksimal, dimana peserta didik juga membutuhkan sosialisasi lingkungan formal dengan pola tatap muka langsung.
Bagaimana peran perempuan yang begitu terbatas, menjadi penggerak yang setara dalam pendidikan maju, adalah momentum kebangkitan pendidikan di masa lampau.
Saat orang terperangkap dalam pemikiran dan budaya paternalistis (sistem kepemimpinan), seorang pejuang seperti Kartini hadir dan mengikis ego dan sentralitas kaum laki-laki. Ini mungkin dinamikanya sudah beda, dengan tantangan masa kini yang lebih kompleks, tetapi menjaga nilai-nilai bahasa ibu juga bisa dikatakan berbanding lurus dengan menjaga ekosistem budaya.
Dalam dimensi pendidikan abad ke-21, tantangan yang terberat adalah melepaskan diri dari kondisi global yang dihadapkan pada persoalan pandemi berkepanjangan.
Sementara laju perkembangan dan kemajuan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) begitu drastis dan memunculkan tantangan-tantangan baru. Ada sedikit riset, bahwa makin majunya dunia digitalisasi maka penguasaan literasi bahasa juga semakin sulit. Artinya, ini bukan hanya tantangan dunia pendidikan tetapi sudah menjadi tantangan bangsa.
Mengulik pemikiran yang lebih luas, pemikiran klasik dan ortodoksi pada masa pergerakan perjuangan kemerdekaan bangsa dan negara, adalah bentuk kontradiktif pendidikan dalam melepaskan ikatan kapitalis, yang nyata-nyata sangat merugikan bangsa dan negara.
Bagaimana pemikiran klasik yang membatasi entitas (wujud) pemikiran bersih adalah bentuk yang secara tidak tertulis, semata-mata untuk menguatkan otoriter politik penjajah.
Kalau kita meminjam istilah bijak, tentunya saat ini tidak ada lagi pemikiran “menjadi asing di negeri sendiri” bagi kaum perempuan, karena sudah terlepas dari fase penindasan klasik di masa lampau (penjajahan). Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi tantangan terkini yang harus dijawab demi menyelamatkan generasi bangsa di masa datang.
Ruang kontemplasi nalar dan pemikiran yang begitu kuat dan drastis saat ini melalui informasi berbasis teknologi, juga harus dipikirkan dan jika bisa menjangkau lapisan masyarakat terbawah, termasuk kaum perempuan. Ini agar informasi akurat dan benar menjadi sistem dan pola penguatan dalam mendidik keluarga. Salah satunya, untuk memberikan penguatan kaum perempuan dalam menangkal isu-isu radikalisme dan terorisme.
Tantangan dunia pendidikan yang makin keras di era globalisasi dan menuju ke arak abad ke-21, tentunya diperlukan pola desain sistem yang tidak hanya bergantung pada ketersediaan sarana dan prasarana.tetapi jauh lebih luas, pengkajian dan pendalaman teorema analitik yang memadukan potensi bangsa, yakni peran perempuan dan laki-laki (sumber daya manusia). Artinya, dinamika zaman, menjadi jalan masuk bagi seluruh komponen bangsa untuk menjawab permasalahannya.
Kini, tantangan terberat yang dihadapi dunia pendidikan adalah kemajuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka, kita berharap akan muncul generasi baru yang mampu menggagas solusi cerdas, di tengah pergeseran dan ketidakstabilan ekonomi akibat pandemi yang berkepanjangan. Salah satu cara yakni membuka akses informasi akurat bagi penguasaan nilai-nilai etika budaya, yang dimulai dari lingkungan keluarga.
