Menjadi Istri, Ibu, dan Usahawati Rumahan

  • Whatsapp
Ilustrasi: dok Istimewa

Barisan.co – Jantu Sukmaningtyas adalah seorang istri, ibu dari ketiga anaknya, dan juga usahawati rumahan. Ia belajar memasak sejak pindah dan kos di Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan sekolah SMA. Setelah resign dari pekerjaannya pada 2017 lalu, selain menjadi ibu rumah tangga, Sukma rajin menulis serta bereksperimen lebih jauh dalam dunia masak-memasak.

“Saya bergabung di Cookpad sebagai author dan juga membentuk grup masak bersama teman-teman sesama author resep juga. Kami belajar otodidak dan selagi berbagi ilmu terkait resep-resep yang kami challenge-kan setiap minggunya melalui instagram. Semua sifatnya eksperimen. Jika pun gagal, biasanya kami akan mengulang kembali,” kata Sukma saat dihubungi oleh tim Barisan.co (17/12).

Bacaan Lainnya

Soal preferensi memasak, perempuan kelahiran tahun 1985 tersebut mengatakan tidak semua masakan yang ia masak menggunakan bahan penyedap.

“Tergantung. Ada beberapa masakan yang harus menggunakan penyedap rasa seperti pempek. Nah jika penyedap di hapus, maka rasanya tidak akan bisa enak. Namun, kalau untuk masakan lain, saya memang memilih memakai kaldu alami seperti kaldu jamur yang non-MSG,” tuturnya.

Permasalahan yang kerap terjadi di dunia digital adalah acap kali orang lain mengambil karya tanpa izin untuk kepentingan pribadi. Menanggapi hal tersebut, Sukma menyampaikan jika masih mencantumkan nama pemilik saat mem-publish ulang resep tidak masalah karena resep tersebut re-share oleh akun-akun instagram dunia masak.

“Namun jika mencomot untuk kepentingan jualan atau nyolong untuk kepentingan sendiri, dalam hal ini seperti mencomot foto resep dan menuliskan nama atas yang bersangkutan itu termasuk pelanggaran. Memang ini yang banyak dikeluhkan oleh author-author resep seperti saya. Biasanya kalau sudah begitu, kita akan japri yang bersangkutan untuk menghapus gambar yang dicomot. Jika memang tidak digubris maka mau tidak mau kita upload ke medsos. Nah sampai sini biasanya ada teman-teman sesama author ikut menegur. Yah intinya kena sanksi sosial,” ujar perempuan yang belum lama ini melahirkan anak ketiganya.

Menurut Sukma, di rumahnya, yang menjadi menu favorit adalah tekwan. Jika ada acara, menu tersebut menjadi suguhan utama. Selain itu, Sukma menambahkan tekwan memang menjadi salah satu menu yang ia jajakan di toko online milikmya yaitu Dapur Tekwan. Ia mengelola sendiri melalui marketplace di Shopee dan Tokopedia.

“Membagi waktu menjadi ibu rumah tangga, author, dan usaha susah-susah gampang. Terutama untuk saat ini karena ada bayi dan tidak menggunakan jasa ART. Jadi, untuk saat ini memang tidak terlalu banyak bereksperimen dulu. Tapi biasanya dalam 1 minggu ada 1-2 resep yang saya buat,” pungkas Sukma.

Sukma mengatakan selama sekolah dari rumah, kedua anaknya yang berumur 9 tahun dan 5 tahun sering membantunya untuk memomong anaknya yang ketiga. Ia menjelaskan jika ia tak melakukan hal yang ia lakukan saat ini sebagai perempuan jika tidak memiliki karya akan tenggelam dirinya sendiri sekadar dengan kegiatan rumah tangga saja.

Sukma pun tidak setuju dengan anggapan bahwa perempan harus bisa memasak.

“Memasak itu hobi bukan kewajiban. Kalau seorang perempuan tidak bisa memasak bukan berarti tidak berguna. Yang tidak berguna itu cuma pemalas. Kalau suami yang jago masak sementara perempuan ahli di bidang arsitek misalnya. Lalu, suami yang momong anak dan perempuan yang cari uang pun bagi saya tidak masalah. Yang menjadi masalah itu ya kaum-kaum patriarki itu,” tutup Sukma.

Pos terkait