Scroll untuk baca artikel
Blog

Menggapai Kearifan di Negeri Atas Awan Wae Rebo, Manggarai

Redaksi
×

Menggapai Kearifan di Negeri Atas Awan Wae Rebo, Manggarai

Sebarkan artikel ini

BARISAN.COKeberadaan Desa Wae Rebo sudah terdengar hingga manca negara. Padahal desa adat itu berada di ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Menjangkaunya pun butuh usaha keras, mendaki gunung dan menuruni lembah dengan berjalan kaki sekitar 3 jam.

Sempatkan untuk merasakan pengalaman sensasional bermalam di Wae Rebo jika sedang berada di Pulau Flores, NTT. Paling dekat jika sudah berada di Ruteng sebagai pusat Pemerintahan Kabupaten Manggarai hanya butuh 2-3 jam perjalanan menuju Denge, desa terakhir sebelum pendakian.

Jika dari Labuan Bajo ibukota Kabupaten Manggarai Barat ataupun kota Borong sebagai pusat Kabupaten Manggarai Timur, butuh 5-6 jam perjalanan.

Sebelum memasuki Desa Denge, perjalanan akan menyusuri kawasan perbukitan, hamparan persawahan, dan pesisir di sisi selatan Pulau Flores. Salah satu spot menarik adalah Pulau Mules yang terkenal dengan keindahannya.

Jika punya cukup waktu sempatkan untuk menyeberang ke pulau yang bentuknya mirip gadis yang sedang tertidur itu. Oh ya, jika dari Labuan Bajo alternatif ke Denge bisa juga ditempuh dengan menyewa speed boat.

Aturlah perjalanan agar bisa sampai di Denge sebelum malam. Pendakian di siang hari, selain dapat menikmati keindahan panorama juga lebih aman karena jalur pendakian cukup sulit. Akan tetapi, jika terpaksa melakukan pendakian di waktu malam akan memberikan pengalaman yang tak kalah menantang.

Seperti hari ini, setelah menyelesaikan kegiatan di Borong, keinginan untuk mengunjungi desa adat yang mendunia itu tak tertahankan lagi. Segera meluncur, dan menjelang maghrib baru sampai di Denge.

Pak Martinus, pemilik penginapan di Denge menyarankan agar menunda pendakian sampai esok hari. Memperhitungkan waktu yang tersedia dan karena malam ini terjadi gerhana bulan total, tekad membulat untuk tetap mendaki Wae Rebo. Syaratnya, harus ada pemandu yang bersedia mendampingi pendakian.

Sesuai saran driver, mencoba peruntungan dengan meneruskan perjalanan sampai ujung desa. Tepat sekali saran itu. Di belakang, beberapa motor mengikuti sampai jembatan yang menjadi batas aksesibilitas mobil. Mereka adalah warga sekitar yang memang sudah terbiasa mengantar ke Wae Rebo. Negosiasi segera digelar. Satu orang bersedia memandu pendakian, dan untuk menghemat waktu, perjalanan ke Pos 1 yang menjadi gerbang pendakian ditempuh dengan menggunakan ojek.

Dokumentasi foto Arbain Nur Bawono.

Perjalanan sesungguhnya baru dimulai dari Pos 1 menuju Pos 2. Medan terjal langsung menghadang, menguji ketahanan stamina. Harus pintar-pintar mengatur ritme perjalanan dan pernapasan. Diselingi beberapa kali istirahat dan mengatur napas yang tersengal, pendakian bergegas dilanjutkan. Terlebih lagi awan hitam mengiringi pendakian, bayang-bayang hujan mengintai setiap saat.

Sayang, bulan purnama tak sekejap pun menampakkan sinarnya. Sepanjang jalur hanya kegelapan, menyusuri punggung gunung menembus kelebatan hutan. Senantiasa hati-hati dan waspada, selain licin, jalur yang hanya muat satu orang itu diapit tebing dan jurang di sisi-sisinya.

Ikuti selalu petunjuk pemandu untuk kelancaran pendakian. Oh ya, senter menjadi perlengkapan wajib untuk pendakian malam. Jika mendaki di musim hujan, siapkan juga jas hujan untuk berjaga-jaga. Satu hal lagi, gunakan sepatu atau alas kaki yang memang diperuntukkan untuk mendaki gunung karena medan yang cukup berat.

Dokumentasi foto Arbain Nur Bawono.

Setelah perjalanan sekitar 1 jam, sampailah di Pos 2. Tidak ada bangunan layaknya sebuah pos. Hanya bagian dari jalur pendakian yang ditandai dengan pagar besi sebagai pembatas di sisi jurang dan tebing di sisi lainnya. Dari ketinggian itu, dapat disaksikan kampung Denge terlihat dari lampu-lampu yang terpancar dari rumah penduduk. Tak disangka, justru di sini sinyal telepon dapat tertangkap.